Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 4 November 2026
Seniman Bali Sulap Limbah Kayu Jadi Seni Bernilai
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sampah tidak selalu identik dengan sesuatu yang tak berguna. Di tangan kreatif seorang seniman, limbah justru dapat menjelma menjadi karya seni bernilai tinggi.
Gagasan tersebut diwujudkan seniman Bali ternama, Nyoman Handi Yasa, melalui pameran seni tunggal yang digelar di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur, Kota Denpasar, belum lama ini. Pameran ini menampilkan karya-karya seni berbahan dasar limbah kayu yang ditemukan di kawasan pesisir Bali.
Berangkat dari kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan pantai, Nyoman Handi Yasa memanfaatkan sampah kayu dan material sejenis yang terdampar di pesisir sebagai medium utama dalam berkarya. Berbagai potongan kayu bangunan, ranting pohon, hingga limbah pintu kayu tua dikumpulkan dan dirangkai menjadi karya seni dengan karakter visual yang khas.
“Di pantai itu muaranya banyak benda-benda kayu. Ada sisa bangunan, ranting pohon, macam-macam. Bentuknya unik, dan sayang kalau dibiarkan begitu saja. Dari limbah itu saya melihat potensi seni,” ujar Nyoman Handi Yasa.
Ia menjelaskan, eksplorasi limbah kayu sebagai media seni telah ia tekuni sejak 2013. Sementara sebagian besar karya yang dipamerkan kali ini diciptakan pada rentang 2016 hingga 2017. Material kayu tersebut banyak ditemukan di kawasan Pantai Lembeng serta beberapa pantai di wilayah Gianyar.
“Yang ini misalnya dari kayu jati, asalnya dari pintu yang sudah tidak dipakai lagi di tukang kayu. Ada juga yang benar-benar saya temukan di pesisir pantai,” jelasnya.
Menurutnya, proses penciptaan karya seni berbahan limbah membutuhkan waktu yang panjang dan ketelitian tinggi. Tidak semua material bisa langsung digunakan, sehingga perlu proses seleksi yang matang.
“Pengumpulan bahannya saja bisa sampai dua tahun. Harus benar-benar dipilih, disesuaikan dengan karakter karya. Baru setelah itu dirangkai menjadi satu bentuk seni,” ungkapnya.
Nyoman Handi Yasa juga menyinggung persoalan sampah pesisir Bali yang hingga kini masih menjadi tantangan serius. Meski rutin dibersihkan, sampah kerap kembali datang terbawa arus laut.
“Pantai itu dibersihkan, tapi sampah datang lagi. Kayu, plastik, dan lainnya. Dari situ saya berpikir, kalau sebagian bisa dimanfaatkan, kenapa tidak?” katanya.
Melalui pameran seni ini, ia berharap dapat menginspirasi generasi muda dan para pelaku seni untuk lebih berani memanfaatkan material yang selama ini dianggap tidak bernilai, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.
“Semoga generasi muda bisa memanfaatkan bahan yang tidak terpakai menjadi karya seni. Dan untuk para penikmat seni, mari bersama-sama menjaga lingkungan kita,” pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 581 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 451 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 442 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan