Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Mitan Langka, Masyarakat Menjerit
Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
mitanAkhir-akhir ini masyarakat Jembrana sedang dilanda kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah (mitan). Padahal, sebagian besar masyarakat Jembrana masih memanfaatkan kompor mitan untuk melakukan kegiatan masak-memasak. Kalaupun ada, harganya relatif membengkak. Akhirnya, masyarakat mengeluh dan memilih menggunakan kayu bakar.
Pantauan Beritabali.com di lapangan, Senin (23/3), harga mitan melambung dari harga pasaran. Kalau biasanya oleh pengecer dijual dengan harga perliternya Rp. 3.700 – Rp. 3.800 namun di tengah kelangkaan mitan harganya meroket hingga mencapai Rp. 4.000 perliternya. Kelangkaan mitan ini didominasi di tingkat pengecer.
“Sudah mahal, langka lagi,” terang Komala (43), salah satu ibu rumah tangga di Lingkungan Ketugtug, Loloan Timur, Jembrana, Senin (23/3). Lantaran kesulitan mendapatkan mitan, akhirnya Komala lebih memilih menggunakan kayu untuk bahan bakar dalam menunjang keperluan masak memasaknya “Saya mencari kayu-kayu bekas saja atau kayu sisa untuk masak,” terang Komala.
Kesulitan ini semakin bertambah manakala kompor dan tabung gas yang dijanjikan pemerintah melalui program pengalihan mitan ke gas, belum juga diterima oleh seluruh warga. Hingga saat ini masih banyak warga yang setia dengan menggunakan kompor mitan.
Mereka menilai, kompor mitan relatif lebih aman dari kejadian meledak dan juga harganya masih terjangkau. Selain itu, masyarakat sudah terlanjur terbiasa menggunakan kompor mitan.
Reporter: bbn/dey
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3783 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1724 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang