Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Jadi WN Bulgaria Karena Paspor Dicabut Suharto

I Gusti Ketut Putra

Minggu, 4 Agustus 2013, 00:00 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DUNIA.

Beritabali.com, Sofia. Seorang semeton asal Bali, I Gusti Ketut Putra, tinggal puluhan tahun di Sofia Bulgaria dan sudah menjadi warga negara tersebut selama puluhan tahun. Bagaimana kisahnya? Berikut penuturan pria asal Gerenceng Denpasar ini kepada  beritabali.com.

Saat ditemui di Kota Plovdiv Bulgaria, Sabtu (4/8/2013), Gusti Ketut Putra mengenakan kaos putih kasual dan topi putih. Kesan sederhana langsung melekat pada sosok Putra. Bahasa Indonesia dan bahasa Balinya juga masih sangat lancar, meski sudah bermukim puluhan tahun di negara Balkan tersebut.

Putra bertutur, ia menamatkan pendidikan tingkat SMA tahun 1958 di SLUA Saraswati Denpasar. Tamat SMA, pria kelahiran Denpasar 9 Juli 1939 ini langsung merantau ke Jakarta tahun 1959. Di Jakarta, Putra lolos masuk sekolah kursus komersial di perusahaan penerbangan Garuda Indonesia Airways (GIA).

"Setelah ikut pendidikan, saya kemudian diangkat menjadi pegawai pasasi luar negeri Garuda Indonesia Airways dan bertugas mulai tahun 1960,"ujarnya.

Setelah bertugas di Jakarta selama 3 tahun, tahun 1963 Putra mendapat tugas belajar ke Bulgaria. Program belajar ke negeri Bulgaria ini merupakan penugasan langsung dari Presiden waktu itu, SUkarno.

"Saya mendapat ikatan dinas belajar ke Bulgaria oleh Presiden Sukarno, untuk belajar hubungan ekonomi internasional atau perdagangan luar negeri. Saya tiba di Bulgaria tahun 1963, teman satu angkatan saya waktu itu adalah Muhamad Suparno, mantan Dirut Garuda, dia kawan satu indekos saya dulu,"kenangnya.
Saat menjalani tugas belajar di Bulgaria, di Indonesia kemudia meletus peristiwa G 30 S PKI tahun 1965. Merespon gejolak politik di tanah air, Putra mengambil sikap tegas, yakni pro Presiden Sukarno.  

"Waktu itu, saya mengambil posisi tidak ikut pemerintah Suharto karena dia telah menggulingkan Presiden Sukarno dengan senjata dan dengan jumlah korban jiwa yang luar biasa tanpa ada penegakan  hukum. Saya hanya ingin keadilan dan kebenaran serta kemanusiaan ditegakkan," ujar pemegang gelar Phd atau Doktor di bidang ekonomi ini.

Karena sikap politiknya tersebut, Putra harus menerima konsekwensi yang berat, yakni tidak bisa pulang ke tanah air. Oleh rezim Suharto, paspor Putra dicabut, sehingga otomatis dia tidak memiliki identitas di negeri orang dan juga tidak bisa kembali ke tanah air.

"Waktu itu mahasiwa di sini (Bulgaria) terpecah dua, ada yang pro Sukarno, ada yang pro Suharto. Ada yang pro kedutaan, ada yang anti kedutaan Indonesia. Yang pro Suharto, aman dan bisa pulang ke Tanah Air. Sementara saya tidak bisa pulang karena paspor dicabut,"jelasnya.

Setelah paspor dicabut, Putra berjuang agar bisa bertahan hidup di negeri orang. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Sofia University dan belajar international economic relations. Putra kemudian menikahi gadis setempat Ani Stoikova dan kemudian menjadi warga negara Bulgaria.

"Saya menjadi warga Bulgaria bukan karena saya benci Indonesia, tapi karena paspor saya dicabut oleh (rezim) Suharto, dengan menjadi warga Bulgaria, saya kembali memilik paspor dan identitas diri lainnya," ujar kakek 4 cucu ini.

Putra kuliah untuk jenjang S 1 selama 4 tahun dan kemudian dilanjutkan ke jenjang strata 2 dan strata 3 (doktoral).

"Tamat kuliah saya tidak bisa pulang, paspor dicabut tanpa alasan hukum, paspor dicabut hanya karena berbeda pendapat,"ujarnya.

Setamat kuliah dan menjadi warga negara Bulgaria, Putra kemudian bekerja perusahaan negara Bulgaria yang pada jaman tersebut masih merupakan negara komunis. Ia bekerja di dinas perdagangan luar  negeri sampai pensiun di tahun 1995.

Sesudah Suharto lengser dari jabatannya, Putra sudah 3 kali pulang ke Bali.

"Mantan direktur Garuda, temen satu angkatan saya itu pernah undang saya dan keluarga ke Indonesia, semuanya ditanggung, itu benar-benar persahabatan sejati. Terakhir saya pulang tahun 2008,"ujarnya.

Di usia senjanya, Putra kini tinggal tenang di Kota Sofia, kota pengetahuan tentang kebijaksanaan. Putra dikaruniai dua orang anak dan 4 orang cucu,

"Di usia senja, saya terkadang masih bermimpi untuk pulang ke tanah air, tapi dengan usia tua seperti ini, biarlah saya mati di Bulgaria, biarlah anak dan cucu saya yang melanjutkan cintanya kepada tanah asal di Bali Indonesia. Meski cinta Indonesia, tidak memungkinkan bagi saya untuk pulang di usia tua,"pungkasnya. (dev)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami