Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 3 Agustus 2026
Trauma Masa Kanak, Keinginan Bunuh Diri, dan Upaya Menemukan Diri yang Ingin Hidup
BERITABALI.COM, DENPASAR.
SEORANG perempuan berusia 26 tahun, berinisial SDZ, berkeinginan untuk dirawat inap setelah mengungkapkan adanya keinginan untuk mengakhiri hidup. Pikiran tersebut telah muncul sejak tahun 2019 dan berkaitan dengan perasaan tidak berharga yang dirasakan sejak lama. Sejak kecil, ia merasa kurang memperoleh kasih sayang dari orang tua.
Kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih duduk di bangku SMP dan semasa kecil ia kerap menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam menjalani pendidikan hingga menyelesaikan kuliah dan mulai bekerja, ia merasa harus berjuang sendiri tanpa dukungan keluarga yang memadai.
Keluhan lain yang dialami meliputi sulit berkonsentrasi, penurunan nafsu makan, serta kesulitan memulai tidur sejak satu bulan terakhir. Pada periode yang sama, ia mulai menyayat lengannya ketika menghadapi masalah. Perilaku tersebut dirasakan memberikan kepuasan dan menimbulkan keinginan untuk mengulanginya. Sebelumnya, perilaku menyakiti diri hanya berupa memukul kepala atau meninju tembok.
Pencetus utama kondisi saat ini adalah berakhirnya hubungan dengan kekasih yang telah tinggal bersamanya di Bali selama kurang lebih satu tahun akibat perselingkuhan. Hal ini dirasakan sangat berat karena ia telah menjalin hubungan selama 3 tahun dan berharap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Ia pernah mengalami periode ketika energinya terasa sangat meningkat dan mampu menangani banyak pekerjaan di kantor. Di lingkungan kerja, ia dikenal sebagai pribadi yang ramai, mudah bergaul, dan aktif berinteraksi. Hal ini membuat ia sering diminta untuk menghandle beberapa pekerjaan sekaligus meskipun bukan tugasnya.
Tidak jarang ia merasa burn out karena bosnya memberikan pekerjaan ekstra namun tidak mendapatkan penghargaan sesuai dengan hal yang dikerjakannya. Riwayat hubungan seksual tanpa pengaman dengan kekasih juga ditemukan. Tidak terdapat riwayat mendengar suara atau melihat sesuatu tanpa sumber yang nyata. Selama pemeriksaan, ia tampak tenang.
Menurut teman yang mengantar, SDZ mengalami hal ini setelah putus sekitar satu bulan lalu, meskipun di awal perpisahannya ia tidak tampak menangis atau menunjukkan kesedihan secara terbuka, tetapi beberapa kali terlihat melamun saat bekerja. Saat ini ia tinggal sendiri. Konsumsi rokok dan arak meningkat dalam satu bulan terakhir. Tidak ditemukan riwayat penyakit kronis, penggunaan zat terlarang, maupun gangguan psikiatri dalam keluarga.
Memahami waktu satu bulan pasca perpisahan
Keinginan bunuh diri pada SDZ tidak dapat dipahami hanya sebagai reaksi sederhana setelah putus cinta. Perpisahan tersebut memang menjadi pencetus yang nyata, tetapi kerentanan psikologisnya telah terbentuk jauh sebelumnya melalui pengalaman kurangnya kasih sayang, perceraian orang tua, paparan kekerasan dalam rumah tangga, perjuangan hidup tanpa dukungan memadai, serta perasaan tidak berharga yang telah menetap selama bertahun-tahun. Putusnya hubungan bukanlah satu-satunya penyebab, melainkan peristiwa yang membuka kembali luka lama yang selama ini mungkin masih dapat dikendalikan melalui pekerjaan, relasi sosial, dan harapan akan masa depan.
Pikiran untuk mengakhiri hidup telah muncul sejak tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan SDZ bukan sekadar gangguan penyesuaian akut akibat perpisahan terakhir. Kemungkinan telah terdapat suatu pola psikologis yang rentan, ditandai oleh keyakinan mendasar bahwa dirinya tidak cukup berharga, tidak layak dicintai, dan harus berjuang sendiri. Keyakinan tersebut kemungkinan terbentuk dari pengalaman perkembangan ketika figur yang seharusnya memberikan perlindungan justru tidak hadir secara konsisten atau menjadi bagian dari situasi yang menakutkan.
Pengalaman menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga dapat membuat seorang anak hidup dalam keadaan siaga. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman berubah menjadi lingkungan yang tidak dapat diprediksi. Anak kemudian belajar bahwa kedekatan dapat berjalan bersama ancaman, cinta dapat disertai kekerasan, dan orang yang dibutuhkan sewaktu-waktu dapat meninggalkan dirinya. Hubungan selama tiga tahun dengan kekasih tampaknya bukan hanya sebuah hubungan romantik.
Secara psikologis, hubungan itu mungkin menjadi tempat SDZ menaruh harapan untuk akhirnya memiliki keluarga yang stabil, mendapatkan kasih sayang, dan tidak lagi menghadapi hidup sendirian. Ketika pasangan berselingkuh, yang hilang bukan hanya orang yang dicintai, tetapi juga gambaran masa depan, rasa aman, identitas sebagai pasangan, dan harapan untuk memperbaiki pengalaman keluarga masa kecil.
Perpisahan tersebut dapat dipahami sebagai attachment injury atau cedera keterikatan. Perselingkuhan mengaktifkan kembali tema lama, bahwa orang yang saya percaya akan meninggalkan saya, saya tidak cukup berharga untuk dipilih, dan pada akhirnya saya harus menghadapi semuanya sendiri. Konsep trauma keterikatan menggambarkan konsekuensi psikologis, biologis, dan relasional jangka panjang ketika pengalaman interpersonal yang menyakitkan tidak terintegrasi secara utuh.
Munculnya perburukan satu bulan setelah berpisah bukanlah hal yang paradoks. Pada fase awal krisis, seseorang dapat tampak tenang, tidak menangis, atau tetap bekerja karena berada dalam keadaan syok, penyangkalan, mati rasa emosional, atau mobilisasi untuk bertahan. Sistem psikologis sementara membekukan emosi agar individu tetap berfungsi.
Setelah realitas kehilangan semakin menetap, dimana pasangan tidak kembali, kehidupan bersama benar-benar berakhir, dan masa depan yang direncanakan runtuh dalam kesedihan, kemarahan, rasa malu, dan keputusasaan mulai memasuki kesadaran. Perpisahan romantik menunjukkan bahwa gejala depresi dapat berkembang mengikuti lintasan yang berbeda-beda, dimana sebagian individu pulih dalam beberapa bulan, sedangkan mereka yang memiliki kerentanan sebelumnya dapat mengalami gangguan yang lebih berat dan menetap.
Pada SDZ, masa satu bulan tersebut juga diisi dengan insomnia, penurunan nafsu makan, gangguan konsentrasi, melamun saat bekerja, peningkatan alkohol dan rokok, isolasi karena tinggal sendiri, serta perilaku menyayat lengan. Insomnia dan alkohol dapat melemahkan kontrol impuls, memperburuk regulasi emosi, dan mempersempit kemampuan melihat alternatif pemecahan masalah. Dalam keadaan seperti itu, pikiran bunuh diri dapat berubah dari gagasan abstrak menjadi jalan keluar yang terasa semakin konkret.
Perilaku menyayat perlu dinilai secara rinci, termasuk niat, tujuan, frekuensi, kedalaman luka, perencanaan, serta hubungannya dengan keinginan mati. Pernyataan bahwa menyayat memberikan kepuasan dan membuat ketagihan menunjukkan adanya fungsi penguatan. Rasa sakit fisik dapat sementara mengalihkan penderitaan emosional, mengurangi ketegangan, menghentikan rasa kosong, atau menjadi bentuk penghukuman terhadap diri.
Bila ketegangan berkurang setelah menyayat, perilaku tersebut diperkuat melalui negative reinforcement, dimana otak belajar bahwa melukai tubuh merupakan cara cepat untuk meredakan emosi.
Walaupun menyayat dapat dilakukan tanpa niat bunuh diri, perilaku tersebut tidak boleh dianggap ringan. Riwayat menyakiti diri dapat menurunkan hambatan terhadap rasa sakit dan meningkatkan risiko perilaku bunuh diri di kemudian hari. Dalam kasus SDZ, kombinasi ide bunuh diri, eskalasi metode menyakiti diri, tinggal sendiri, penggunaan alkohol, gangguan tidur, kehilangan relasi, dan rasa tidak berharga membuat permintaan rawat inap menjadi keputusan yang dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan hidup, bukan kelemahan.
Ketika keinginan dihadapkan pada kondisi memilih
Secara psikodinamika, pengalaman pengasuhan awal dapat membentuk representasi internal mengenai diri dan orang lain. Bila kebutuhan emosional anak berulang kali tidak terpenuhi, ia dapat menginternalisasi gambaran diri sebagai seseorang yang tidak penting atau tidak layak dicintai. Sementara itu, orang lain direpresentasikan sebagai tidak tersedia, tidak dapat dipercaya, atau sewaktu-waktu meninggalkan dirinya.
SDZ tampaknya membangun identitas sebagai pribadi yang kuat, mandiri, ramai, mudah bergaul, dan mampu menangani banyak pekerjaan. Sifat ini tentu merupakan kekuatan, tetapi mungkin juga menjadi pertahanan psikologis. Dengan selalu aktif, membantu, dan mengambil banyak tanggung jawab, ia dapat mempertahankan penerimaan sosial sekaligus menghindari perjumpaan dengan rasa sepi dan tidak berharga. Nilai dirinya kemudian bergantung pada fungsi, bahwa “Saya berharga ketika saya berguna bagi orang lain.”
Ketika atasan terus memberikan pekerjaan tambahan tanpa penghargaan yang sepadan, pola relasional masa kecil dapat berulang. Ia kembali menjadi seseorang yang memberi banyak, bertahan sendiri, tetapi kebutuhannya tidak dilihat. Dalam hubungan romantik, harapan akan pernikahan mungkin menjadi usaha memperbaiki luka tersebut. Perselingkuhan menghancurkan usaha reparatif itu dan mengaktifkan kembali kemarahan, kesedihan, serta rasa ditolak.
Dalam kerangka klasik psikologi, depresi berat dapat melibatkan kemarahan terhadap objek yang hilang yang kemudian berbalik menyerang diri. Dalam bahasa yang lebih manusiawi, SDZ mungkin marah kepada pasangan, orang tua, atasan, dan kehidupannya, tetapi kesulitan dalam mengekspresikan kemarahan tersebut secara aman. Kemarahan lalu diarahkan ke tubuh melalui memukul kepala, meninju tembok, dan akhirnya menyayat lengan. Tubuh menjadi tempat penyimpanan sekaligus sasaran penderitaan yang sulit diucapkan.
Riwayat periode berenergi tinggi harus ditelusuri lebih lanjut. Keramahan, aktivitas sosial, dan kemampuan menangani banyak pekerjaan tidak otomatis berarti hipomania. Diperlukan informasi mengenai durasi, penurunan kebutuhan tidur, peningkatan rasa percaya diri, pembicaraan cepat, ide berlomba, perilaku berisiko, peningkatan aktivitas terarah, serta perubahan nyata dari fungsi biasanya. Skrining gangguan bipolar penting sebelum menetapkan diagnosis dan terapi, tetapi data saat ini belum cukup untuk menyimpulkannya.
Masalah SDZ juga terbentuk dalam sistem sosial yang lebih luas. Ia kehilangan dukungan keluarga sejak dini, tinggal sendiri, berada dalam relasi kerja yang kurang adil, dan baru kehilangan pasangan utama. Jaringan sosial yang melihatnya sebagai pribadi ceria mungkin tidak menyadari kedalaman penderitaannya. Citra sebagai perempuan mandiri dan mudah bergaul bahkan dapat membuat lingkungan terlambat mengenali risiko karena penderitaan tidak selalu tampil sebagai tangisan atau kekacauan perilaku.
Dalam konteks budaya komunal, identitas seseorang sering dibangun melalui keterhubungan dengan keluarga, pasangan, dan kelompok. Harapan menikah dapat membawa makna sosial yang besar. Putus akibat perselingkuhan bukan hanya kehilangan privat, tetapi dapat menimbulkan malu, rasa gagal, kekhawatiran terhadap penilaian sosial, dan runtuhnya posisi yang selama ini dibayangkan. Karena itu, intervensi tidak cukup hanya mengurangi gejala. Terapi perlu membantu membangun kembali rasa memiliki, dukungan sosial, martabat, dan peran yang bermakna.
Teman yang mengantar merupakan faktor protektif penting. Namun dukungan tidak boleh berhenti pada proses membawa ke rumah sakit. Perawatan perlu melibatkan, dengan persetujuan pasien, satu atau dua orang tepercaya yang mampu membantu mengurangi isolasi, memantau perubahan, membatasi akses terhadap sarana berbahaya, serta mendampingi setelah pasien keluar.
Trauma masa kanak-kanak juga dapat memengaruhi perkembangan sistem stres, regulasi emosi, dan pemrosesan ancaman. Paparan kekerasan berulang dapat meningkatkan sensitivitas amigdala terhadap isyarat penolakan atau bahaya, sementara fungsi korteks prefrontal dalam mengatur emosi dapat menjadi kurang efektif ketika stres meningkat. Perubahan pada sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal, sistem noradrenergik, proses inflamasi, tidur, dan jaringan yang menghubungkan amigdala, hipokampus, serta korteks prefrontal telah dikaitkan dengan gangguan terkait trauma.
Memori traumatik tidak selalu tersimpan seperti rekaman naratif yang utuh. Sebagian pengalaman tersimpan sebagai fragmen sensorik, emosi tubuh, pola kewaspadaan, dan makna implisit. Karena itu, seseorang mungkin tidak secara sadar mengingat setiap kejadian lama ketika menghadapi penolakan, tetapi tubuhnya bereaksi seolah-olah ancaman lama kembali terjadi.
Keadaan emosional saat ini mempermudah munculnya ingatan atau makna yang dibentuk dalam keadaan emosional serupa.
Perselingkuhan dan perpisahan menjadi petunjuk pemanggilan kembali jaringan memori tentang ditinggalkan, tidak dilindungi, dan tidak berharga. Ingatan yang dipanggil kembali memasuki keadaan yang relatif labil dan dapat diperbarui sebelum disimpan kembali. Prinsip ini menjadi salah satu dasar terapi trauma modern, dimana memori tidak dihapus, tetapi dihubungkan dengan informasi baru bahwa kejadian telah berlalu, individu kini memiliki pilihan, dan dirinya tidak lagi sepenuhnya tidak berdaya.
Menemukan kembali bagian diri yang masih ingin hidup
Refleksi pertama bagi SDZ adalah memahami bahwa keinginan mati sering kali bukan semata-mata keinginan untuk kehilangan kehidupan, melainkan keinginan agar penderitaan yang terasa tidak tertahankan berhenti. Pembedaan ini penting karena membuka ruang bagi pertanyaan baru, “Bagian mana dari kehidupan yang perlu dihentikan, diubah, atau dibantu agar bukan hidupnya yang harus berakhir”. Namun refleksi tidak dapat menggantikan keselamatan. Pada fase akut, prioritasnya adalah rawat inap bila risiko dinilai tinggi, asesmen langsung mengenai rencana dan akses terhadap metode, perawatan luka, penghentian alkohol, pemulihan tidur dan nutrisi, serta pembuatan safety plan kolaboratif.
Dalam proses berikutnya, SDZ perlu belajar mengenali emosi sebelum emosi mencapai intensitas yang mendorong tindakan impulsif. Dorongan menyayat dapat diperlakukan sebagai sinyal bahwa sistem regulasi emosi sedang kewalahan. Keterampilan dari Dialectical Behavior Therapy, seperti toleransi distres, pengaturan emosi, grounding, dan komunikasi interpersonal, dapat dipertimbangkan. Terapi juga perlu memisahkan antara rasa sakit emosional, dorongan melukai diri, dan niat bunuh diri karena ketiganya saling berkaitan tetapi tidak selalu identik.
Pemulihan trauma bukan berarti menyalahkan orang tua tanpa akhir atau memaksa diri memaafkan sebelum siap. Pemulihan berarti memahami bagaimana pengalaman lama membentuk respons saat ini, kemudian membangun respons yang lebih adaptif. Psikoterapi berfokus trauma, seperti trauma-focused CBT atau EMDR, dapat dipertimbangkan setelah kondisi akut stabil. Pekerjaan trauma dilakukan bertahap: stabilisasi, pengolahan memori, kemudian integrasi kembali dengan kehidupan. Membuka memori traumatik terlalu cepat ketika pasien masih aktif ingin bunuh diri atau belum memiliki keterampilan regulasi emosi dapat justru meningkatkan distres.
SDZ juga perlu mengembangkan self-compassion. Kalimat internal bahwa saya tidak berharga tidak harus dilawan dengan afirmasi yang terasa palsu. Ia dapat mulai dengan kalimat yang lebih realistis, bahwa “Saya sedang terluka, tetapi luka ini tidak menentukan seluruh nilai diri saya”; “Saya terbiasa berjuang sendiri, tetapi sekarang saya boleh menerima pertolongan”; dan “Pengkhianatan pasangan menjelaskan perilakunya, bukan nilai saya sebagai manusia.”
Pemulihan juga memerlukan koreksi terhadap pola relasional. Ia perlu belajar bahwa batasan bukan penolakan, mengatakan tidak bukan tindakan egois, dan penghargaan tidak harus diperoleh dengan terus mengambil beban orang lain. Di tempat kerja, hal ini dapat berarti mengklarifikasi deskripsi tugas, menyampaikan kapasitas, meminta prioritas tertulis, atau mempertimbangkan perubahan lingkungan bila eksploitasi terus terjadi.
Pada tingkat komunitas, tanggung jawab tidak boleh seluruhnya diletakkan pada pasien. Keluarga, teman, tempat kerja, layanan kesehatan, dan masyarakat harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan seseorang mengungkapkan penderitaan tanpa dianggap lemah atau mencari perhatian. Pada akhirnya, SDZ perlu melihat bahwa dirinya bukan hanya seorang perempuan yang ditinggalkan.
Ia adalah seseorang yang sejak kecil telah bertahan dalam lingkungan sulit, menyelesaikan pendidikan, bekerja, membangun hubungan, dan masih memiliki bagian diri yang mencari pertolongan. Permintaannya untuk dirawat menunjukkan bahwa di tengah dorongan untuk menyerah, masih terdapat bagian diri yang ingin dilindungi. Ketika batin terasa terlalu penuh, rasa sakit fisik dapat memberikan kelegaan sementara. Namun kelegaan tersebut membuat otak mempelajari hubungan antara tekanan emosional dan tindakan melukai diri sehingga perilaku tersebut berisiko diulang.
Pada akhirnya, kebahagiaan bagi SDZ tidak dapat digantungkan sepenuhnya pada kembalinya pasangan, penerimaan orang tua, atau penghargaan atasan. Selama nilai dirinya bergantung pada apakah orang lain memilih, membutuhkan, atau memujinya, ia akan terus hidup dalam kecemasan akan kehilangan. Kebahagiaan yang lebih stabil berawal dari kemampuan kembali kepada diri untuk mengenali kebutuhan, menerima keterbatasan, menghargai usaha, meminta pertolongan, dan menentukan arah kehidupan berdasarkan nilai yang diyakini. Ia perlu membangun identitas yang lebih luas daripada sebagai pasangan, pekerja yang selalu mampu, atau anak yang harus bertahan sendiri.
SDZ bukan hanya seorang perempuan yang ditinggalkan dan dikhianati. Ia adalah seseorang yang telah bertahan melewati masa kecil yang sulit, menyelesaikan pendidikan, membangun karier, menjalin hubungan, serta masih memiliki keberanian untuk mencari pertolongan. Masa lalunya menjelaskan luka yang dimiliki, tetapi tidak harus menentukan akhir kehidupannya. Pemulihan merupakan perjuangan keluar dari kegelapan melalui pemahaman diri, dukungan manusia lain, keseimbangan hidup, keberanian menghadapi kenyataan, dan kesediaan melangkah kembali, sekalipun untuk sementara hanya satu langkah kecil. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 344 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 291 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 221 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun