Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 April 2026
Delapan Satwa Liar Dilepasliarkan di Danau Buyan–Tamblingan
BERITABALI.COM, BULELENG.
Sebanyak delapan ekor satwa liar dilepasliarkan di kawasan TWA Danau Buyan–Danau Tamblingan sebagai simbol kolaborasi lintas pihak demi keberlanjutan ekosistem Pulau Dewata.
Kegiatan pelepasliaran berlangsung pada Jumat, 28 Februari 2026, pukul 14.00 WITA. Agenda ini diprakarsai oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali bersama Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan (PPS) Bali dengan mengusung tema Kolaborasi untuk Kelestarian Satwa Bali, Sepenuh Hati Alam Bali.
Satwa yang dilepasliarkan terdiri dari satu ekor elang brontok, satu ekor elang ular bido, dua ekor landak jawa, serta empat ekor luwak. Seluruh satwa merupakan hasil sitaan BKSDA Bali dan serahan masyarakat yang telah melalui proses rehabilitasi serta habituasi di PPS Bali.
Sebelum dilepasliarkan, seluruh satwa menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan kajian kesesuaian habitat. Kawasan Danau Buyan–Danau Tamblingan dipilih karena dinilai ideal untuk mendukung karakteristik habitat dan kelangsungan hidup satwa di alam liar.
Kegiatan ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari perwakilan Universitas Udayana, aparat desa adat Tamblingan, tokoh masyarakat, organisasi lingkungan, aparat keamanan, hingga insan media dan fotografer. Dalam sambutannya, Kelian Banjar Tamblingan menyampaikan apresiasi atas pelepasliaran tersebut dan menegaskan bahwa bagi masyarakat setempat, hutan dan danau memiliki nilai spiritual, budaya, serta warisan leluhur. Pelepasliaran ini disebut sebagai wujud nyata penerapan Tri Hita Karana dalam menjaga harmoni manusia, alam, dan Tuhan.
Sementara itu, perwakilan PPS Bali menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dan sinergi yang terjalin bersama BKSDA Bali. Kolaborasi lintas pihak dinilai menjadi kunci agar upaya pelestarian alam dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menegaskan bahwa konservasi tidak berhenti pada pelepasliaran satwa semata. Pihaknya bersama mitra akan melakukan monitoring pasca-pelepasliaran selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan satwa mampu beradaptasi dan berkembang di habitat barunya.
“Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” tegasnya, dalam keterangan Persnya.
Pelepasliaran ini diharapkan mampu memperkuat populasi satwa liar di kawasan Danau Buyan–Danau Tamblingan sekaligus menjadi contoh nyata gerakan konservasi berkelanjutan berbasis kolaborasi di tingkat lokal.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3866 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1821 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang