Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Hutang Motor Berbalut Logika dan Realita yang Terganggu

Minggu, 9 November 2025, 13:15 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Hutang Motor Berbalut Logika dan Realita yang Terganggu .

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Seorang laki-laki, IKR berusia 23 tahun, datang dengan keluhan sering marah-marah sejak tiga hari terakhir. Keluarganya mengatakan bahwa ia tampak terus menerus tersinggung dan curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. 

IKR merasa yakin bahwa ada salah satu tetangganya yang ingin mencampuri urusan kehidupan keluarganya. Ketika keponakannya memberitahukan bahwa ada orang yang mencarinya di depan rumah, ia langsung gelisah dan berusaha melihat lewat ventilasi. Ia mengaku mendengar suara laki-laki yang menurutnya mirip dengan suara guru olahraga sewaktu SMA dan menyuruhnya untuk melompat. 

Ia pun mengikuti suara itu dan melompat dari ventilasi. Ia jatuh dari ketinggian sekitar 1,5 meter dan terluka. Ketika ia melihat orang yang datang tersebut, ternyata itu hanyalah tetangganya yang meminta bantuan mencari burung peliharaannya yang hilang. Namun IKR merasa terganggu dan akhirnya marah.

Di tengah ceritanya, IKR juga mengatakan bahwa dirinya adalah “Presiden Prabowo” yang memiliki tanggung jawab mengatur kondisi negara yang menurutnya sedang kacau. Ia merasa memiliki peran besar dan penting yang harus dijalankan, dan tuntutan itu membuatnya merasa tidak bisa diganggu oleh orang lain.

Empat bulan yang lalu, IKR sempat mengalami masa yang sangat berat setelah tidak mampu membayar cicilan motornya. Selama sekitar satu bulan, ia merasa sangat sedih dan putus asa. Ia jarang keluar kamar, kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya ia sukai, dan merasa bersalah karena telah membeli motor tersebut. Ia makan sangat sedikit, merasa lelah hampir sepanjang hari, dan tidak memiliki dorongan untuk bekerja. Tidurnya pun terganggu karena setiap malam ia terus memikirkan hutangnya. 

Selain itu, IKR juga mengingat bahwa pada akhir tahun 2020 ia pernah merasakan energi yang sangat tinggi. Saat itu ia merasa penuh semangat, memiliki banyak ide, dan hampir tidak tidur selama beberapa hari karena merasa memiliki tenaga yang tidak habis-habis. Ia menghabiskan waktu untuk bekerja dan bergerak terus, tanpa merasa lelah.

Realita dan logika yang terganggu

Gejala yang dialami IKR menunjukkan adanya episode mania dengan gejala psikotik, yang muncul setelah riwayat depresi berat empat bulan sebelumnya, serta kemungkinan episode hipomania pada tahun 2020. Gambaran ini mengarah pada gangguan bipolar tipe I dengan gejala psikotik. 

Gangguan bipolar adalah gangguan suara

sana perasaan yang bersifat kronis dan berulang, ditandai oleh fluktuasi antara episode depresi, hipomania, dan mania. Secara global, prevalensi gangguan bipolar relatif stabil di berbagai populasi, menunjukkan bahwa kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau budaya, tetapi juga memiliki dasar biologis yang kuat. 

Dalam episode mania, individu dapat mengalami peningkatan energi, ide kebesaran, mudah tersinggung, dan perubahan persepsi realitas yang dapat berkembang menjadi halusinasi dan delusi. 

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR), bipolar tipe I ditandai oleh setidaknya satu episode mania yang berlangsung minimal satu minggu, yang dapat disertai gejala psikotik. Temuan terbaru menunjukkan adanya hubungan antara stres psikosial berat, seperti kesulitan ekonomi yang dialami IKR dengan terpicunya episode mood melalui mekanisme disregulasi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA).

IKR kemungkinan besar tumbuh dalam pola asuh yang tidak memberikan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka. Pada banyak keluarga di budaya kita, terutama ketika mendidik anak laki-laki, orang tua sering lebih menekankan kemandirian, kekuatan, dan ketangguhan dibandingkan pengolahan emosi. 

Pesan seperti laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng, atau harus bisa menahan diri, membentuk cara anak belajar dalam berhubungan dengan dirinya sendiri. Ketika emosi seperti sedih, takut, atau kecewa tidak memiliki tempat untuk diungkapkan, emosi-emosi itu tidak hilang, melainkan tersimpan di dalam diri dan menumpuk seperti tekanan dalam ruang tertutup. Dalam kondisi ini, anak tidak tumbuh dengan keterampilan untuk mengenali dan menenangkan perasaannya. Ia belajar bertahan, tetapi tidak pernah benar-benar belajar memulihkan diri.

Ketika dewasa dan menghadapi tekanan hidup nyata, seperti masalah ekonomi dan rasa gagal memenuhi peran sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, ia tidak memiliki pola internal yang cukup kuat untuk menampung rasa bersalah, malu, atau tidak berdaya. 

Emosi itu menjadi terlalu berat, sehingga kebutuhan untuk mempertahankan harga diri muncul dalam bentuk kemarahan dan kecurigaan terhadap lingkungan. Dalam konteks ini, marah bukan sekadar reaksi spontan, tetapi bentuk pertahanan diri untuk mencegah dirinya merasa runtuh. 

Kemarahan menjadi cara paling mudah, paling cepat, dan paling diterima secara sosial untuk menunjukkan bahwa ia sedang terluka, karena menunjukkan kesedihan mungkin dianggap lemah, sementara menunjukkan amarah dinilai lebih cocok dengan identitas maskulin yang ia pelajari sejak kecil.

Ketika kemudian tekanan emosi itu meningkat tanpa ditangani, ditambah perubahan kimiawi otak yang terjadi pada gangguan bipolar, terjadilah pecahnya batas antara pikiran dan realitas. Delusi dan halusinasi muncul sebagai cara batin menyusun ulang dunia agar ia tetap merasa penting, bernilai, dan tidak hancur. 

Dengan kata lain, pola asuh yang tidak memberi ruang untuk gagal dan tidak mengajarkan pengaturan emosi sejak kecil berkontribusi pada rapuhnya fondasi jiwa dalam menghadapi stres. Psikotik di sini bukanlah kelemahan atau kesengajaan, tetapi jeritan jiwa yang selama bertahun-tahun tidak diberi ruang untuk didengar.

Dalam konteks budaya Indonesia, terutama di masyarakat komunal, pengalaman gangguan psikotik seringkali dipengaruhi oleh keyakinan terhadap hubungan sosial, peran dalam keluarga, serta konsep harga diri yang terkait dengan kontribusi ekonomi. 

Ketika IKR gagal membayar cicilan motor, rasa bersalah dan malu mungkin memperkuat tekanan psikologisnya, yang kemudian berkembang menjadi episode depresi berat. Depresi berat yang tidak ditangani dapat berubah menjadi fase mania berikutnya, suatu pola progresif yang sering diamati pada bipolar.

Selain itu, faktor genetik memiliki kontribusi signifikan. Studi meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa risiko bipolar meningkat hingga 8-10 kali lebih besar apabila terdapat riwayat keluarga dengan gangguan serupa. Meski riwayat keluarga tidak disebut secara eksplisit, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan predisposisi biologis yang berperan. 

Suara batin dan keterikatan sosial yang terganggu 

Data epidemiologi terbaru menunjukkan bahwa lifetime prevalence gangguan bipolar (tipe I dan II) berada pada kisaran 1–3% dari populasi umum. Gangguan bipolar tipe I memiliki prevalensi sekitar 0,6–1%, sedangkan bipolar tipe II berkisar 0,4–1,1%. Gangguan bipolar secara konsisten ditemukan di berbagai negara dan budaya, tanpa perbedaan signifikan berdasarkan ras, etnis, maupun tingkat sosial-ekonomi, meski akses dan penanganannya berbeda antar negara.

Usia onset rata-rata berada pada akhir masa remaja hingga awal dewasa, yaitu sekitar 15–30 tahun. Menariknya, banyak kasus pertama kali muncul setelah stres kehidupan yang signifikan, seperti kegagalan akademik, masalah pekerjaan, konflik relasional, atau masalah keuangan. Ini sejalan dengan kasus IKR yang mengalami tekanan ekonomi berat sebelum gejala berubah menjadi depresi dan kemudian episode mania dengan psikotik. 

Sekitar 50–60% pasien melaporkan adanya riwayat gangguan mood dalam keluarga, menunjukkan kontribusi genetik yang cukup kuat. Risiko seseorang mengembangkan bipolar meningkat hampir 10 kali lipat jika terdapat keluarga tingkat pertama (orang tua atau saudara kandung) dengan kondisi serupa.

Terkait perbedaan jenis kelamin, gangguan bipolar terdistribusi relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Namun, pola gejalanya berbeda, dimana laki-laki lebih sering memulai dengan episode mania dan mengalami gejala psikotik lebih jelas. 
Sedangkan perempuan lebih sering mengalami episode depresi dan siklus yang lebih cepat. Sekitar 40–60% pasien bipolar awalnya salah didiagnosis sebagai depresi mayor, gangguan kecemasan, atau bahkan gangguan kepribadian, terutama ketika fase manik belum muncul. Hal ini menyebabkan penanganan terlambat, dan sering kali pasien baru menerima diagnosis yang tepat 5–10 tahun sejak gejala pertama muncul.

Selain itu, gangguan bipolar memiliki beban penyakit yang tinggi terhadap kualitas hidup. Risiko bunuh diri tercatat meningkat secara signifikan pada pasien bipolar, dengan 15–20% mengalami percobaan bunuh diri, dan sekitar 6–7% meninggal akibat bunuh diri jika tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Kondisi ini menekankan urgensi deteksi dini dan intervensi yang tepat.

Dari sudut pandang psikodinamika, gejala psikotik dapat dipahami sebagai bentuk regresi ego dalam menghadapi konflik internal 
yang tidak terselesaikan. Rasa bersalah yang intens tentang kegagalan dalam memenuhi peran sosial sebagai laki-laki dan anggota keluarga (misalnya, terkait tanggung jawab ekonomi) dapat memicu mekanisme pertahanan seperti proyeksi dan pembentukan delusi kebesaran. 

Ketika IKR menyatakan dirinya sebagai “Presiden Prabowo” yang bertugas menyelamatkan negara, ia sedang membentuk narasi kompensatorik untuk mengatasi perasaan tidak berdaya dan rendah diri. Halusinasi suara yang menyuruhnya melompat dapat mencerminkan konflik intrapsikis terkait kebutuhan menghindari tekanan dan rasa bersalah. Tindakan melompat bukan sekadar mengikuti suara, tetapi juga bentuk pelepasan ketegangan psikis. 

IKR hidup dalam dinamika sosial di mana status, prestasi, dan kontribusi ekonomi memiliki makna identitas kuat. Ketika ia tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, perasaan malu dan gagal muncul.  Episode mania, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai upaya psikis untuk mengembalikan rasa bernilai melalui peningkatan energi dan ide kebesaran. Namun ketika mania mencapai intensitas tinggi, ia mengganggu kemampuan individu membaca situasi sosial secara realistis, yang memunculkan kecurigaan dan interpretasi salah terhadap perilaku orang lain.

Secara neurobiologis, gangguan bipolar berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmiter seperti dopamin, glutamat, dan GABA. Pada fase mania, aktivitas dopamin meningkat, sehingga persepsi, penilaian realitas, dan kontrol impuls menurun. Ketika aktivitas limbik (pusat emosi) lebih dominan dibandingkan kontrol dari korteks prefrontal, individu dapat kehilangan kemampuan menilai konsekuensi dan mengambil keputusan rasional.

Selain itu, perubahan ritme sirkadian berperan penting. Riwayat IKR yang hampir tidak tidur selama beberapa hari pada tahun 2020 menunjukkan disregulasi ritme biologis yang memperburuk kestabilan mood. Kurangnya tidur dapat menjadi pemicu episode mania berikutnya.

Memulihkan realitas dan jiwa yang terkoyak

Penanganan kasus IKR perlu dilakukan secara komprehensif, bertahap, dan melibatkan tiga lingkup utama yaitu penanganan medis (klinis), dukungan keluarga, serta pendekatan berbasis komunitas. Tujuannya bukan hanya meredakan gejala akut, tetapi juga membantu memulihkan fungsi diri, menjaga stabilitas jangka panjang, dan mencegah kekambuhan.

Pada tahap awal, IKR membutuhkan penatalaksanaan klinis untuk menstabilkan kondisi mood dan mengatasi gejala psikotik. Pengobatan lini pertama biasanya mencakup mood stabilizer seperti lithium atau asam valproate untuk menyeimbangkan gejolak suasana hati. 

Dalam keadaan terdapat halusinasi dan delusi, antipsikotik atipikal seperti risperidone, olanzapine, atau quetiapine dianjurkan untuk meredakan distorsi persepsi dan keyakinan yang tidak realistis. Bila gangguan tidur menjadi bagian dari gejala akut, intervensi sleep hygiene dan penenang jangka pendek dapat digunakan secara hati-hati. 

Terapi obat perlu dilanjutkan dalam jangka panjang karena gangguan bipolar merupakan kondisi kronis yang sifatnya berulang. Penghentian obat tanpa pengawasan medis sering menyebabkan kekambuhan cepat.

Setelah gejala akut mulai mereda, intervensi psikoterapi dapat dimulai. Psikoedukasi menjadi langkah fundamental, baik untuk pasien maupun keluarga dalam memahami pola naik-turun mood, tanda peringatan kekambuhan, pentingnya keteraturan tidur, serta konsistensi dalam minum obat. 

Dukungan keluarga sangat berperan dalam pemulihan. Keluarga perlu belajar mengurangi kritik, tekanan, dan komentar emosional yang terlalu intens karena pola komunikasi seperti ini terbukti meningkatkan risiko kekambuhan. Keluarga tidak perlu membantah atau mempermalukan keyakinan delusional IKR, karena sikap konfrontatif hanya meningkatkan ketegangan dan rasa terancam. 

Respons yang lembut, menenangkan, dan penuh empati lebih membantu, seperti “Saya bisa melihat ini membuatmu merasa tertekan. Kita cari cara agar kamu bisa merasa lebih aman.” Memberi ruang aman untuk merasa dan berbicara adalah langkah penting dalam memulihkan rasa diri yang sebelumnya rapuh.

Pendekatan komunitas juga memiliki peran penting, terutama dalam konteks budaya Indonesia yang sangat komunal. Lingkungan terdekat dapat membantu melalui sikap tidak menghakimi, memberi ruang beraktivitas secara bertahap, dan tidak menyebarkan stigma. Pada masyarakat Bali misalnya, integrasi pemulihan dengan kegiatan spiritual atau adat dapat dilakukan selama tidak menggantikan pengobatan medis. 

Ritual dapat memberi makna, rasa keterhubungan, dan dukungan simbolis berpengaruh besar terhadap pemulihan identitas diri. Kelompok pendukung sebaya (peer support) atau komunitas peduli kesehatan jiwa dapat memperkuat rasa tidak sendiri, yang membantu mencegah isolasi sosial.

Dalam jangka panjang, pemulihan diarahkan pada reintegrasi fungsi kehidupan dimulai dengan bekerja secara bertahap, mengelola stres dengan strategi yang lebih adaptif, membangun hubungan yang aman, dan merawat ritme harian. IKR perlu didampingi untuk belajar memahami diri dengan cara yang lebih lembut, tidak sekadar kuat, tetapi mampu merawat luka yang pernah ia pendam.

Dengan penanganan yang terarah, dukungan emosional keluarga, serta lingkungan yang menerima, IKR memiliki peluang besar untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang bermakna. Yang terpenting adalah konsistensi, kesabaran, dan pandangan bahwa pemulihan adalah proses berlapis, perlahan, namun sangat mungkin. 

Selamat berjuang IKR, kamu sedang menjalani perjalanan yang berat, dan perjalanan ini tidak mendefinisikan nilai dirimu. Ada jalan untuk pulih, pelan-pelan, setapak demi setapak. Bukan untuk kembali menjadi seperti dulu, tetapi untuk menjadi diri yang lebih utuh. Apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin kalau Tuhan menghendaki. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami