Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Tumpek Wariga Jadi Pengingat Jaga Alam Bali
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Hari Raya Tumpek Wariga yang diperingati umat Hindu di Bali pada Sabtu (23/5/2026) dimaknai bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ni Wayan Wintari saat menjelaskan makna filosofis Tumpek Wariga bagi umat Hindu di Bali.
“Tumpek Wariga adalah hari suci umat Hindu di Bali yang diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga, datang setiap 210 hari atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan,” ujar Ni Wayan Wintari, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, Tumpek Wariga juga dikenal dengan berbagai sebutan seperti Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag dan Tumpek Pengarah. Pada hari suci tersebut, umat Hindu melaksanakan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media pepohonan dan tanaman.
Menurutnya, dalam lontar Sundarigama, manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan disebut Sang Hyang Sangkara yang menempati arah barat laut dalam konsep Pengider Dewata Nawa Sanga dan identik dengan warna hijau sebagai simbol kesuburan alam.
“Makna pelaksanaan Tumpek Wariga adalah memohon keselamatan bagi tanaman agar tumbuh subur, berbunga, berbuah, dan memberikan manfaat sebagai sumber kehidupan,” jelasnya.
Ni Wayan Wintari juga mengutip ajaran dalam Bhagavad Gita III.14 yang menjelaskan hubungan erat antara kehidupan manusia dan alam semesta. Dalam sloka tersebut disebutkan bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan, dan hujan berasal dari yadnya.
“Melalui yadnya yang tulus dan dilandasi dharma, manusia menjaga keseimbangan alam. Apa yang kita lakukan kepada alam sesungguhnya akan kembali kepada kehidupan kita sendiri,” imbuhnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga tumbuhan sebagai bagian dari penghormatan terhadap ciptaan Tuhan. Dalam Atharvaveda disebutkan bahwa tanaman memiliki sifat-sifat para dewa dan menjadi penyelamat umat manusia.
Baca juga:
Buleleng Rayakan Tumpek Wariga dengan Penyucian Alam dan Penanaman Pohon di DAS Banyumala
Karena itu, masyarakat diajak menjadikan Tumpek Wariga sebagai momentum meningkatkan kesadaran spiritual sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Bentuk nyata yang dapat dilakukan antara lain menanam pohon, merawat tanaman dan menjaga kelestarian alam Bali.
“Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya alam pun akan menjaga kita. Tumpek Wariga hendaknya menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2614 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan