Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 15 Oktober 2026
Upacara Ngurit, Ritual Memohon Anugerah dan Perlindungan Kepada Dewa Surya
Ritual Pertanian Masyarakat Bali (4)
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Upacara ngurit menjadi salah satu bagian ritual yang dilakukan oleh para petani atau karma subak di Bali. Ngurit secara simbolik memiliki makna permohonan anugerah dan perlindungan kepada Dewa Surya (Matahari) dan Ibu Pertiwi (tanah) karena petani akan mulai menanam benih. Mohon perlindungan agar benih-benih yang akan ditanam dapat tumbuh dengan baik di atas tanah sebagai ciptaan Tuhan.
[pilihan-redaksi]
Peneliti dari Universitas Airlangga Ni Wayan Sartini dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Makna simbolik bahasa ritual pertanian masyarakat Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Bali Volume 07, Nomor 02, tahun 2017 menuliskan bahwa Ngurit atau disebut juga mawinih adalah upacara untuk penyemaian benih.
Dalam proses ngurit ini petani melaksanakan ritual dengan sarana banten atau sesajen yang terdiri atas nasi kojongan, bunga pucuk bang, segehan putih kuning, yang diletakkan di hulu sawah (pengalapan).
Sesaji atau banten tersebut merupakan bagian terkecil dari ritual yang menyimpan sesuatu makna dari tingkah laku atau kegiatan dalam ritual yang bersifat khas dan mengandung makna simbolik bagi petani. Sesajen tersebut dihaturkan kepada Hyang Ibu Pertiwi yang disertai dengan doa harapan sebagai berikut ;
[pilihan-redaksi2]
“Ratu betara Surya, Ratu betara Hyang Pertiwi,tiang nyebar bibit, mangda ten kaon, labda karya bibit. Ong Hyang Ibu Pertiwi, ngulun aminta nugraha, taneman ingulun hempunen sida mahurip waras, Ong Sri, Sri, yanamah swaha”
Sartini dalam ulasannya menyebutkan bahwa masyarakat petani Bali adalah masyarakat yang religius yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa sehingga apa pun yang dilakukan selalu ingat dan mohon anugrah-Nya.
Hal ini termasuk dalam salah satu konsep Tri Hita Karana yaitu tiga hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. [bbn/Jurnal Kajian Bali/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4381 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2049 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1921 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1578 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1417 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan