Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 April 2026
Pensiunan BUMN Merasa Tenang Berobat Berkat JKN
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada usia lanjut atau masa pensiun menjadi hal yang sangat penting, mengingat fase ini merupakan periode rentan terhadap berbagai penyakit.
Kehadiran Program JKN terbukti mampu menjadi jaring pengaman finansial sekaligus akses kesehatan yang memadai bagi masyarakat, termasuk bagi lansia.
Menjadi peserta JKN sejak dini menjadi pilihan bijak daripada menunggu sakit dan menghadapi berbagai kendala pembiayaan. Hal inilah yang dirasakan oleh Sang Nyoman Oka (68), seorang pensiunan pegawai BUMN.
Oka menjadi peserta JKN sejak dirinya bekerja, iuran JKN telah dipotong dari gajinya, meski saat itu ia mengakui jarang menggunakan layanan kesehatan. Namun, setelah memasuki masa pensiun, ia justru semakin merasakan manfaat penting menjadi peserta JKN. Ia pun segera mendaftarkan diri sebagai peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, sebagai bentuk perlindungan bagi kesehatannya di usia senja.
“Mungkin seperti prinsip orang lain, saat pensiun saya ingin hidup tenang, terutama soal kesehatan. Saya tidak bisa menghindari sakit, tetapi saya harus menyiapkan diri agar tidak kewalahan saat membutuhkan pengobatan. Caranya, saya harus tetap punya JKN,” ujar Oka, Selasa (09/12).
Oka bercerita bahwa setelah pensiun, kondisi kesehatannya mulai menurun. Ia kerap mengalami nyeri pada pinggang, kaki, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Bahkan, saat ini ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Ketika pertama kali merasakan keluhan, ia langsung memeriksakan diri ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Dari sana, dokter merujuknya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
“Hasil pemeriksaan pertama, saya langsung dirujuk ke rumah sakit. Dokter menyatakan saya harus menjalani pemeriksaan lebih detail. Dari situlah saya tahu bahwa saya mengalami saraf terjepit dan harus menjalani fisioterapi rutin,” jelasnya.
Sejak saat itu, Oka menjalani fisioterapi dua kali seminggu melalui Program JKN. Ia merasakan kondisi tubuhnya perlahan membaik dan dapat beraktivitas kembali sebagai penjual bunga. Namun, seiring bertambahnya usia, keluhan kembali muncul dan bahkan menjadi lebih berat. Ia mulai sulit berjalan dan keluarganya mendorongnya mencari pengobatan tambahan.
“Keluarga sempat mengajak saya pengobatan alternatif, tetapi setelah beberapa kali mencoba, saya kembali ke rumah sakit. Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan MRI untuk melihat kondisi saraf saya. Saya percaya pengobatan kepada dokter dan pembiayaan kepada JKN karena selama ini JKN selalu membantu,” katanya.
Hasil MRI menunjukkan bahwa saraf terjepit yang ia alami membutuhkan tindakan operasi. Berbekal JKN, Oka merasa jauh lebih tenang. Ia menjalani serangkaian pemeriksaan pendahuluan guna memastikan kondisinya siap untuk operasi. Dokter juga menjelaskan bahwa seluruh biaya tindakan medis akan ditanggung Program JKN sesuai ketentuan, sehingga ia hanya perlu fokus menjaga kesehatannya.
Selain merasakan manfaat langsung dari pelayanan kesehatan yang ditanggung Program JKN, Oka juga semakin memahami pentingnya menjaga keberlangsungan program ini melalui kepatuhan membayar iuran.
“Program ini benar-benar membantu saya menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Dengan rutin membayar iuran, saya ikut membantu sesama, dan ketika saya sakit, negara membantu saya melalui BPJS Kesehatan. Ini bentuk gotong royong yang sangat saya rasakan manfaatnya,” ungkap Oka.
Selama menjalani pengobatan, Oka berhak mendapatkan layanan rawat inap kelas II sesuai hak kepesertaannya sebagai peserta mandiri. Ia merasa sangat terbantu karena tidak perlu mengkhawatirkan biaya tinggi yang timbul selama proses perawatan.
Oka berharap masyarakat, terutama yang sudah memasuki usia lanjut, dapat memastikan status kepesertaannya aktif agar terlindungi ketika membutuhkan layanan kesehatan.
“Dengan JKN, saya merasa jauh lebih tenang. Saya bisa fokus pada pengobatan tanpa harus memikirkan biaya. Saya harap masyarakat lainnya juga bisa merasakan manfaat ini,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: BPJS Klungkung
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3859 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1809 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang