Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Gebug Sraya, Tarian Memanggil Hujan
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Bali kaya dengan aneka seni dan tradisi unik. Salah satunya adalah tarian sakral yang tergolong klasik yang bernama Gebug Ende atau Gebug Sraya. Tari ini dipercaya dapat mendatangkan hujan di saat musim kemarau.
Disebut tarian ‘Gebug Sraya karena tari ini berasal dari Desa Sraya Kabupaten Karangasem. Dalam setiap pentas, tari ini biasanya dibawakan oleh 10 orang penari.
Baca juga:
Thor: Love and Thunder Tayang Hari Ini
Sebelum Gebug Sraya ini dimulai, para pemain melakukan doa
bersama. Doa ini bertujuan agar pemain diberi keselamatan selama melakukan tarian yang dipadu dengan kontak fisik ini.
Dengan menggunakan tongkat rotan sepanjang 2 meter dan perisai dari anyaman bambu, dua penari Gebug Sraya kemudian saling gebug atau pukul dengan tongkat rotan sambil menari-nari.
Dengan diawasi 2 orang ‘saye’ atau wasit, kedua pemain saling berlomba untuk bisa memukul bagian leher hingga kepala lawan agar bisa tampil sebagai pemenang.
Meski bagian tubuh terluka hingga berdarah akibat pukulan rotan, para pemain atau penari Gebug Sraya mengaku tidak merasa kesakitan.
Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mereka percaya hujan akan segera turun jika darah sudah keluar dari tubuh mereka.
Reporter: bbn/art
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2926 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2048 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2010 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1808 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun