Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Cuaca Buruk, Nelayan Enggan Melaut

Rabu, 19 Januari 2011, 20:54 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali membuat nelayan di Jembrana enggan melaut. Merek memilih mengisi waktu senggangnya dengan memperbaiki peralatan menangkap ikan. Selain lantaran faktor cuaca, minimnya hasil tangkapan juga menjadi faktor lain bagi nelayan sehingga memilih memarkir perahunya.

“Akhir-akhir ini cuaca sering tidak menentu akibat hembusan angin dari Barat. Biasanya angin bertiup kencang mulai siang hingga malam hari,” ujar Sanuri, salah seorang nelayan tradisional yang ditemui, Rabu (19/1). Warga Desa Air Kuning, Jembrana ini menambahkan untuk mengisi waktu luangnya, dirinya lebih memilih memperbaiki jaring ikan yang sehari-hari digunakan untuk menangkap ikan.

“Daripada ketiban sial, lebih baik saya tidak melaut,” tandasnya. Hal senada juga diungkapkan Roni. Nelayan tradisional yang masih satu kampung dengan Sanuri ini memilih menambatkan perahunya di pinggir pantai. “Lebih baik tidak melaut daripada kena sial. Soalnya, cuaca sangat tidak menentu,” katanya yang saat ditemui, Rabu (19/1) sedang memperbaiki jaring ikannya. Menurut Roni, laut di sebelah selatan Bali ini sangat terkenal dengan gelombang tinggi dan angin kencang.

“Malahan akibat terjangan gelombang, banyak peralatan perahu kami yang rusak,” tandasnya. Roni mengaku sangat berharap agar cuaca segera membaik sehingga dirinya bersama nelayan lainnya bisa segera melaut karena nelayan merupakan satu-satunya mata pencaharian untuk menopang hidupnya beserta keluarganya.

Ketakutan melaut ini tidak hanya dialami oleh nelayan asal Air Kuning. Nelayan di Desa Pengambengan, Negara juga merasakan hal serupa. Sumardi, nelayan warga Dusun Ketapang Muara, Pengambengan, Negara ketika ditemui, Rabu (19/1) mengungkapkan dari pantai memang gelombang tampak tidak terlalu besar namun saat di tengah laut ketinggian gelombang di Selat Bali mencapai 4 meter yang sangat berbahaya bagi keselamatan nelayan.

“Daripada beresiko lebih baik istirahat dulu, gelombang masih sangat tinggi terutama saat masuk ke tengah bahkan mencapai lima meter,” tandasnya. Untuk menyambung hidup, imbuh Sumardi, kebanyakan nelayan mencari pekerjaan lain.

“Ada yang menjadi buruh bangunan atau bekerja serabutan. Biar dapur tetap ngebul,” ujarnya. Karena lama tidak melaut, perahu-perahu nelayan yang diparkir di tepi pantai dijadikan tempat bermain anak-anak. Mereka tampak asyik mandi di laut sambil sesekali melompat dari atas perahu nelayan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/dey



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami