Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 15 Mei 2026
Tradisi Pindapata Warnai Sambutan Waisak di Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sebanyak delapan bhikku dari Vihara Buddha Sakyamuni menggelar tradisi Pindapata di Jalan Gunung Agung, Denpasar, Kamis (14/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Tri Suci Waisak 2570 yang jatuh pada 31 Mei 2026.
Dalam prosesi tersebut, umat memberikan sedekah kepada para bhikku sebagai bentuk kebajikan dan dukungan spiritual. Para bhikku menempuh perjalanan sepanjang 2,1 kilometer dari depan Circle K Gunung Agung menuju vihara dengan durasi perjalanan sekitar dua jam.
Prosesi dimulai sejak pukul 06.00 Wita. Antusiasme masyarakat terlihat di sepanjang jalan yang dilalui para bhikku. Warga membawa berbagai makanan dan minuman untuk didermakan dalam kegiatan tahunan tersebut.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya diikuti umat Buddha, tetapi juga mendapat dukungan masyarakat lintas agama. Salah satunya datang dari Sri Nur Wahyuni, mahasiswa asal Bandung, Jawa Barat, yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
"Baginya, berbagi bukan hanya kewajiban satu umat saja, melainkan semua umat beda agama. Semua umat wajib untuk berbagi dengan tulus iklas dari hati, tidak harus kepada sesama agamanya saja," ujarnya.
Warga sekitar mengaku rutin mengikuti tradisi Pindapata sejak berdirinya Vihara Buddha Sakyamuni di kawasan tersebut. Pengurus Yayasan Vihara Buddha Sakyamuni, Pandita Sudiarta Indrajaya, mengatakan kegiatan ini dilaksanakan serentak di berbagai daerah di Indonesia.
"Tujuannya memberikan ruang kepada masyarakat seluas-luasnya untuk menanam kebaikan. Ini adalah hal yang dilakukan bhikku di zaman Budha menjalani kehidupan sebagai pertapa," paparnya.
Ia menjelaskan, hasil dari Pindapata nantinya digunakan untuk membantu kebutuhan para bhikku dan sisanya disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain tradisi Pindapata, rangkaian kegiatan Waisak di vihara tersebut juga diisi dengan pendalaman dhamma selama sebulan, puja bhakti setiap malam, puasa saat Purnama dan Tilem, workshop hingga kegiatan patidana.
Salah satu bhikku yang mengikuti tradisi tersebut, Bhikku Pabhajayo, menjelaskan bahwa Pindapata sejatinya merupakan bagian dari cara hidup para bhikku sejak zaman Buddha.
Menurutnya, kehidupan para biarawan memang disokong oleh umat melalui pemberian derma kebutuhan sehari-hari, terutama makanan. Tradisi itu bahkan telah berlangsung sejak masa Buddha Gautama.
Pindapata sendiri merupakan aktivitas penerimaan derma makanan dari umat yang biasanya dilakukan pada pagi hari. Para bhikku umumnya makan satu hingga dua kali sehari dan tidak melewati pukul 12.00 siang.
"Jadi di masa lalu Pindapata ini menjadi satu kebiasaan cara hidup bhikku dan saat ini beda dimana umat tak semua sebagai penyokong dan berkeyakinan kepada para Bhikkhu," Tuturnya.
Ia menambahkan, kondisi masyarakat modern yang tidak seluruhnya tinggal di lingkungan Buddhis membuat tradisi Pindapata kini lebih sering dilakukan pada momen tertentu, seperti Hari Raya Waisak.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan tradisi Pindapata kepada masyarakat luas sekaligus mempererat sinergi antara umat dan para bhikku melalui kegiatan yang dilakukan di ruang publik.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1317 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1012 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 851 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 759 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik