Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Perdagangan Opium Meningkat Pesat Sejak Taliban Berkuasa
BERITABALI.COM, DUNIA.
Semakin banyak rakyat Afghanistan tanam opium untuk bertahan hidup di tengah kemiskinan ekstrem. Taliban tampaknya tidak akan melarang penanaman komoditi narkotika ini.
Budidaya opium sebagai tanaman obat memang punya sejarah panjang di Afghanistan. Getah yang diekstraksi dari biji poppy yang dikeringkan ini sangat berguna untuk menghasilkan opium mentah, bahan baku untuk obat bius.
Saat ini opium digunakan terutama sebagai bahan mentah untuk produksi obat-obatan yang lebih kuat seperti obat penghilang rasa sakit dan heroin. Pada musim panen tahun 2021 yang berakhir Juli lalu, diperkirakan 6.800 ton opium telah diproduksi di Afghanistan. Jumlah ini meningkat sekitar 8 persen dari hasil panen tahun 2020, menurut laporan Badan PBB untuk Narkoba dan Kriminalitas (UNODC) baru-baru ini.
Menurut laporan tersebut, Afghanistan menyumbang 85 persen dari produksi opium global, dan opiat dari Afghanistan dipakai oleh sekitar 80 persen pengguna di seluruh dunia.
UNODC mengestimasikan bisnis opium di Afghanistan menghasilkan antara $1,8 miliar hingga $2,7 miliar (sekitar Rp25,8 hingga Rp38,7 triliun) pada tahun 2021, atau sekitar sepersepuluh dari kegiatan ekonomi di negara itu.
Organisasi ini mengatakan berkuasanya kembali Taliban pada Agustus 2021, dan ketidakpastian ekonomi yang berlarut-larut, mendorong harga opium pada Agustus dan September mencapai rekor tertinggi baru.
"Ini memperkuat insentif untuk budidaya opium," kata laporan itu. Tidak semuanya bisa dikendalikan "Produksi opium di Afghanistan akan terus meningkat," demikian menurut seorang mantan perwira militer Afghanistan yang tidak mau disebutkan namanya.
"Menanam opium adalah sumber pendapatan yang terjamin bagi para petani dan banyak pengangguran yang kini kembali ke desa mereka dari kota-kota," kata perwira militer itu. Identitasnya tidak diungkap karena alasan keamanan.
Sebelum Taliban mengambil alih kuasa, ia tergabung dalam unit khusus tentara Afghanistan yang bertugas memerangi kejahatan terkait narkoba.
"Kami tidak bisa mengendalikan semuanya pada saat itu," petugas itu mengakui. "Utamanya di daerah-daerah terpencil, Taliban punya pengaruh lebih besar dan melindungi petani opium.
Jika Taliban mau, mereka dapat menghambat produksi opium, mereka pernah melakukan ini sebelumnya."
Selama periode pertama pemerintahan Taliban dari tahun 1996 hingga 2001, mereka melarang produksi opium, yang mengakibatkan produksi anjlok pada tahun 2001.
Namun, setelah Taliban digulingkan dari kekuasaan pada tahun yang sama, produksi opium melonjak lagi.
Kini Taliban mengklaim ingin memerangi penanaman opium dan perdagangan narkoba di Afghanistan. Setelah mengambil alih kekuasaan pada bulan Agustus 2021, Taliban mengumumkan niat mereka untuk mengurangi produksi opium hingga nol.
Namun Taliban dikenal menggunakan perdagangan narkoba untuk membiayai operasi militan mereka.
Menurut pemerintah Amerika Serikat, sekitar 60% dari pendapatan tahunan Taliban dihasilkan dari penanaman dan perdagangan narkoba. Perdagangan opium kemungkinan akan berlanjut Thomas Ruttig dari Jaringan Analis Afghanistan mengatakan bahwa Taliban bukan satu-satunya faktor pendorong bagi pergerakan ekonomi dari hasil produksi narkoba di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir.
"Pemerintah sebelumnya telah berjuang melawan pengaruh Taliban di daerah pedesaan, dan banyak dari rakyatnya terlibat langsung dalam penyelundupan narkoba," kata Thomas Ruttig.
Analis mengatakan pasukan Barat di Afghanistan sering bekerja sama dengan panglima perang, komandan, dan pejabat pemerintah yang terlibat dalam perdagangan narkoba, dan jarang melakukan apa pun untuk menghentikan aktivitas itu.
Ruttig menambahkan bahwa dia tidak yakin bahwa Taliban benar-benar ingin mengenyahkan produksi opium di Afghanistan.
"Mereka tidak ingin melakukannya, dan mereka tidak bisa melakukannya, karena mereka akan kehilangan pendukung utama di pedesaan," kata Ruttig.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3994 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1384 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 937 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 863 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 734 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun