Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 11 Mei 2026
Dibayangi Tanah Retak Akibat Kemarau, Petani Desa Petak Berhasil Panen Padi Organik 15 Hektare
beritabali/ist/Dibayangi Tanah Retak Akibat Kemarau, Petani Desa Petak Berhasil Panen Padi Organik 15 Hektare.
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Di tengah gempuran cuaca panas dan kemarau panjang, petani di Desa Petak, Kecamatan Gianyar sukses memanen padi organik di Subak Bonnyuh Sari, Sabtu (4/11/2023). Yang dipanen ialah padi varietas lokal Sari Manis.
Perbekel Desa Petak, Anak Agung Gde Mayun Purnama, menyatakan yang ditanam merupakan padi lokal dengan pertanian organik. Hasilnya, dari hasil ubin yang dilaksanakan per hektarnya menghasilkan padi mencapai 6-8 ton per hektare.
"Saat panen kami undang Dinas Pertanian, dari Agraria, Dinas Koperasi, Disperindag hingga Perizinan, termasuk pendamping desa, PPL pertanian desa dan kecamatan kami undang. Tujuannya agar petani merasa benar-benar diayomi," ujar Agung Purnama di Subak Bonnyuh Sari Petak Gianyar pada Sabtu (4/11/2023).
Padi yang ditanam seluas 15 hektare, merupakan bantuan dari pemerintah desa Petak. "Desa memberikan bibit gratis, pupuk semprot dan kebutuhan gizi gratis tiga kali semprot," ujar dia.
"Astungkara, hasil panen sesuai hitungan di atas kertas. Yang dipanen saat ini baru tiga hektare. Dua Minggu lagi secara keseluruhan dipanen semuanya," jelas dia.
Dia senang karena petani mengikuti arahan perbekel dan dibantu dinas terkait. "Petani kami juga diedukasi oleh dinas, sehingga berhasil," jelas dia.
Diakui, padi lokal ini agak kurus, apalagi kemarau panjang, membuat tanah retak. Namun tidak mengurangi semangat petani, sehingga hasil maksimal. "Yang ditanam satu varietas lokal Sari Manis dari turun menurun digunakan oleh petani, kami di desa Petak ingin melestarikan," jelas dia.
Dia berharap agar seluruh petani di Petak menggunakan sistem pertanian organik. "Sehingga mengembalikan tanah ibu Pertiwi sehingga natural seperti 60 tahun silam," jelas dia.
Dari hasil panen ini, membutuhkan waktu 4 bulan. "Kalau pakai pupuk kimia 3 bulan panen. Tapi kalau organik rasanya beda. Manfaatnya untuk peningkatan ekonomi keluarga dan sehat mengonsumsi organik. Kami sangat optimis berlangsung karena semua petani senang. Terbukti capung, kunang-kunang bermunculan," tutup dia.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1073 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 854 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 674 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 629 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik