Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Inflasi Bali Lampaui Nasional, Badung Tertinggi

Selasa, 3 November 2026, 10:36 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali.com/Gangguang distribusi BBM mempengaruhi inflasi di Bali pada bulan Oktober 2026.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) pada pertengahan Oktober 2026 dan kenaikan harga daging babi turut memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan Provinsi Bali. 

Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan Bali meningkat menjadi 3,87 persen pada Oktober 2026, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,23 persen.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Achris Sarwani menjelaskan, inflasi bulanan Bali pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,25 persen (month-to-month/mtm), lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,32 persen.

Inflasi bulanan terutama didorong terbatasnya pasokan pangan, khususnya sejumlah komoditas hortikultura akibat terbatasnya produksi pada musim kemarau di tengah fenomena El Niño.

Gangguan distribusi BBM yang terjadi sementara pada pertengahan Oktober turut memberikan tekanan terhadap kelancaran distribusi barang di beberapa wilayah. Sementara itu, kenaikan harga daging babi terjadi akibat terbatasnya pasokan di tengah tingginya permintaan pasar.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Bali meningkat dari 3,79 persen pada September menjadi 3,87 persen pada Oktober 2026. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) naik dari 2,49 persen menjadi 2,74 persen.

Badung Catat Inflasi Tertinggi

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2026.

Kabupaten Badung mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,52 persen (mtm), dengan inflasi tahunan mencapai 4,16 persen.

Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,18 persen (mtm) atau inflasi tahunan 3,63 persen. Selanjutnya, Kabupaten Tabanan mencatat inflasi bulanan 0,16 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 4,35 persen.

Sementara itu, Singaraja mengalami inflasi bulanan sebesar 0,10 persen (mtm) atau inflasi tahunan 3,67 persen.

Berdasarkan kelompok komoditas, kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, sawi hijau, kol putih atau kubis, buncis, daging babi, serta laptop/notebook menjadi sumber inflasi bulanan Bali pada Oktober 2026.

Tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, antara lain daging ayam ras, bawang merah, bawang putih, tongkol diawetkan, serta ikan tongkol atau ikan ambu-ambu.

BI Bali Perkuat Pengendalian Inflasi

Bank Indonesia Provinsi Bali terus mendukung langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang akhir tahun 2026.

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar agar inflasi Bali tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 persen ±1 persen.

Ke depan, sejumlah risiko inflasi perlu diwaspadai, terutama potensi berlanjutnya fenomena El Niño kuat hingga awal 2027 serta mundurnya awal musim hujan.

Sebagian besar wilayah Bali diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pemulihan produksi dan pasokan pangan, khususnya komoditas tanaman pangan utama seperti padi.

Selain itu, tingginya harga energi global di tengah ketegangan geopolitik dunia berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan tekanan harga sejumlah komoditas.

Di sisi lain, normalisasi harga pangan setelah kenaikan pada bulan sebelumnya serta pemulihan pasokan hortikultura secara bertahap diprakirakan dapat menahan tekanan inflasi pada November 2026.

Dalam memperkuat pengendalian inflasi, BI Bali bersama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Implementasi strategi tersebut dilakukan melalui rapat koordinasi inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan, serta optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan.

Langkah lainnya meliputi pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani, penguatan koordinasi, serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi Bali pada 2026 diprakirakan tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami