Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 13 Mei 2026
Lagi, Limbah Mirip Jelly Foam Muncul di Teluk Bima
BERITABALI.COM, NTB.
Limbah berbentuk Jelly Foam, kembali muncul lagi di perairan Teluk Bima. Kemunculan Jelly Foam ini bersifat sporadis, tidak luas seperti bulan lalu.
Menurut keterangan warga di sekitar pesisir, cemaran tersebut sudah muncul sejak dua hari lalu.
"Sejak air pasang tinggi itu dia muncul lagi. Tapi ga sebanyak sebelumnya," ungkap Ahmad, warga di sekitar Lingkungan Ni'u Kelurahan Sambinae Kota Bima, Jumat (20/5), dikutip Tribun lombok.
Ahmad mengaku, sudah tidak kaget lagi dengan keberadaan Jelly Foam berwarna coklat tersebut. Setelah heboh bulan lalu, kini dirinya sudah terbiasa melihat.
"Dulu juga ada, tapi memang tidak sebanyak yang kemarin waktu hebohnya itu," kata Ahmad.
Dahlan, Ketua kelompok nelayan di Lingkungan Niu mengatakan, beberapa anggotanya sudah mulai aktif melaut meski Jelly Foam muncul kembali.
Meski begitu, diakui hasil tangkapan ikan saat ini berkurang dan tidak seperti biasanya.
"Akibat fenomena ini memang penghasilan kita kurang. Biasanya dapat 100 ribu rupiah, sekarang sedikit kurang," tandas Dahlan.
Muncul kembalinya Jelly Foam ini, juga terlihat di kawasan Pantai Lawata. Padahal pantai ini baru saja dibuka kembali, untuk kawasan pemandian air lautnya.
Kepal Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bima, Syarif Rustaman Syarif mengatakan, petugas DLHK sudah lakukan pengecekan pada Kamis (19/5).
"Anggota kita juga menemukan fenomena yang sama di Teluk Bima. Kita ingin memastikan dulu itu apakah sama dengan kemarin atau tidak," kata Syarif, Jumat (20/5).
Dalam pengecekan tersebut, lanjut Syarif, petugas menemukan Jelly Foam tersebut di permukaan air laut di Lingkungan Niu, Wadu Mbolo dan pesisir pantai Lawata.
Syarif mengatakan, sampel baru dari limbah itu sudah diambil untuk pengujian di Labkesda dan laboratorium internal DLHK
"Paling tidak kita identifikasi dulu jenis kandungannya di Labkesda. Kalau yang sekarang ini dia sporadis, tidak semasif seperti yang Tanggal 27 April 2022," imbuh Syarif.
Ia mengaku, belum bisa memastikan penyebab kemunculan limbah misterius itu, karena harus lakukan pengujian terlebih dahulu.
"Belum bisa kita prediksi nanti kita cek dulu dia," ujarnya.
Lalu bagaimana hasil laboratorium dari Surabaya? Lagi-lagi hasilnya belum diketahui, sehingga pemerintah daerah hanya bisa menunggu.
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1212 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 943 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 774 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 704 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik