Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Senin, 14 September 2026
Musim Panen Lobster, Nelayan Yeh Gangga Tabanan Justru Menangis
Jumat, 18 Desember 2015,
19:30 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, TABANAN.
Beritabali.com, Tabanan. Nelayan di Tabanan khusunya di Pantai Yeh Gangga, menangis di saat musim panen lobster seperti saat ini. Pasalnya, lobster yang berhasil ditangkap tidak dapat dijual pasca keluarnya larangan ekspor lobster ukuran dibawah 200 gram dari Kementiran Perikanan dan Kelautan (KKP).
“Dilema yang dihadapi nelayan Tabanan disaat panen lobster seperti saat ini,”jelas Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kabupaten Tabanan I Ketut Arsana Yasa, Jumat (18/12/2015).
Dikatakan, pasca dikeluarkan oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan (KKP), yakni Peraturan Nomor :1/PERMEN-KP/2015 tentang pembatasan penangkapan tiga spesies perikanan penting yakni Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scyla spp.), dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.) yang boleh ukuran di atas 200 gram. Nelayan di Tabanan pun menangis.
“Nelayan kami menangis karena lobster yang didapatkanya tidak laku dijual,” tandasnya.
Sebelum adanya Permen KKP, harga lobster ukuran 100 garm keatas bisa mencapai Rp 400 ribu, dan jika sekali melaut pada musim panen seperti sekarang rata-rata nelayan bisa memperoleh 1 kilogram hingga 3 kilogram.
“Kan lumayan, sekarang nelayan enggan melaut, ongkos operasional bisa tidak kembali,” jelasnya.
Arsana yang kerap disapa Sadam, menjelaskan, di wilayah pantai Tabanan memang menjadi habitat lobster pasir dan jenisnya adalah pegenjah. Jenis pegenjah saat berukuran 100 gram sudah bisa bertelur.
“Memang jenis itu yang banyak di Tabanan,” ujarnya.
Ketut Baret (64) nelayan Yeh Gangga, mengeluhkan penghasilan yang didapat pasca adanya peraturan tentang pembatasan eksport lobster, dia mengatakan jika operasional kadang melebihi penghasilan.
“Sekali melaut modalnya bisa lebih dari Rp 3 juta, termasuk jala dan bensin mesin, karena jika menggunakan bubu (alat tangkap tradisional) hanya bisa masuk ukuran lobster 100-150 gram,” jelasnya.
Pria yang sudah menjadi nelayan selama 30 tahun itu memaparkan pada Bulan Desember hingga Februari memang tangkapan lobster akan meningkat drastis. Sementara untuk tangkapan saat ini dirinya tidak dapat berbuat banyak karena yang laku hanya lobster ukuran 200 gram keatas.
“Ukuran 200 gram jarang didapat, yang dominan 100 gram, itupun terpaksa saya ambil agar bisa nutup biaya operasional, biasanya ada yang beli langsung ke pantai dengan harga Rp 70 ribu perkilo, jika dulu harganya bisa Rp 400 ribu perkilo,” paparnya.
Ia pun berharap agar pemerintah mengevaluasi lagi peratauran terbaru tersebut, agar nelayan di Tabanan bisa tersenyum lagi. [bbn/nod]
Berita Tabanan Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/eng
Berita Terpopuler
01
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 4024 Kali
02
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3413 Kali
03
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2050 Kali
04
05
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026