Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Di Balik Kemarahan, Kehilangan dan Pergulatan untuk Dipercaya

Minggu, 6 September 2026, 21:59 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Di Balik Kemarahan, Kehilangan dan Pergulatan untuk Dipercaya.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

SEORANG perempuan berusia 19 tahun, berinisial AL, datang dengan perasaan marah dan kesal karena merasa tidak dipercaya. Ia menilai orang-orang lebih mempercayai cerita ayahnya dan seorang perempuan yang disebutnya “that woman”. 

Ia menyangkal mengalami gangguan mental dan mengancam meninggalkan rumah sakit apabila dirawat di bagian psikiatri sementara luka pada kaki kirinya tidak ditangani. Menurutnya, luka tersebut terjadi ketika ia berusaha keluar dari vila setelah terlibat pertengkaran dengan ayahnya. Ia lalu memecahkan pintu kaca hingga kakinya terkena pecahan kaca. 

Ia mengatakan perempuan tersebut menghasut ayahnya dengan menyebut bahwa ia sering berganti pasangan seksual dan menghamburkan uang. Ia mengakui sedang sedih setelah ditinggalkan pacarnya satu bulan lalu dan kehilangan uang. Uang Rp200 juta yang diberikan ayahnya untuk hidup di Bali telah digunakan untuk berbelanja, berlibur, dan membeli makanan. 

Selama sebulan terakhir, ia merasa sangat bersemangat, memiliki banyak ide, dan berbelanja berlebihan, tetapi suasana perasaannya dapat berubah cepat menjadi sedih. Ia menyangkal keinginan melukai diri atau orang lain, halusinasi, gangguan tidur, maupun gangguan nafsu makan. 

Menurut ayahnya, perubahan perilaku anaknya mulai terlihat enam minggu terakhir. Ia berulang kali meminta uang dan mengancam bunuh diri apabila keinginannya tidak dipenuhi. Pemilik vila tempat tinggalnya melaporkan bahwa selama dua minggu tinggal di vila, AL sering menangis, mengorek tato di dada, leher, dan punggung menggunakan pisau, berbicara sendiri ke arah ruang kosong, sulit tidur, jarang mandi, serta membiarkan kamar berantakan dan berbau pesing. Nafsu makannya tetap baik. Ia juga disebut pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang kemudian meninggalkannya setelah menggunakan uangnya. 

Ia belum pernah berobat ke psikiater dan tidak memiliki riwayat gangguan jiwa dalam keluarga. Ia belum bekerja dan masih bergantung secara finansial kepada ayahnya. Ia juga menyangkal penggunaan NAPZA dan rokok, serta mengaku hanya sesekali mengonsumsi alkohol, terakhir satu minggu lalu. Sebelumnya selama 10 bulan, ia tinggal bersama ibunya yang sudah bercerai lama dengan ayahnya, tetapi juga kerap berpindah dan tinggal sendiri di beberapa vila selama berada di Bali.

Ketika materi tidak mampu menahan emosi yang bergejolak

Pertanyaan “Mengapa masih ingin bunuh diri padahal sudah diberi banyak uang?” mudah muncul ketika keluarga merasa telah menyediakan segalanya. Namun, pertanyaan ini menyamakan kesejahteraan material dengan kesejahteraan psikologis. Uang dapat menyediakan tempat tinggal dan kenyamanan, tetapi tidak otomatis menghadirkan rasa dipercaya, diterima, dan aman. Pada AL, perhatian perlu diarahkan kepada pertemuan antara kehilangan hubungan, konflik keluarga, kemungkinan gangguan suasana perasaan, dan kemampuan mengelola tekanan. Penderitaannya tidak dapat diukur melalui jumlah uang yang telah diterimanya.

AL mungkin memperoleh kebebasan berbelanja tanpa merasa memiliki kendali atas kehidupannya atau kedekatan yang menenangkan. Namun, ini merupakan hipotesis psikologis dimana dukungan finansial ayah tidak membuktikan ketiadaan kasih sayang, sebagaimana perceraian orang tua tidak dengan sendirinya membuktikan trauma. Kualitas hubungan harus ditanyakan langsung, bukan disimpulkan dari bentuk keluarga.

Pada usia 19 tahun, ia berada dalam peralihan menuju kedewasaan. Kerangka perkembangan menempatkan pembentukan identitas sebagai tugas penting yang berlanjut menuju kemampuan membangun keintiman. Putus cinta dapat mengguncang jawaban atas pertanyaan, “Siapa saya, dan apakah saya layak dicintai?” Ketergantungan finansial sekaligus keinginan hidup mandiri dapat memperbesar tarik-menarik antara membutuhkan orang tua dan menolak kendalinya. Kerangka ini membantu memahami konteks perkembangan, tetapi tidak menjadikan perilaku membahayakan diri sebagai sesuatu yang wajar hanya karena ia masih muda.

Perubahan perilaku yang terlihat dalam enam minggu terakhir menunjukkan mungkin ia sedang mengalami perubahan kondisi mental yang bersifat episodik. Semangat meningkat, banyak ide, belanja berlebihan, gangguan tidur menurut pengamat, dan penurunan perawatan diri membuat kita perlu memeriksa kemungkinan episode gangguan mood. Bila bipolar terkonfirmasi, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari penyakit yang memengaruhi dorongan, pertimbangan risiko, dan pengendalian diri. Tetapi perubahan emosi saja belum membuktikan adanya gangguan bipolar.

Di lain pihak ia  merasa tidak dipercaya, mengalami perpisahan dengan pasangan, kehilangan uang, dan berkonflik dengan ayahnya. Secara psikologis, pengalaman itu dapat dimaknai sebagai kehilangan hubungan, harga diri, atau kendali. Selain itu cara menghadapi tekanan mungkin sedang tidak memadai. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku berbelanja, kemarahan, atau tindakan melukai diri sebagai usaha memperoleh kelegaan atau menyampaikan penderitaan. 

Adanya ancaman bunuh diri ketika permintaan uang ditolak perlu dipahami secara serius, sekalipun muncul dalam konflik. Ancaman dapat menyampaikan keputusasaan, ketakutan kehilangan hubungan, atau upaya memengaruhi respons orang lain yang menunjukkan fungsi interpersonal tersebut tidak meniadakan kemungkinan kematian. 

Dalam konsep interpersonal bunuh diri, rasa tidak menjadi bagian dari sebuah hubungan dan keyakinan dirinya menjadi beban kehidupan dapat membantu menjelaskan penderitaan yang dialaminya. Luka akibat memecahkan kaca juga tidak otomatis merupakan percobaan bunuh diri. Mengorek tato dengan pisau mengisyaratkan kemungkinan tindakan melukai diri, tetapi tujuan dan keadaan mental saat kejadian masih perlu ditelusuri. 

Memahami perubahan perilaku dan emosi yang terjadi

Secara psikodinamika, AL tampak berada dalam ketegangan antara kebutuhan akan perlindungan dan kebutuhan mempertahankan otonomi. Ayah dapat menjadi penyedia kehidupan sekaligus pihak yang membatasi kebebasan. Sebutan “that woman” mungkin mengungkapkan kemarahan, persaingan relasional, atau pengalaman tidak diakui. Kemarahan AL dapat dipahami sebagai respons terhadap perlakuan yang dianggap melukai atau tidak adil. Ia mengatakan bahwa orang-orang lebih mempercayai cerita ayah dan perempuan tersebut daripada penjelasannya. 

Dalam pengalamannya, keadaan ini mungkin menimbulkan perasaan bahwa suaranya tidak memiliki tempat. Kemarahan juga dapat menjadi cara menghadapi perasaan yang lebih sulit ditoleransi, seperti kesedihan, rasa malu, ketakutan ditinggalkan, atau ketidakberdayaan. Mengungkapkan kemarahan mungkin terasa lebih mudah daripada mengakui betapa menyakitkannya ketika orang yang diharapkan memberikan perlindungan justru dirasakan tidak percaya. Namun, tidak semua kemarahan menyembunyikan emosi lain. Kemarahan yang ditunjukkan AL dapat pula merupakan protes langsung terhadap ketidakadilan yang dirasakannya. Akan tetapi memahami perasaan tersebut tidak berarti membenarkan perilaku yang membahayakan.

Persaingan relasional tidak harus memiliki makna romantis atau seksual. Pada AL, yang mungkin terasa terancam adalah posisinya sebagai anak yang ingin didengar dan dipercaya oleh ayah. Ketika perempuan tersebut dianggap lebih dipercaya, AL mungkin merasa kehilangan tempat dalam hubungan dengan ayahnya. 

Adanya pengalaman tidak diakui dalam konteks ini berarti merasa bahwa perasaan, cerita, kebutuhan, dan kehendaknya tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang layak didengar. AL mungkin merasa orang lain hanya melihat kemarahannya tanpa memahami penderitaan yang menyertainya. Ia juga mungkin mengalami adanya situasi merasa telah ditolak sebelum didengarkan. Kekhawatirannya terhadap luka kaki, sementara perhatian orang lain tertuju pada kondisi mentalnya, dapat memperkuat kesan bahwa kebutuhan yang dianggapnya mendesak tidak dipahami. Demikian pula, keputusan perawatan yang dirasakan dibuat tanpa keterlibatannya dapat menimbulkan pengalaman kehilangan kendali atas diri sendiri.

Belanja berlebihan secara psikodinamik dapat dihipotesiskan sebagai usaha mempertahankan harga diri, menghindari kesedihan, atau memperoleh kelegaan sesaat. Dalam teori belajar, perilaku yang sementara meredakan emosi menyakitkan dapat berulang melalui penguatan negatif. Akan tetapi, pada episode mania, pengeluaran berlebihan juga dapat mencerminkan peningkatan dorongan memperoleh ganjaran dan melemahnya pertimbangan risiko. 

Model diatesis–stres memahami bipolar sebagai interaksi kerentanan biologis dengan pengalaman dan kondisi lingkungan. Ketiadaan riwayat keluarga yang diketahui tidak menyingkirkan kerentanan tersebut. Kehilangan pasangan, konflik, perubahan tempat tinggal, dan gangguan ritme tidur dapat menjadi tekanan yang relevan, tetapi belum terbukti sebagai pemicu episode AL. 

Dalam teori penilaian kognitif, putus cinta bukan hanya peristiwa berakhirnya hubungan tetapi seseorang mungkin memaknainya sebagai kehilangan masa depan, penolakan, atau penghinaan. Seseorang yang kehilangan pasangan mungkin lebih membutuhkan kepastian dari keluarga. Jika ia justru merasa tidak dipercaya, kebutuhan akan kedekatan dapat muncul bersamaan dengan kemarahan terhadap orang yang dibutuhkan. Ia mungkin ingin ditemani sekaligus menolak pendekatan tertentu.

Teori trauma membantu memahami bagaimana pengalaman ancaman atau ketidakamanan berulang dapat membentuk kewaspadaan berlebihan, kesulitan mempercayai orang, dan masalah pengaturan emosi. Terdapat hubungan antara maltreatment masa kecil dan kesulitan regulasi emosi pada gangguan afektif yang telah mengalami remisi. Bila ditemukan riwayat kekerasan atau ketidakamanan berulang, konflik sekarang mungkin mengaktifkan kembali rasa terancam sehingga respons menjadi sangat intens. 

Akan tetapi, perceraian orang tua, tinggal sendiri, atau putus cinta tidak otomatis membuktikan sebagai penyebab munculnya gangguan stress pasca trauma. Model biososial menawarkan penjelasan tambahan dimana kerentanan emosional dapat berinteraksi dengan respons lingkungan yang berulang kali menolak atau meremehkan pengalaman seseorang. Ketika bahasa untuk menyampaikan penderitaan belum efektif, tindakan impulsif mungkin menjadi cara mengurangi ketegangan.

Membangun jalan menuju kehidupan bermakna

Langkah pertama keluarga adalah membantu menciptakan rasa aman. Luka kaki harus ditangani bersamaan dengan evaluasi psikiatri, sehingga AL tidak merasa keluhan fisiknya diabaikan. Laporan ancaman bunuh diri, penggunaan pisau, dan penurunan perawatan diri memerlukan penilaian keselamatan segera. Bila ada niat atau rencana aktif, agitasi berat, atau ketidakmampuan menjaga keselamatan, diperlukan penanganan darurat dan pertimbangan perawatan intensif. Keputusan perawatan didasarkan pada kebutuhan klinis dan bukan sebagai hukuman karena membantah orang tua.

Komunikasi dapat dimulai dengan kalimat, “Kami melihat kamu sangat terluka dan ingin memahami apa yang terjadi.” Validasi mengakui perasaan tanpa harus menyetujui seluruh penafsiran pasien. Ayah juga perlu mendapat ruang menyampaikan ketakutan dan kelelahan, tanpa menjadikan AL sasaran tuduhan. Pertemuan keluarga sebaiknya didahului wawancara individual agar pengalaman yang sulit dapat disampaikan dengan aman. Prinsip pelayanan berpusat pada orang menempatkan martabat, pilihan, dan keterlibatan pasien sebagai bagian perawatan. 

Dukungan finansial kemudian perlu dibuat terstruktur dan disepakati sejauh kapasitas AL memungkinkan. Pembayaran kebutuhan dasar, anggaran bertahap, dan peninjauan pengeluaran bersama dapat mengurangi dampak impulsivitas. Batas tersebut dijelaskan sebagai perlindungan sementara, dengan evaluasi menuju kemandirian. Ancaman bunuh diri tidak ditanggapi dengan tawar-menawar uang atau tantangan untuk membuktikannya, melainkan dengan pemeriksaan keselamatan. Keluarga perlu konsisten untuk hadir secara emosional, menjaga batas, dan meminta bantuan profesional ketika krisis meningkat.

Rencana keselamatan mencakup tanda peringatan, strategi menenangkan diri, orang yang dapat dihubungi, akses pertolongan, dan pengamanan sarana berbahaya. Namun, rencana tertulis bukan pengganti terapi atau tindak lanjut. Jika gangguan bipolar terkonfirmasi, maka pengobatan sesuai fase penyakit perlu dipadukan dengan psikoterapi, edukasi keluarga, dan pemulihan tidur. 

Pemahaman komunitas juga menuntut peta dukungan yang nyata. Siapa yang dapat menemani AL setelah pulang, siapa yang memastikan kontrol berlangsung, dan ke mana ia pergi ketika konflik rumah meningkat? Dengan persetujuan pasien, seorang penghubung layanan dapat membantu koordinasi antara rumah sakit, layanan primer, dan keluarga. Kontinuitas semacam ini menjadi jembatan antara perbaikan gejala di ruang perawatan dan kemampuan bertahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemulihan berlanjut melalui tempat tinggal yang stabil, kegiatan yang bermakna, pendidikan atau pekerjaan bertahap, serta jejaring pertolongan yang disetujui AL. Dukungan spiritual atau budaya dapat dilibatkan bila sesuai keyakinannya, tanpa menggantikan perawatan klinis. Keluarga tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi belajar hadir secara konsisten. Tujuannya adalah agar AL memiliki alasan untuk kembali menjalani hidup dan mendapatkan kesempatan untuk membangun masa depannya. (Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS) 
 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami