Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
KPPAD Bali : Pasal RUU KUHP Tumpang Tindih
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar.Beberapa pasal dalam Rancangan Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dinilai tumpang tindih dengan undang-undang lainnya. Salah satunya dengan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
[pilihan-redaksi]
Komisioner Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Bali Ni Luh Gede Yastini menyebutkan bahwa dalam Undang-Undang kesehatan khususnya pasal 75 disebutkan secara umum aborsi dilarang dan dipidana tetapi dalam kondisi tertentu aborsi boleh dilakukan apabila kehamilan terjadi akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. Dimana tindakan dilakukan setelah ada konseling dari ahli yang kompeten.
“Dan di pasal 76 diatur lebih detail syarat legal dilakukannya tindakan aborsi. Korban perkosaan harus memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, termasuk diantaranya pelayanan untuk melakukan aborsi yang aman dan legal berdasarkan alasan kesehatan dan psikologis” kata Yastini saat dikonfirmasi pada Selasa (24/9) di Denpasar.
Yastini menyampaikan klausul perempuan yang bekerja yang kemudian dipidana juga merupakan sebuah kemunduran. Mengingat Indonesia sudah meratifikasi Konvensi CEDAW tahun 1984, dimana negara harus menjamin perempuan bebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.
“Perempuan bekerja ini seharusnya di dukung dan dijamin agar aman dan terjamin haknya bukan dipidana seperti ini karena dianggap gelandangan” tegas Yastini.
Yastini berharap pengesahan RUU KUHP ditunda dan dilakukan diskusi dengan melihat aturan serta semangat kesetaraan. RUU KUHP juga seharusnya non diskriminasi dan juga selalu mengedepankan semangat perlindungan korban.
“Yang terpenting adalah semangat perlindungan korban terutama anak anak korban terkhusus korban perkosaan, trafficking, eksploitasi seksual yang dalam beberapa kasus mengalami trauma psikologi berat dan juga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan akibat kekerasan seksual/perkosaan harus juga dipertimbangkan” papar Yastini.[bbn/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2934 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2011 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun