Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




9 Kecamatan Adu Kreasi Lawar di HUT ke-422 Kota Singaraja

Minggu, 29 Maret 2026, 17:48 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Beritabali.com/9 Kecamatan Adu Kreasi Lawar di HUT ke-422 Kota Singaraja.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Suasana halaman Rumah Jabatan Bupati Buleleng tampak semarak pada Minggu (29/3) pagi. Sebanyak sembilan kecamatan di Buleleng ambil bagian dalam lomba ngelawar yang digelar sebagai rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja.

Lomba yang dimulai sekitar pukul 09.00 Wita ini menjadi ajang pelestarian tradisi kuliner khas Buleleng. Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, mengatakan kegiatan ini tidak sekadar lomba, tetapi juga upaya menjaga warisan budaya daerah.

“Lomba ini kita gelar untuk melestarikan tradisi ngelawar di Kabupaten Buleleng. Lawar yang dibuat harus sesuai pakem khas Buleleng,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap peserta wajib mengikuti aturan, mulai dari penggunaan bumbu hingga perlengkapan memasak. Penilaian pun dilakukan secara menyeluruh oleh tiga dewan juri, sejak tahap persiapan hingga penyajian akhir.

“Penilaian dimulai dari persiapan, proses pembuatan, sampai penyajian. Semua harus sesuai aturan yang sudah ditentukan,” tegasnya.

Sementara Sekda Buleleng, Gede Suyasa yang juga menjadi salah satu juri dalam lomba mengatakan, ada tiga aspek utama dalam penilaian lomba ini. Pertama, terkait persiapan dan kebersihan dengan bobot 20 persen. "Kami lihat kelengkapan alat, kebersihan, sampai kesiapan peserta saat memasak,” jelasnya.

Aspek kedua adalah proses pembuatan lawar, mulai dari teknik mengolah bahan, menjaga kebersihan, hingga kerja sama tim. “Bagaimana mereka mengolah bahan, cara memasak, sampai kekompakan tim itu sangat berpengaruh,” tambahnya.

Sedangkan aspek ketiga adalah penyajian dan rasa dengan bobot penilaian terbesar, yakni 40 persen. “Sebagus apa pun prosesnya, kalau penyajian tidak menarik dan rasanya kurang enak, tentu nilainya akan turun,” tegas Suyasa.

Dalam lomba ini, peserta harus mengolah bahan yang telah disediakan, berupa 1,5 kilogram daging babi, 1,5 kilogram balung, serta 1,5 kilogram kulit babi, dengan waktu pengerjaan selama dua jam.

Suyasa menekankan, lawar khas Buleleng memiliki ciri tersendiri. Seperti potongan bahan yang cenderung besar dan bumbu yang kuat serta memiliki cita rasa pedas.

“Ciri khasnya itu potongan bahan seperti kacang, nangka, dan kulit dibuat agak besar, dengan bumbu yang kuat. Bahkan untuk lawar getih, pengolahannya harus disiram minyak panas agar lebih higienis,” jelasnya.

Melalui lomba ini, diharapkan generasi muda semakin mengenal dan mencintai kuliner tradisional khas Buleleng yang menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Humas Buleleng



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami