Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Hutan Gunung Agung dan Petugas Jagawana

Jumat, 2 November 2012, 11:41 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Wakil Bupati Karangasem I Made Sukerana, mengusulkan agar ada petugas Jagawana di hutan Gunung Agung. Petugas Jagawana ini penting untuk mencegah terjadinya kebakaran di kawasan hutan Gunung Agung Bali.

"Selama ini yang ada hanya polisi hutan, itupun jumlahnya amat sedikit. Oleh karena itu perlu ada tambahan petugas Jagawana untuk ikut membantu menjaga kawasan hutan Gunung Agung," ujar Sukerana, di Denpasar belum lama ini.

Sukerana mengatakan, dengan konsep hutan rakyat, diperlukan setidaknya 25 hingga 30 orang petugas Jagawana. Mereka bisa disebar di beberapa lokasi, terutama di lokasi yang rawan kebakaran hutan. "Petugas Jagawana ini bisa digaji oleh desa adat, ya katakanlah satu orang digaji Rp 1 juta. Selain itu juga dibuatkan pos jaga dan bak air yang siaga penuh,"ujarnya.

Untuk mempekerjakan petugas jagawana ini, kata Sukerana, paling tidak dibutuhkan dana sekitar Rp 30 juta per bulannya. Jumlah ini tergolong murah dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk memadamkan api jika kebakaran terjadi di hutan Gunung Agung. "Untuk memadamkan api di hutan Gunung Agung, jika menggunakan pesawat terbang, perlu biaya sekitar Rp 3 milyar untuk biaya sewa pesawatnya. Jadi Rp 30 juta ini tergolong murah sekaligus untuk  memberdayakan masyarakat di sana,"ujarnya.

Petugas Jagawana di kawasan hutan Gunung Agung, kata Sukerana, bisa memantau kawasan hutan dan bisa mencegah adanya kebakaran hutan. Petugas Jagawana juga bisa melakukan pemantauan aktivitas warga di hutan Gunung Agung, seperti para pencari madu yang sering membawa obor ke dalam hutan.

"Kalau ada petugas Jagawana, mereka bisa memantau dan mencegah terjadinya kebakaran. Mereka bisa memantau lewat pesawat HT. Tidak seperti kejadian sekarang ini, tidak ada yang memantau dan akhirnya muncul kebakaran hutan. Masyarakat di sana belum semuanya memiliki kepedulian untuk ikut serta menjaga hutan Gunung Agung," ujarnya.

Hutan di Gunung Agung belum lama ini terbakar lebih dari satu kali. Kemarau panjang dan lahan yang terlalu kering, diduga menjadi penyebab kebakaran. Kebakaran di hutan Gunung Agung terjadi di beberapa titik seperti di lereng utara, di lereng timur, dan di lereng di tenggara. Api dengan cepat menjalar dan sudah dipadamkan. Terkait hal ini,  Made Sukerana menyatakan, kebakaran hutan di Gunung Agung bukan disebabkan oleh kelalaian manusia, namun lebih disebabkan oleh faktor alam. Kebakaran di hutan Gunung Agung, jelas Sukerana, terjadi di lima lokasi yakni di Batu Ringgit, Kedampal, Batu Dawa, Juntal, dan Pucang.

"Kebakaran di hutan Gunung Agung sulit dipadamkan, apalagi hanya mengandalkan warga dan Pemkab Karangasem saja. Seluruh kabupaten di Bali harusnya ikut membantu karena Gunung Agung ini milik seluruh warga Bali,"ujarnya. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/psk



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami