Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 2 November 2026
Omzet Obat Palsu di Indonesia USD 200 Juta Per Tahun
BERITABALI.COM, BADUNG.
Pemalsuan obat tumbuh pesat di Indonesia, dengan estimasi omzet per tahun sebesar US Dollar 200 juta. Jumlah itu 10 persen dari total farmasi di Indonesia. Ketua Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP), Widyaretna Buenastuti mengatakan, pemalsuan obat dapat menhasilkan penjualan hingga sekitar US Dollar 75 miliar secara global di tahun 2010.
"Pemalsuan obat dapat menimbulkan resiko serius bagi kesehatan masyarakat. Pemakaiannya dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan, bahkan hingga menyebabkan kematian,"jelas Widyaretna, di sela Kongres Federasi Asosiasi Farmasi Asia (FAPA) di Nusa Dua, Bali, Sabtu (15/9/2012).
Sekretaris Jenderal Ikatan Apoteker Indonesia, Nurul Falah menegaskan pihaknya selalu siap untuk ikut membantu memerangi peredaran obat palsu. "Apoteker memiliki kewajiban untuk melindugi pasien dan program sertifikasi meningkatkan kompetensi apoteker dalam mencegah peredaran obat palsu, sekaligus menjamin keselamatan pasien," katanya.
Perwakilan BPOM, Retno Tyas Utami menyampaikan bahwa pihaknya sudah meminta industri farmasi untuk berperan aktif jika obatnya dipalsukan. Ia juga mengaku sudah sejak lama bekerjasama dengan lembaga perlindungan konsumen dalam menghadapi isu pemalsuan obat.
"Obat Palsu merupakan ancaman bagi pasien di Indonesia yang terus berkembang," kata Retno. Prof Akmal Taher dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan, apoteker merupakan pihak bertanggungjawab untuk menyatakan keaslian sebuah produk obat.
"Misal sebuah apotek menyatakan jika obat yang dijual adalah asli. Tetapi siapa yang menyatakan keaslian itu, tidak lain adalah apoteker," ujarnya. Penelitian di lapangan terhadap satu resep obat yang dilakukan pada bulan April hingga Agustus 2012 di Jakarta, Bandung, SUrabaya dan Medan, menunjukkan jika obat palsu dengan mudah dapat ditemukan di toko-toko ritel di kota-kota tersebut, termasuk apotek dan toko obat.
"Penemuan ini cukup mengkhawatirkan. Obat palsu ditemukan di saluran tidak resmi seperti lapak obat pinggir jalan. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya isu ini dan bagaimana peran apoteker menjadi penting dan harus lebih proaktif dalam mengedukasi pasien agar tidak membeli obat resep selain dari apotek," imbuh Akmal.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 292 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 173 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan