Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Gebug Sraya, Tarian Memanggil Hujan
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Bali kaya dengan aneka seni dan tradisi unik. Salah satunya adalah tarian sakral yang tergolong klasik yang bernama Gebug Ende atau Gebug Sraya. Tari ini dipercaya dapat mendatangkan hujan di saat musim kemarau.
Disebut tarian ‘Gebug Sraya karena tari ini berasal dari Desa Sraya Kabupaten Karangasem. Dalam setiap pentas, tari ini biasanya dibawakan oleh 10 orang penari.
Baca juga:
Thor: Love and Thunder Tayang Hari Ini
Sebelum Gebug Sraya ini dimulai, para pemain melakukan doa
bersama. Doa ini bertujuan agar pemain diberi keselamatan selama melakukan tarian yang dipadu dengan kontak fisik ini.
Dengan menggunakan tongkat rotan sepanjang 2 meter dan perisai dari anyaman bambu, dua penari Gebug Sraya kemudian saling gebug atau pukul dengan tongkat rotan sambil menari-nari.
Dengan diawasi 2 orang ‘saye’ atau wasit, kedua pemain saling berlomba untuk bisa memukul bagian leher hingga kepala lawan agar bisa tampil sebagai pemenang.
Meski bagian tubuh terluka hingga berdarah akibat pukulan rotan, para pemain atau penari Gebug Sraya mengaku tidak merasa kesakitan.
Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mereka percaya hujan akan segera turun jika darah sudah keluar dari tubuh mereka.
Reporter: bbn/art
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5672 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2527 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2191 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2183 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan