Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 5 Agustus 2026
Perkenalkan Warung Padang Nak Bali di Gianyar, Langganan Sopir Transport Singakerta
beritabali/ist/Perkenalkan Warung Padang Nak Bali di Gianyar, Langganan Sopir Transport di Singakerta.
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Nyoman Sudarmayasa sudah 8 tahun berkecimpung membuka usaha warung makan. Bukan lawar, melainkan masakan khas Padang di Jalan Banjar Labak, Desa Singakerta, Kecamatan Sukawati. Peluang itu diambil karena di Singakerta belum ada warung Padang.
Usahanya buka pukul 10.00-24.00 menjual berbagai menu Padang. Dari tempe, ayam hingga rendang, lengkap dengan sayur singkong khas dan sambal hijau.
“Saya dari dulu skill saya senang masak. Dulu saya masakan Bali, karena menu Bali sudah banyak, maka saya beralih ke Padang,” ujar dia, Jumat (3/2).
Diakui, awal merintis cukup sulit. “Karena bumbu ada bedanya. Kalau Padang, tidak pakai kencur. Kami racik sendiri, blender. Kalau orang Padang sekali bikin bumbu, dipakai berulang kali. Kalau kami blender untuk keperluan masak, jadi fresh,” jelasnya.
Dia mengaku sudah punya langganan sopir transportasi. “Kami dikasih tahu saya sopir, coba masak Padang. Akhirnya saya coba. Apalagi tempat kan tidak ngontrak, modal saya keberanian saja,” ujar dia.
Awal mendirikan, modal Rp 60 juta dengan mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR). Keberanian membuka usaha tak lepas dari peluang yang diperoleh.
“Kalau lawar, masakan Bali sudah banyak sekali. Maka kami masakan Padang, pengajian juga Padang,” ujarnya.
Untuk harganya bersahabat. Ada paket Rp 10.000. “Kalau orang desa, bisa beli nasi Rp 7.000. Tetap kami berikan. Kalau Rp 7.000 kami kasih tempe, sayur, dan kuah. Supaya bisa menikmati kuah sedikit. Ada sambel merah dan hijau,” ujarnya.
Untuk paket komplit, termahal Rp 20 ribu, dengan lauk ayam atau rendang. “Yang belanja, ada sopir, siapa saja, orang Jawa juga banyak yang belanja,” ujarnya.
Dia memberikan mindset bahwa peluang di luar kebiasaan bisa diambil. “Kalau Gianyar, jualan lawar, be guling. Sekarang ubah profesi, jual masakan Padang Bali,” ujarnya.

Dengan kondisi perekonomian yang membaik usai Covid-19, dagangan laku. “Kalau habis ini semua Rp 5 juta. Kalau sepi Rp 1,5 juta. Pegawai kami keponakan,” ujarnya.
Pihaknya memberikan support kepada pemuda Bali, agar terus belajar. “Saya siap kok mengajari. Ayo kita bersaing sehat. Misalnya jualan pecel lele Bali, ayo kalau mau belajar, kami siap ajari. Yang penting ada niat,” ujarnya.
Untuk menemukan racikan dan rasa, memang perlu belajar pelan-pelan. “Kalau saya merasakan ada perbedaan, dari sisi bumbu. Kalau yang lain agak pengah, kalau disini tidak pengah, itu bedanya masakan kami,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 2639 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1267 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 908 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 830 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 657 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun