Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 8 Agustus 2026
Teknologi Pencitraan Mutakhir Bantu Tangani Penyakit Jantung Lebih Presisi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Perkembangan teknologi pencitraan (imaging) medis membuka peluang penanganan penyakit jantung yang semakin presisi. Pemeriksaan dengan perangkat seperti CT Cardiac, Cardiac MRI, dan Transesophageal Echocardiography (TEE) kini dapat membantu dokter memperoleh gambaran lebih detail mengenai kondisi jantung sebelum menentukan tindakan medis.
Teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam layanan kardiovaskular modern karena informasi yang diperoleh dari pencitraan dapat membantu dokter menentukan strategi terapi sesuai kondisi masing-masing pasien.
Pemanfaatan teknologi pencitraan juga mendukung berbagai tindakan, mulai dari kateterisasi, intervensi koroner hingga operasi jantung. Sejumlah prosedur terkini seperti image-guided Percutaneous Coronary Intervention (PCI), Coronary Artery Bypass Graft (CABG), dan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) dapat dilakukan dengan dukungan pencitraan yang lebih detail.
Salah satu perangkat yang memiliki peran penting dalam evaluasi kondisi jantung adalah Cardiac MRI. Teknologi ini dapat memberikan informasi mengenai struktur serta karakteristik jaringan otot jantung sehingga membantu dokter dalam mengevaluasi kondisi kardiovaskular sekaligus merencanakan terapi.
Pakar Kardiovaskular Intervensi Siloam Hospitals Bali, Dr. dr. I Made Junior Rina Artha, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FAPSIC, FSCAI, FESC, FACC, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pendekatan dokter dalam menangani penyakit jantung.
"Kemajuan teknologi telah mengubah cara kami menangani penyakit jantung. Saat ini, imaging tidak hanya membantu menegakkan diagnosis awal, tetapi juga menjadi panduan dalam menentukan strategi intervensi yang paling sesuai bagi setiap pasien. Ketika teknologi dipadukan dengan pengalaman klinis dan kolaborasi multidisiplin, kami dapat menghadirkan penanganan yang lebih presisi, lebih aman, dan memberikan hasil klinis yang lebih baik bagi pasien." papar Dr. dr. I Made Junior Rina Artha.
Perkembangan teknologi tersebut turut menjadi pembahasan dalam Cardiac Symposium yang diadakan Siloam Hospitals Bali bertajuk “From Imaging to Intervention” pada Sabtu (08/08/2026) di Sanur, Denpasar. Forum ilmiah bersertifikasi SKP Kementerian Kesehatan Republik Indonesia itu diikuti sekitar 100 dokter umum, dokter spesialis, dan mitra medis.
Simposium tersebut membahas perkembangan cardiac imaging serta penerapannya dalam tindakan intervensi dan bedah jantung. Pemanfaatan teknologi pencitraan menjadi salah satu aspek yang dinilai penting untuk mendukung tindakan medis dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
Hospital Director Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, MM, mengatakan peningkatan kualitas layanan kesehatan membutuhkan pembelajaran dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.
"Peningkatan kualitas layanan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran yang berkelanjutan. Melalui Cardiac Symposium ini, kami ingin menghadirkan wadah kolaborasi bagi dokter umum, dokter spesialis, dan mitra medis untuk saling berbagi pengetahuan serta mengikuti perkembangan terbaru dalam diagnosis dan penanganan penyakit jantung. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari sehingga semakin banyak pasien memperoleh pelayanan yang cepat, tepat, dan pada akhirnya meningkatkan keselamatan serta kualitas hidup pasien," ujar dr. Putri Mayuni.
Pengembangan teknologi Cardiac MRI juga didukung melalui kolaborasi dengan Philips. Dukungan tersebut menjadi bagian dari penguatan pemanfaatan teknologi cardiac imaging dalam layanan jantung.
Namun, teknologi pencitraan tidak berdiri sendiri. Hasil pemeriksaan tetap membutuhkan interpretasi dokter, dikaitkan dengan kondisi klinis pasien, serta menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi yang sesuai.
Integrasi antara perangkat diagnostik, kompetensi tenaga medis, dan kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting dalam menghadirkan penanganan penyakit jantung yang lebih terarah bagi masyarakat di Bali dan Indonesia.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4400 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 1762 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1496 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 982 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 915 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun