Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Pura Negara Gambur Anglayang, Pura Dengan Pelinggih Melayu Hingga Islam
BERITABALI.COM, BULELENG.
Beritabali.com, Buleleng. Pura Negara Gambur Anglayang adalah salah satu pura yang mencerminkan keberagaman di Bali Utara. Pura yang memperlihatkan ciri mutikultural tersebut memiliki delapan pelinggih yang mencerminkan unsur keberagaman. Masing-masing pelinggih mewakili unsurnya masing-masing, seperti Sunda, Melayu, Budha, Hindu, dan Islam.
[pilihan-redaksi]
Demikian teruangkap dalam sebuah artikel berjudul “Identifikasi lansekap Pura Negara Gambur Anglayang di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng” yang dipublikasikan dalam Jurnal Arsitektur Lansekap, Volume 4, Nomor 2 Tahun 2018. Artikel tersebut ditulis oleh I Gede Bagus Reza Widiarsa Samba, Cokorda Gede Alit Semarajaya dan I Nyoman Gede Astawa dari Universitas Udayana.
I Gede Bagus Reza Widiarsa Samba dan kawan-kawan menuliskan pura yang terdapat di Desa Pekraman Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng tersebut memiliki pelinggih Ratu Bagus Sundawan sebagai unsur Sunda, pelinggih Ratu Bagus Melayu sebagai unsur Melayu, pelinggih Ratu Ayu Syahbandar sebagai unsur China/Budha, pelinggih Batara Surya, pelinggih Ratu Pasek, pelinggih Dewi Sri, pelinggih Ratu Gede Siwa sebagai unsur Hindu/Bali, dan pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah sebagai unsur Islam. Uniknya kedelapan pelinggih ini berada dalam satu area tanpa adanya dinding pemisah antara pelinggih.
Pura Negara Gambur Anglayang awalnya merupakan pusat perdagangan yang dikelilingi oleh benteng yang disebut Kuta Banding (Benteng Perang), tempat seluruh pedagang baik dari suku, ras, dan agama yang berbeda-beda dari pulau-pulau lainnya berkumpul di sana melakukan transaksi. Tempat itu dipercaya bisa memberi mereka kehidupan, sehingga berbagai manusia berlainan keyakinan dan kepercayaan itu membangun sebuah pura. Pura ini merupakan lambang agama dipercaya sebagai satu tujuan manusia, dari manapun ia berasal.
Pura Negara Gambur Anglayang memiliki arti yaitu pura berarti tempat ibadah atau melakukan persembahyangan, Negara berarti Negara, Gambur berarti suara genta/Bajra, Anglayang berarti mengudara. Jadi artinya pura yang mengeluarkan suara genta/bajra yang mengudara hingga terdengar ke seluruh Negara. Pura Negara Gambur Anglayang terletak di pinggir Pantai Kuta Banding, dengan jarak 100 m dari bibir pantai dan memiliki luas tapak 1.300 m².
Pura Negara Gambur Anglayang dikelola oleh Pengempon, Pengemong, dan Penyiwi. Pengempon adalah mereka yang memimpin dan memberi tugas untuk melakukan upacara tetap dan pembinaan pura. Pengemong/karma adalah masyarakat atau desa terdekat dengan pura yang merupakan tenaga pelaksana-pelaksana upacara dan perawatan pura dikoordinir oleh pengempon. Penyiwi adalah masyarakat luar yang melakukan pemujaan di pura tersebut. Jumlah karma /anggota berjumlah 525 orang yang terdiri dari semua masyarakat desa Kubutambahan dan semuanya beragama Hindu. [bbn/ Jurnal Arsitektur Lansekap/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli