Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Taman Penasar Duta Badung Kritik Ketimpangan Ekonomi dan Adat di PKB 2026

Jumat, 19 Juni 2026, 02:22 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Taman Penasar Duta Badung Kritik Ketimpangan Ekonomi dan Adat di PKB 2026.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara (Lomba) Taman Penasar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses mengundang tawa sekaligus perenungan penonton yang memadati Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Kamis (18/6/2026).

Melalui tokoh Wayan yang tampil antagonis dan penuh kritik sosial, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, Desa Adat Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, mengangkat realitas kehidupan masyarakat Bali yang dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara kewajiban adat dan kebutuhan ekonomi.

Sepanjang pementasan, tokoh Wayan melontarkan berbagai sindiran yang menyentuh isu-isu sensitif di tengah masyarakat Bali. Mulai dari makna menyama braya, beban kewajiban adat, hingga ketimpangan ekonomi yang dirasakan sebagian krama adat dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter Wayan digambarkan sebagai sosok yang mudah marah dan melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang. Namun di akhir cerita, tokoh tersebut mengalami perubahan setelah mendapatkan berbagai wejangan yang disampaikan melalui sastra Bali, tembang, sloka, dan palawakya.

Ketua Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, I Wayan Citra, mengatakan tokoh Wayan sengaja dihadirkan untuk merepresentasikan kondisi yang masih terjadi di masyarakat saat ini.

“Wayan ini sosok yang antagonis. Ketika dia tidak melihat istrinya di rumah, dia marah. Wayan ini tidak tahu bahwa ada orang meninggal atau kalayu sekar. Ketika dia lapar, tidak ada istri di rumah, Wayan emosi. Sosok Wayan kami hadirkan karena begitulah fakta di masyarakat. Hanya bisa melihat dari satu sisi; tidak keseluruhan, tapi marah-marah. Ini riil kehidupan masyarakat, pola pikir masyarakat,” ucap I Wayan Citra diwawancarai usai pementasan.

Dalam alur cerita, perubahan sikap Wayan terjadi setelah mendengarkan berbagai petuah yang bersumber dari sastra klasik Bali, salah satunya Geguritan Dharma Sunyata karya I Made Menaka yang sarat nilai etika, filosofi Hindu, dan moderasi beragama.

Pesan utama yang diangkat dalam pementasan tersebut adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara pelaksanaan yadnya dan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.

“Karena tutur-tutur yang disampaikan Jero Kelian dan masyarakat akhirnya Wayan sadar. Tutur Jero Kelian membuat Wayan paham makna menyama braya. Kalau perut lapar, tidak ada istri di rumah, makanan tak ada kan timbul sifat marah. Sedharma apapun seseorang, pasti akan marah. Artinya, yadnya dan ekonomi itu harus seimbang. Kalau cari uang terus lupa meyadnya, tidak baik. Sebaliknya, yadnya terus-menerus juga tidak bagus karena ada keluarga yang harus kita nafkahi. Di sanalah akan timbul kemarahan karena uang tidak ada, kan kacau juga,” pesan I Wayan Citra.

Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru sendiri telah berdiri sejak 9 Juli 2005 dan diprakarsai oleh para seniman otodidak asal Desa Adat Tanjung Benoa. Seiring perkembangan waktu, sanggar tersebut terus berbenah baik dari sisi organisasi maupun pembinaan sumber daya seni.

“Seiring perjalanan sanggar ini baru ada Wayan Dedi Sumantra yang kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia). Dari sanalah kita mulai berbenah secara struktur organisasi, pola mengelola sanggar, sehingga Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru sampai detik ini masih ajeg serta meraih berbagai penghargaan hingga akhirnya diberitakan kepercayaan untuk tampil di PKB,” ungkap I Wayan Citra.

Pada PKB sebelumnya, sanggar ini juga pernah menampilkan Rekonstruksi Gamelan Tua Angklung Kakelentangan pada PKB ke-45 serta meraih prestasi juara dalam Wimbakara Taman Penasar.

“Pada Wimbakara (Lomba) Taman Penasar sebagai Duta Kabupaten Badung beberapa tahun lalu astungkara kami jayanti, juara 1 waktu itu. Dulu masih diperbolehkan menambahkan instrumen. Sekarang murni geguntangan,” ungkap I Wayan Citra.

Meski demikian, proses persiapan menuju PKB 2026 tidak berjalan mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah mencari peserta sesuai batas usia yang ditentukan panitia, yakni 17 hingga 28 tahun.

“Betapa sulitnya mengumpulkan orang yang dibatasi umurnya. Wimbakara Taman Penasar tahun ini dibatasi umurnya. Mulai dari 17 tahun sampai 28 tahun maksimal. Dan kalau kita riil melihat di lapangan, peminat Wimbakara Taman Penasar ini sedikit. Ini kesulitan yang harus saya sampaikan. Umur kurang sedikit atau lebih tidak boleh. Ketika (pemain) ditemukan, banyak yang terkendala. Ada yang kendala baru sekolah. Ada yang kendala baru dapat pekerjaan. Ada kendala baru tamat mau mencari kuliah. Nah, kami bingung. Jujur kami sampaikan, di pertengahan persiapan ini, kami sempat agak-agak frustasi. Dua bulan pertama, kami manfaatkan yang ada. Panembang masih kurang, penabuh masih kurang, tapi kami berinisiatif jujukin malu. Personil kami murni semua dari Kuta Selatan, kecuali pembina. Panembang, penyaji, sekehe gamelan geguntangan, semua anak-anak kami dari Kuta Selatan,” tegas I Wayan Citra.

Dalam Wimbakara Taman Penasar PKB XLVIII 2026, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru membawakan naskah karya I Nyoman Wija Widastra berjudul Wijil Akah Canging dengan tema “Upahayu Atmeng Tanu”.

“Upahayu Atmeng Tanu berasal dari kata upahayu dan atma ing tanu. Upahayu berarti memelihara; atma ing tanu, yaitu sang hyang atma yang berada di tubuh kit. Jadi Upahayu Atmeng Tanu memiliki arti memelihara sang hyang atma yang berada di dalam tubuh atau angga sarira,” tutup I Wayan Citra.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Diskominfo Badung



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami