Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 4 November 2026
Minuman Kaleng Kurang Pantas Dalam Banten Pajegan
Rabu, 26 Desember 2018,
06:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Penggunaan minuman kaleng sebagai bagian dari penyusun banten Pajegan dinilai tidak pantas, karena minuman kaleng tidak termasuk dalam makanan atau minuman Satwika.
[pilihan-redaksi]
Satwika adalah makanan atau minuman yang yang nantinya memberikan dampak positif terhadap jiwa dan raga manusia. Dalam sebuah artikel berjudul "Kritik Sosial Dalam Meme Bahasa Bali” yang merupakan salah satu proseding dari International Seminar Prasasti III : Current Research in Linguistics" tahun 2016 disebutkan jika dalam pembuatan pajegan atau gebogan tidak hanya menonjolkan nilai estetik semata, namun juga fungsi dari sarana-sarana yang terdapat dalam pajegan itu sendiri.
Satwika adalah makanan atau minuman yang yang nantinya memberikan dampak positif terhadap jiwa dan raga manusia. Dalam sebuah artikel berjudul "Kritik Sosial Dalam Meme Bahasa Bali” yang merupakan salah satu proseding dari International Seminar Prasasti III : Current Research in Linguistics" tahun 2016 disebutkan jika dalam pembuatan pajegan atau gebogan tidak hanya menonjolkan nilai estetik semata, namun juga fungsi dari sarana-sarana yang terdapat dalam pajegan itu sendiri.
Setiap komponen-komponen yang ada dalam gebogan mempunyai maknanya masing-masing. Penggunaan komponen dalam gebogan juga tidak boleh sembarangan. Semuanya sudah diatur dalam kitab suci. Termasuk di dalamnya adalah jenis makanan yang dipakai haruslah makanan yang satwika. Apabila dilihat dari segi kesehatan minuman ringan juga tidak baik untuk kesehatan karena mengandung pemanis buatan dan pengawet. Salah satu dampak yang sering muncul dari minuman ini adalah membuat perut menjadi kembung sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada salah satu anggota tubuh.
Penulis artikel tersebut Ni Luh Kade Yuliani Giri menuliskan walaupun sebenarnya Betara itu bukanlah manusia yang bisa merasakan sakit perut dan lain sebagainya, hendaknya makanan yang dipakai dalam gebogan harus mempertimbangkan dampaknya bagi tubuh. Mungkin pada tempat dan kesempatan lain, seperti pada saat pesta misalnya, minuman ringan (minuman bersoda) bisa saja disajikan.
[pilihan-redaksi2]
Dalam frase gebogan modern mengisyaratkan bahwa modernisasi tidak bisa diterapkan dalam semua lini kehidupan manusia. Seperti halnya dalam komponen pembuatan gebogan. Minuman kaleng merupakan salah satu bentuk modernisasi dalam bidang pangan. Tetapi minuman jenis ini bukanlah tergolong sebagai makanan (minuman) satwika. Gebogan atau sering juga disebut sebagai pajegan di dalam konsep agama Hindu merupakan salah satu bentuk Yadnya.
Dalam frase gebogan modern mengisyaratkan bahwa modernisasi tidak bisa diterapkan dalam semua lini kehidupan manusia. Seperti halnya dalam komponen pembuatan gebogan. Minuman kaleng merupakan salah satu bentuk modernisasi dalam bidang pangan. Tetapi minuman jenis ini bukanlah tergolong sebagai makanan (minuman) satwika. Gebogan atau sering juga disebut sebagai pajegan di dalam konsep agama Hindu merupakan salah satu bentuk Yadnya.
Yadnya berasal dari bahasa sansekerta yang berarti persembahan yang tulus ikhlas. Gebogan pada umumnya terdiri dari buah, jajan, canang, dan beberapa unsur pelengkap lainnya. Dalam pembuatan gebogan tidak hanya menonjolkan nilai estetik semata, namun juga fungsi dari sarana-sarana yang terdapat dalam gebogan itu sendiri. (bbn/mul/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
01
02
03
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 567 Kali
04
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 443 Kali
05
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 431 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026