Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Jakarta Menggertak, Canberra Melunak
jakarta
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Gertakan dari Jakarta dalam kasus penyadapan sejumlah petinggi Indonesia termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh Australia membuat Perdana Menteri Tony Abbott melunak.
Melunaknya sikap Abbott mulai ditunjukkan setelah Presiden SBY Rabu (21/11/2013) menyampaikan sikapnya secara resmi, dan menyinggung mengenai kuatnya hubungan di antara Indonesia dan Australia. Presiden SBY secara dramatis menaikkan tensi tekanan terhadap Negeri Kanguru dengan memerintahkan penghentian latihan bersama dengan Tentara Australia di Darwin.
Presiden SBY menuntut tiga hal dari Negeri Kanguru, yaitu adanya penjelasan resmi dan tanggung jawab Australia terhadap isu penyadapan ini serta peninjauan di beberapa area kerjasama. Presiden SBY juga meminta kepada rakyat Indonesia baik itu karyawan, diplomat atau mahasiswa agar tetap tenang dalam menghadapi isu penyadapan ini. Dia mengaku Pemerintah Indonesia harus mengatasi permasalahan ini secara rasional.
Ditambah gempuran media, sikap Perdana Menteri Australia Tony Abbott melunak juga. Di hadapan sidang Parlemen kemarin, Abbott menyatakan penyesalannya atas rasa malu yang dihadapi Presiden SBY gara-gara pemberitaan media soal aksi spionase Badan Intelijen Australia (DSD).
Harian Sydney Morning Herald (SMH), melansir Abbott berjanji akan segera menyelesaikan isu penyadapan ini. Abbott kembali menyampaikan komitmennya untuk terus menjaga hubungan erat dengan Indonesia, karena hal itu demi kepentingan kedua negara.
Pengamat hubungan internasional Universitas Diponegoro Semarang Dr. Rr. Hermini menyarankan, pemerintah saat ini perlu menguatkan teknologi untuk mencegah terjadinya insiden penyadapan serupa terulang kembali, daripada "persona non grata". Ia mengingatkan pemerintah RI untuk tidak gegabah menyikapi soal penyadapan oleh negara lain.
Dengan melunaknya Canberra dan sikap rasional Jakarta, hanya soal waktu, isu penyadapan ini akan berlalu. Gertakan Jakarta itu sebagai koreksi atas arogansi Abott dan Australia.
Bagaimanapun, RI adalah negara terbesar di Asia Tenggara dan menjadi jangkar stabilitas di Asia. Australia harus bercermin diri dan melihat punggungnya sendiri agar tidak lagi menonjolkan arogansi. Canberra harus sadar bahwa di Jakarta masih berlaku pepatah Betawi, ‘lu jual, ane beli’. [bbn/inilah.com/berbagai sumber]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3878 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1361 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 928 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 852 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 721 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun