Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 5 Mei 2026
Museum Keramik Tanteri di Pejaten Dibuka Secara Resmi
Minggu, 24 Mei 2015,
21:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, TABANAN.
Setelah empat tahun didirikan secara bertahap, Museum Seni Keramik Tanteri yang berlokasi di Desa Pejaten, Kediri, akhirnya dibuka secara resmi. Acara grand opening museum ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya pada Sabtu (23/5). Dengan telah diresmikan, museum ini diharapkan mampu berkembang menjadi satu tempat rujukan bagi industri keramik yang berkembang di Bali maupun Indonesia.
“Saya berharap berdirinya museum ini bisa menjadi wahana pembelajaran sekaligus tolak ukur kesenian keramik. Bukan hanya yang berkembang di Bali, tapi Indonesia juga,” ujar Wakil Bupati Sanjaya kepada para undangan mulai dari unsur Muspika hingga beberapa tokoh puri di Tabanan, serta tokoh masyarakat lainnya yang hadir di acara peresmian tersebut.
Menurutnya, sudah sejak lama dirinya mengetahui bahwa I Putu Oka Mahendra selaku pemilik punya obsesi membangun sebuah museum yang khusus men-display berbagai model keramik. Karena kebetulan, Oka Mahendra merupakan sejawatnya saat masih tercatat sebagai anggota DPRD Kabupaten Tabanan pada periode 2009-2014.
“Jadi saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada beliau,” imbuhnya seraya berharap kehadiran museum yang dimiliki rekannya tersebuh bisa menjadi alternatif bagi para wisatawan untuk singgah ke Desa Pejaten.
Sementara itu, Oka Mahendra menuturkan, keinginan pendirian museum tersebut sejatnya sudah ada semasa ayahnya masih menjabat sebagai perbekel atau kepala desa antara tahun 80-an sampai 90-an. Itu sebabnya, museum itu diberi nama sesuai nama ayahnya, Tanteri. “Meski idenya sudah lama, pendirian museum ini baru bisa direalisasikan pada 2011 lalu secara bertahap,” ungkapnya.
Lebih jauh dia menceritakan, keramik, gerabah, atau kerajinan apapun yang berbahan baku tanah liat memang begitu identik dengan Desa Pejaten. Sebab kerajinan inilah yang telah menopang kehidupan masyarakat setempat sejak masa lalu. “Dulu sekitar tahun 70-an, desa ini merupakan tempat yang tandus. Lahan pertanian yang tersedia tidak memadai. Kerajinan gerabahlah yang membantu menopang hidup masyarakat di sini,” tuturnya.
Pada masa itu, gerabah hasil buatan masyarakat setempat ditukar dengan beras atau sandang lainnya. Sehingga boleh dibilang gerabah merupakan satu-satunya alat tukar atau barter yang mampu dimiliki masyarakat setempat untuk menyambung hidupnya.
Pada dekade berikutnya, sekitar tahun 1985, industri keramik dan gerabah di desa ini semakin berkembang. Ini seiring dengan diperkenalkannya teknik pemanasan dengan temperatur tinggi oleh seorang tamu Belanda yang singgah di desa tersebut. Dengan teknik ini, keramik dan gerabah yang dihasilkan jauh lebih bermutu. “Sejak saat itulah kerajinan keramik dan gerabah di desa ini berkembang pesat,” imbuhnya.
Terkait dengan museumnya, para tamu yang datang nantinya tidak hanya bisa melihat-lihat berbagai keramik hasil produksi desa setempat yang dipajang. Namun tamu juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan keramik mulai dari tahap pengolahan bahan baku berupa tanah liat, pembuatan, hingga proses akhir serta finishing.
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 405 Kali
02
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 355 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 350 Kali
04
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026