Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Kondisi Sakit, 2 Korban Lion Air Hingga Kini Masih Terlantar
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Dua orang korban pesawat Lion Air yang jatuh beberapa waktu lalu di laut barat landasan Bandara Ngurah Rai Bali hingga kini masih terkatung-katung nasibnya di Bali.
Akibat tidak diurus oleh pihak Lion Air, mereka terpaksa kini harus mencari kontrakan di sekitar Bandara Ngurah Rai.
Kedua korban Lion Air yaitu bernama Sukreny Wenno dan putrinya bernama Putri Sandra Dewi Wenno.
Sukreny menuturkan, ia berkomunikasi terakhir dengan pihak Lion Air terjadi pada tanggal 25 April 2013.
Atas kenyataan itulah, ia akhirnya memutuskan untuk mengontrak rumah di Jl Mandala Utama No 7 Tuban Kuta Bali hingga kondisinya pulih kembali.
Diantara para korban, Sukreny tergolong mengalami musibah yang paling berat. Pasalnya, kaki kirinya harus dioperasi dan hingga saat ini belum bisa berjalan sendiri dan harus menggunakan bantuan orang lain.
"Manajemen Lion kini tidak pernah lagi berhubungan dengan kami. Ditelp tidak diangkat, di-SMS juga tidak dibalas. Karena itulah kami keluar dari RS Kasih Ibu dan meminta perawatan di luar, karena kami tahu bahwa kami tidak bisa membiayai perawatan di RS Kasih Ibu Teuku Umar Denpasar. Kalau kami terus bertahan di rumah sakit, tidak ada kepastian siapa yang membayar biayanya," ujarnya ketika ditemui di kontrakannya di Kuta, Sabtu (27/4/2013).
Perempuan asal Medan ini juga mengaku bekas luka kaki kirinya hingga kini masih membengkak dan terjadi pembusukan di bagian bawah tungkai kaki kiri. Karena tidak memiliki biaya yang cukup, ia meminta pihak rumah sakit dan dokter yang merawat dirinya agar diperbolehkan di rawat jalan.
"Saya berharapkan Lion Air mau bertanggungjawab dan menanggung biaya pengobatan dan biaya lainnya yang ditimbulkan akibat kecelakaan itu," imbuhnya.
Sukreny mengakui jika belakangan ini ia tidak pernah diurus oleh Lion Air dan membiarkan dirinya yang dalam keadaan sakit terkatung-katung mencari kontrakan sendiri.
"Janji Lion Air yang ingin membayar kontrakan tidak kunjung datang. Katanya mereka hanya mampu membayar kamar Rp 1 juta perbulan. Kemudian kita negosiasi mungkin terlalu mahal diturunkan menjadi Rp 600 ribu perbulan. Itu pun kamar kosong dan kita harus belanja sendiri perlengkapan. Hasilnya sama saja, tidak bisa dipenuhi juga," ucapnya kesal.
Sukreny dan putrinya awalnya datang ke Bali dengan Lion Air hanya untuk jalan-jalan. Namun apes, Lion Air mengalami musibah dan jatuh di perairan sekitar Bandara Ngurah Rai. Ia berterus terang jika Lion Air lepas tangan dan dirinya hanya diberi uang tunai sebesar Rp 10 juta dalam amplop.
"Saat petugas memberikan uang tersebut, kami dipaksa untuk menerima dulu. Dalam amplop tersebut sama sekali tidak ada rincian apa-apa sehubungan dengan uang sebanyak Rp 10 juta tersebut.
Setelah itu Lion Air tidak memberikan informasi apa pun. Lion Air menjelaskan kepada saya, jika urusan selanjutnya harus melalui pengacara masing-masing," tutupnya. (Dws)
Reporter: -
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3823 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1767 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang