Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 20 Mei 2026
Sejarah Banjir Terparah di Dunia Memakan Jutaan Korban Jiwa
BERITABALI.COM, DUNIA.
Pada 18 Agustus 1931, Sungai Yangtze di China meluap dan menyebabkan 3,7 juta orang meninggal dunia. Banjir kala itu disebut-sebut merupakan bencana alam terparah di dunia pada abad ke-20.
Sebagaimana dilansir History, pada April 1931, daerah aliran Sungai Yangtze menghadapi curah hujan di atas rata-rata.
Pada Juli, hujan lebat kembali melanda Sungai Yangtze dan membuat sungai itu meluap. Air dari sungai tersebut membanjiri area lebih dari 1.294 kilometer persegi.
Pada awal Agustus, air di Sungai Yangtze masih meluap dan menyebabkan 500 ribu orang harus mengungsi dari rumah mereka.
Kala air terus meluap sejak Agustus, ladang padi di area tersebut terendam air dan membuat panen rusak. Kota-kota besar, seperti Wuhan dan Nanjing, bergantung pada nasi dari kota itu.
Baca juga:
China Tutup Pasar Elektronik Terbesar Dunia
Namun, akibat panen yang rusak, masyarakat di kota itu meninggal kelaparan usai banjir terparah di dunia itu.
Tak hanya itu, Sungai Yangtze terkena polusi, membuatnya menjadi 'biang kerok' penyakit tifus dan disentri. Jutaan orang di China kemudian meninggal akibat penyakit dan kelaparan imbas banjir ini.
Di sisi lain, China sendiri berkutat dengan perang sipil sejak 1927, membuat sungai di negara itu menjadi tak terurus. Akibatnya, banjir terparah di dunia pada abad ke-20 tidak terhindarkan bagi negara itu.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 1741 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1656 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1245 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1100 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah