Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Apa Risikonya Jadi Gay?

Minggu, 29 Mei 2022, 15:50 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist/Apa Risikonya Jadi Gay?

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Tanya:
“Dok, jujur aku pernah beberapa kali pacaran dengan cewek, tetapi kok aku belakangan tidak terlalu menikmatinya, termasuk saat berhubungan seksual. Aku sekarang dekat dengan seorang cowok teman sekantor. Aku menikmati rasa sayang yang berbeda dan lebih dari yang sudah-sudah. Aku takut menjadi gay, takut juga dibully orang dibilang homo. Apakah cinta sejenis atau menjadi gay ada risikonya, Dok?” (R, Surabaya, 22th)

Jawab:
Bisa jadi ini sebuah fenomena homoseksualitas. Seseorang disebut berorientasi seksual homoseksual kalau hanya tertarik dan terangsang terhadap sesama jenis kelaminnya dan malah kurang tertarik dan tidak terangsang terhadap lawan jenis. Akibatnya, tidak tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Pada pelaku yang sesama laki-laki dikenal dengan sebutan gay, untuk sesame perempuan dikenal dengan istilah lesbian. 

Cinta sejenis seperti ini, sesungguhnya adalah lebih ke permasalahan pilihan hidup atau orientasi. Hanya saja, pelakunya sering kali merasa tidak berani terbuka dan kadang tidak nyaman karena menjadi berbeda dengan orang banyak. 

Akan terlihat menjadi aneh dan dicap mengalami kelainan oleh masyarakat banyak jika ketahuan, sehingga lebih banyak yang menyembunyikan orientasi seksualnya ini. Ada juga ketakutan disebut melakukan dosa atau hal yang dilarang agama tertentu karena banyak tokoh yang menyebut demikian. 

Apakah cinta sejenis ini berisiko? Sesungguhnya risikonya sama saja dengan hubungan cinta yang biasa, akan dapat muncul problem psikis dan emosional dari hubungan ini dan risiko medis seperti infeksi ringan hingga infeksi menular, jika dilakukan berganti pasangan. Pasangan gay biasanya melakukan hubungan seksual dengan melakukan percumbuan bibir, seks oral, dan seks anal yang juga bisa memunculkan luka lecet atau mikrolesi yang menjadi jalan masuk virus, jamur maupun bakteri yang diidap oleh salah satu pihak diantaranya. 

Risiko penularan infeksi menular seksual jika dilakukan tidak aman tanpa kondom, sangat memungkinkan, misalnya Gonore, Sifilis, Herpes, hingga HIV. 

Lalu, sering kali ada pertanyaan lain, jika ada yang berniat buat meninggalkan aktivitas cinta sejenis jika sudah aktif melakukannya, apa bisa? Kalau penyebabnya "hanya" karena pengaruh lingkungan, keadaan ini dapat diatasi. Selama ada kemauan kuat, pengaruh lingkungan juga bisa dikendalikan dan tetap berupaya mengontrol keinginan untuk konsisten tidak mencoba hubungan dengan sesama jenis. 

Tetapi tentu saja jika penyebabnya memang masalah genetik, tentu berbeda lagi. Sebaliknya, jika seandainya ingin dilanjutkan, apa bisa? Bisa saja, selama lingkungan sekitarnya tidak mempermasalahkan dan pelakunya tidak merugikan pihak lain. 

Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang bisa tetap toleransi dan lebih menerima perihal homoseksualitas ini. Seorang gay, tetap bisa sukses di profesi masing-masing yang digelutinya. 

Ada yang menjadi seniman, penyiar televisi, pengusaha, ataupun pekerjaan sukses lainnya. Bahkan di banyak negara saat ini ada kecenderungan perilaku homoseksual tidak lagi dibahas dari konteks agama dan sosial semata, tetapi juga konteks hak manusia untuk menentukan pilhan hidup, termasuk orientasi seksualnya. 

Karena cinta sejenis sesungguhnya lebih tepat adalah sebuah pilihan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya. It`s your choice.
 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami