Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 16 Juni 2026
Puluhan Warga Semana Datangi Kantor Kesbanglinmas
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Konflik kuburan di Banjar Semana, Ubud, Gianyar, kembali memanas . Lantaran kecewa dengan pengukuran lahan kuburan baru oleh Pemkab Gianyar, puluhan warga Semana mendatangi Kantor Kesbanglinmas Gianyar.
Konflik 'rebutan' lahan kuburan antara Banjar Semana, Demayu, Singakerta, Ubud dengan Banjar Ambengan, Sayan, Ubud hingga kini belum juga tuntas.
Solusi Pemerintah Gianyar untuk memberikan tanah seluas 5 are untuk pembuatan kuburan baru pun, tak digubris oleh warga.
Hal ini terlihat saat warga Semana sempat menghadang pengukuran tanah untuk kuburan dari Pemerintah Kabupaten Gianyar.
Selain wujud protes dengan menghadang pengukuran, warga ini juga mendatangi Kantor Kesbanglinmas Gianyar.
Secara bulat warga Semana, Demayu menolak pembuatan kuburan baru, apalagi pengukurannya dikatakan tanpa koordinasi.
Ya, kami sangat kecewa karena pengukuran tanah buat kuburan seluas 5 Are dilakukan secara diam-diam, bukan itu saja, warga Desa Adat Demayu secara bulat menolak kuburan baru, karena kuburan sekarang masih termasuk wilayah Demayu, Singakerta, “kata Kelian Dinas Semana, I Made Jelih.
Lebih jauh, sambung Jelih, pihaknya bersama tokoh masyarakat Demayu, bakal tetap konsisten untuk melakukan penolakan ini.Kami tetap bakal menuntut hak kami, ini sudah komitmen kami bersama, jelasnya.
Setelah melakukan protes dan menyampaikan aspirasinya kepada Plt Kepala Kesbanglinmas, Ida Bagus Ngurah Gde, puluhan warga yang mengendarai satu Truk, serta beberapa mobil serta sepeda motor ini secara tertib meninggalkan kantor.
Pada intinya aspirasi kami bakal disampaikan oleh Kepala Kesbanglinmas kepada Bupati, “ ucap Jelih.
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun