Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Mochtar Riady: Jangan Minder, Manfaatkan Teknologi Digital
Laporan Indonesia Digital Conference (IDC) 2019
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Pendiri Lippo Group Mochtar Riady, mengawali pidatonya dengan menceritakan perjalanannya dari Amerika ke Indonesia tahun 1971.
Di bandara Los Angeles, dia membaca buku 'Future Shock' karya Alvin Toffler, beberapa tahun kemudian dia menemukan buku Megatrends karya John Naisbitt dan buku Post-Capitalist Society karya Peter F. Drucker, ketiga buku tersebut berbicara tentang perubahan.
Mochtar Riady pun menceritakan bagaimana Tiongkok melakukan perubahan, ketika tahun 1995, jauh lebih miskin dari Indonesia.
"Pada saat itu, Tiongkok tidak punya 1 km highway pun dan semua jalan dalam kondisi rusak. Tetapi apa yang terjadi setelah 20 tahun, Tiongkok mampu bangkit menjadi negara terkuat kedua di dunia," ujar Mochtar Riady.
Melihat apa yang terjadi di Tiongkok, Pria berusia 91 tahun ini mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak merasa minder pada era digital.
"Jangan lagi berpikir tentang teknologi digitalnya tapi bagaimana memanfaatkannya untuk perdagangan dan administrasi, jadi orang Indonesia jangan minder, Jack Ma mulai alibaba dengan 3 orang, Bill Gates mulai usahanya di garasi, semua perusahaan besar mulai dari kecil," pungkasnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3985 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1383 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 936 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 863 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 734 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun