Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Rusia Tuding AS Jadi 'Kompor' Ukraina Agar Perang Makin Panas
BERITABALI.COM, DUNIA.
Rusia menuduh Amerika Serikat menghasut Ukraina untuk meningkatkan eskalasi perang dengan mendukung serangan ke sejumlah target Moskow di Crimea. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, meluncurkan komentar itu menanggapi pernyataan Wakil Menteri urusan Politik AS, Victoria Nuland.
Baca juga:
Profesor Australia Disandera di Papua Nugini
"Sekarang penghasut perang, Amerika, telah melangkah lebih jauh: Mereka menghasut rezim Kyiv untuk meningkatkan perang," kata Zakharaova pada Jumat (17/2), seperti dikutip Reuters.
Ia kemudian berujar, "Mereka (AS) memasok senjata dalam jumlah besar, menyediakan intelijen dan berpartisipasi secara langsung dalam merencanakan operasi tempur."
Advertisement
Zakharova juga memperingatkan Washington secara langsung agar tidak terlibat dalam konflik di Eropa Timur itu karena "Orang-orang gila" bermimpi mengalahkan Rusia.
Sebelumnya, Nuland mengatakan Crimea harus demiliterisasi dan AS akan mendukung serangan Ukraina terhadap target di semenanjung.
"Tak masalah apa keputusan Ukraina soal Crimea apakah mereka akan menyerang dan yang lain, Ukraina tak akan aman kecuali Crimea setidaknya, minimal, demiliterisasi," kata Nuland kepada lembaga think tank Carnegie Endowment for International.
Ia juga mengatakan Rusia memiliki sejumlah instalasi militer yang penting di Crimea terkait operasinya di Ukraina.
"Itu adalah target yang sah, Ukraina menyerang mereka dan kami mendukungnya," ujar Nuland.
Hubungan Rusia dan AS terus panas usai Presiden Vladimir Putin meluncurkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu.
Putin menyebut tindakan itu sebagai pertempuran eksistensial dengan Barat. Ia juga mengatakan Rusia akan menggunakan semua cara untuk melindungi wilayah dan rakyatnya.
Sementara itu, Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina pada 2014. Komunitas dan organisasi internasional ogah mengakui pencaplokan ini dan menganggap pengambilan wilayah itu tak sah.
AS, sementara itu, membantah ingin menghancurkan Rusia. Menyoal Crimea, Barat dan Rusia memandang kawasan ini sebagai potensi titik nyala terbesar dari perang Ukraina.
Semenanjung ini memang diperebutkan dari dulu. Pada abad ke-18, kekaisaran Rusia menganeksasi Crimea.
Kemudian pada 1921, Crimea menjadi bagian dari Uni Soviet dan Rusia. Hingga pada 1954, Uni Soviet menyerahkan semenanjung itu ke Ukraina.
Dalam Memorandum Budapest 1994, Rusia mengakui kedaulatan Ukraina di perbatasan yang ada termasuk Crimea. Mereka juga tak menggunakan kekerasan terhadap Kyiv.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4439 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2122 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1552 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1008 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 940 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun