Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 28 April 2026
Donald Trump Cerca China di Twitter
Setelah Dekati Taiwan
Rabu, 7 Desember 2016,
09:00 WITA
Follow
Donald Trump, menulis serangkaian kicauan di jejaring sosial Twitter yang mencerca China. [source: ist]
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com - New York. Presiden terpilih AS, Donald Trump, menulis serangkaian kicauan di jejaring sosial Twitter yang mencerca China terkait kebijakan moneter dan operasi mereka di Laut Cina Selatan.
"Apakah China bertanya pada kita, apakah oke kalau mereka mendevaluasi mata uang mereka" dan "membangun kompleks militer besar-besaran di tengah-tengah kawasan Laut Cina Selatan? Saya kita tidak!" demikian kicauan Trump.
Pekan lalu, Trump mempertaruhkan hubungan diplomatik dengan China saat berbicara langsung dengan Presiden Taiwan. Langkah yang sangat tidak biasa ini membuat China mengajukan protes keras kepada AS.
Sebelumnya dalam berbagai kesempatan, AS mengecam langkah China mendevaluasi mata uang Yuan, dengan mengatakan hal itu menguntungkan eksportir China secara tidak adil.
AS juga menyerukan Beijing untuk menghentikan reklamasi tanah di sekitar pulau-pulau dan karang yang diklaim oleh beberapa negara di Laut Cina Selatan, dan telah mengirimkan kapal Angkatan Laut AS ke kawasan itu. Kedua belah pihak telah saling menuduh telah memiliterisasi wilayah tersebut.
Meski demikian, Cina selalu berdalih bahwa reklamasi lahan dilakukan untuk tujuan sipil.
Saat ini, AS menerapkan tarif pada beberapa produk impor China, seperti untuk baja dan karet. Trump pun pernah mengancam untuk memberlakukan tarif 45% terhadap barang-barang China.
Mengutip BBC, percakapan Trump dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen itu adalah yang pertama kalinya bagi seorang pemimpin AS --atau yang akan menjadi pemimpin AS-- berbicara dengan pemimpin Taiwan sejak tahun 1979, saat ikatan formal diputus.
Gedung Putih mengatakan percakapan telepon itu tidak menandakan pergeseran pada kebijakan 'Satu China' yang sudah diterapkan sejak berdasawarsa lalu, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari China.
Wakil Presiden terpilih AS, Mike Pence, berusaha mengesankan tak pentingnya percakapan telepon itu.
Dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Ia mengatakan itu adalah 'badai dalam sebuah teko' seraya menambahkan, "Saya pikir saya hanya akan mengatakan kepada rekan-rekan kami di China bahwa ini merupakan periode tegur sopan kehormatan." [bbn/rls/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3788 Kali
02
03
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1731 Kali
04
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026