Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Seniman Bali Sulap Limbah Kayu Jadi Seni Bernilai
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sampah tidak selalu identik dengan sesuatu yang tak berguna. Di tangan kreatif seorang seniman, limbah justru dapat menjelma menjadi karya seni bernilai tinggi.
Gagasan tersebut diwujudkan seniman Bali ternama, Nyoman Handi Yasa, melalui pameran seni tunggal yang digelar di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur, Kota Denpasar, belum lama ini. Pameran ini menampilkan karya-karya seni berbahan dasar limbah kayu yang ditemukan di kawasan pesisir Bali.
Berangkat dari kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan pantai, Nyoman Handi Yasa memanfaatkan sampah kayu dan material sejenis yang terdampar di pesisir sebagai medium utama dalam berkarya. Berbagai potongan kayu bangunan, ranting pohon, hingga limbah pintu kayu tua dikumpulkan dan dirangkai menjadi karya seni dengan karakter visual yang khas.
“Di pantai itu muaranya banyak benda-benda kayu. Ada sisa bangunan, ranting pohon, macam-macam. Bentuknya unik, dan sayang kalau dibiarkan begitu saja. Dari limbah itu saya melihat potensi seni,” ujar Nyoman Handi Yasa.
Ia menjelaskan, eksplorasi limbah kayu sebagai media seni telah ia tekuni sejak 2013. Sementara sebagian besar karya yang dipamerkan kali ini diciptakan pada rentang 2016 hingga 2017. Material kayu tersebut banyak ditemukan di kawasan Pantai Lembeng serta beberapa pantai di wilayah Gianyar.
“Yang ini misalnya dari kayu jati, asalnya dari pintu yang sudah tidak dipakai lagi di tukang kayu. Ada juga yang benar-benar saya temukan di pesisir pantai,” jelasnya.
Menurutnya, proses penciptaan karya seni berbahan limbah membutuhkan waktu yang panjang dan ketelitian tinggi. Tidak semua material bisa langsung digunakan, sehingga perlu proses seleksi yang matang.
“Pengumpulan bahannya saja bisa sampai dua tahun. Harus benar-benar dipilih, disesuaikan dengan karakter karya. Baru setelah itu dirangkai menjadi satu bentuk seni,” ungkapnya.
Nyoman Handi Yasa juga menyinggung persoalan sampah pesisir Bali yang hingga kini masih menjadi tantangan serius. Meski rutin dibersihkan, sampah kerap kembali datang terbawa arus laut.
“Pantai itu dibersihkan, tapi sampah datang lagi. Kayu, plastik, dan lainnya. Dari situ saya berpikir, kalau sebagian bisa dimanfaatkan, kenapa tidak?” katanya.
Melalui pameran seni ini, ia berharap dapat menginspirasi generasi muda dan para pelaku seni untuk lebih berani memanfaatkan material yang selama ini dianggap tidak bernilai, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.
“Semoga generasi muda bisa memanfaatkan bahan yang tidak terpakai menjadi karya seni. Dan untuk para penikmat seni, mari bersama-sama menjaga lingkungan kita,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7770 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5631 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3527 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2385 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan