Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Anggota NATO Cemas Amunisi Menipis Gegara Terus Pasok Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Mantan jenderal Angkatan Darat Inggris sekaligus eks wakil komandan sekutu tertinggi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Eropa, Richard Shirreff, mengaku cemas dengan persediaan senjata negara-negara Barat usai memasok banyak senjata ke Ukraina.
Shirreff mengatakan peralatan militer negara Barat, terutama Eropa, merupakan hal yang penting bagi keamanan nasional maupun keamanan Eropa itu sendiri. Oleh sebab itu, stok senjata negara Eropa mestinya menjadi perhatian serius di tengah kekacauan perang ini.
"Ini sangat penting untuk keamanan nasional dan Eropa. Anda tidak mau menunjukkan kelemahan Anda kepada agresor potensial mana pun. Tapi pada saat yang bersamaan orang-orang perlu memahami bahwa (kekurangan amunisi) ini adalah sesuatu yang serius, sesuatu yang harus segera ditindaklanjuti," kata Shirreff kepada CNN.
Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu, sejumlah negara memang berbondong-bondong membantu Ukraina dengan mengirim alutsista mereka. Rudal anti tank, peluru artileri, hingga peluru tank dipasok Barat ke Kyiv.
Perang yang berlarut-larut itu pun membuat was-was bahwa stok persenjataan negara Eropa menipis karena terus-terusan membantu Ukraina.
Beberapa sumber pertahanan dan keamanan Eropa mengatakan kepada CNN bahwa ada kekhawatiran serius tentang berapa banyak amunisi yang telah digunakan di medan perang dan tak diganti.
"Itu adalah sesuatu yang kita semua ketahui, namun tidak tahu harus berbuat apa," kata pejabat senior pemerintah dari kekuatan militer utama Eropa.
"[Angkatan Bersenjata] telah berulang kali menyuarakan keprihatinan kepada saya tentang hal itu," kata sumber pertahanan Barat lainnya.
Amerika Serikat, selaku pemasok senjata terbesar ke Ukraina sekaligus eksportir militer top dunia saja sampai mengaku kesulitan untuk memenuhi permintaan terkait persenjataan usai membantu Kyiv.
Dalam laporan akhir tahun lalu oleh CNN, para pejabat pertahanan AS khawatir bahwa Washington telah kehabisan beberapa sistem senjata dan amunisi kelas atasnya untuk bisa dikirim ke Ukraina.
Senada, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg juga mengatakan pada Senin (13/2) bahwa "tingkat pengeluaran amunisi Ukraina saat ini berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding tingkat produksi kami saat ini".
Stoltenberg mengaku bahwa hal itu menyebabkan "industri pertahanan kami berada di bawah tekanan".
"Misalnya, waktu tunggu amunisi kaliber besar meningkat dari 12 menjadi 28 bulan. Pesanan yang dilakukan hari ini baru akan dikirim dua setengah tahun kemudian. Jadi kami perlu meningkatkan produksi dan berinvestasi dalam kapasitas produksi kami," ujarnya.
Stoltenberg pun mengatakan NATO saat ini telah menyelesaikan survei amunisi aliansi dan berencana meningkatkan target persediaan.
Dia mencatat bahwa sejumlah kemajuan telah dibuat di antara sekutu NATO seperti AS dan Prancis, yang menandatangani kontrak baru dengan perusahaan pertahanan.
Jerman juga mengumumkan bahwa mereka telah menyetujui kesepakatan baru dengan produsen amunisi terkait sistem pertahanan udara yang telah dikirim ke Ukraina.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2018 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1855 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1375 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1253 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah