Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Brata Saraswati, Sebuah Pantangan Membaca dan Menulis Selama 24 Jam
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Hari Saraswati atau disebut juga Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Umanis wuku Watugunung sering dikaitkan dengan adanya larangan untuk membaca dan menulis selama satu hari (24 jam). Larangan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan Brata Saraswati.
Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Motivasi Belajar dan “Beasiswa Dewi Saraswati di Tengah Perayaan Hari Saraswati” yang ditulis oleh Ketut Sumadi dari Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar dan dipublikasikan pada Jurnal Guna Widya, Volume 3, No.1, tahun 2011.
Ketut Sumadi menuliskan sebelum pemujaan Saraswati dilaksanakan dan sebelum lewat tengah hari tidak boleh membaca atau menulis mantra dan kesusastraan.
Bagi orang yang melaksanakan brata saraswati secara penuh dengan melakukan meditasi, yoga, samadhi, tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.
Dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan agar senantiasa dilandasai dengan hati yang jernih, penuh rasa bhakti kehadapan Sang Hyang Saraswati termasuk merawat perpustakaan yang dimiliki.
Pada hari Saraswati semua buku, lontar, atau pustaka suci lainnya diberi persembahan banten saraswati, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan memuja Dewi Saraswati, manifestasi Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara ilmu pengetahuan.
Pemujaan dan semua yang berhubungan dengan brata saraswati (hal-hal penting) dilaksanakan pada pagi hari atau saat matahari masih di ufuk timur atau jangan sampai lewat tengah hari. Kalau lewat tengah hari, maka yang dipuja hanya huruf semata-mata bukan kekuatan Sang Hyang Aji Saraswati.
Pemerhati Budaya Bali Made Nurbawa mengungkapkan secara logika pada Hari Saraswati pengetahuan baru diturunkan oleh Sang Pencipta. Jadi belum ada yang bisa dipelajari dan turunnya ilmu pengetahuan terjadi secara bertahap sesuai dengan gerak ruang dan waktu.
“Saat Saraswati pengetahuan baru diturunkan oleh sang pencipta, jadi belum ada yang bisa dipelajari. Makna buku dan lontar harus dimaknai sebagai sumber pengetahuan, bukan fisiknya. Membaca lontar harus dipandang sebagai membaca pengetahuan,” ujar pria satu putri tersebut saat dikonfirmasi melalui telepon pada Jumat (12/10).
Mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali ini mengingatkan bahwa hidup di Bali sudah berdasarkan kurikulum dewata yang tahapanya sesuai alur rerahinan, dimana pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan manusia dan alam.
Jadi harus ada hubungan yang selaras Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Posisi pengetahuan yang harus dipelajari harus pula disesuaikan dengan usia manusia yang selama ini dibedakan menjadi Catur Asrama. [bbn/ Guna Widya/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5852 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2570 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2213 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan