Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 18 Mei 2026
Sempat Minta Telpon, Ibu Gede Budiarsana: Tumben Saya Rindu
BERITABALI.COM, BULELENG.
Kepergian Gede Budiarsana (34) menyisakan duka yang mendalam pada keluarga. Terlebih bagi ibundanya Nyoman Srimini (66).
Tak disangka, anak bungsu yang menjadi tulang punggung keluarga itu pergi untuk selamanya dengan cara mengenaskan, dibacok senjata tajam di kawasan Monang-maning Denpasar Jumat (23/07).
Sejak berita kepergian Gede Budiarsana merebak, Nyoman Srimini yang berada di rumah duka di Banjar Dinas Kubuanyar, Desa/Kecamatan Kubutambahan selalu lari keluar rumah jika mendengar sirine mobil ambulance. Ia pikir ambulance tersebut membawa jenazah anaknya, pihak keluarga pun sudah berusaha menenangkan.
Sebelum kepergian anaknya, Nyoman Srimini mengaku sejak enam hari lalu merasa kerinduan yang berlebih. Bahkan dari kerinduan tersebut berulang kali melakukan panggilan video dengan Gede Budiarsana yanv bekerja sebagai security di Denpasar.
"Gede ini sibuk bekerja, makanya tiang malam-malam telepon. Biar sekedar bisa ngobrol dengan Gede. Memang aneh karena terus merasa rindu sejak beberapa hari," ungkapnya.
Gede Budiarsana ketika melakukan panggilan video juga sempat beberapa kali melambaikan tangan. Ia juga memberitahu bahwa akan pulang ke Kubutambahan dua hari lagi untuk melayat.
"Ada keluarga yang meninggal dan ada juga yang tiga bulanan," terangnya.
Beberapa hari kemudian, Gede Budiarsana pulang bersama kakaknya Ketut Widiada alias Jro Dolah pulang ke Kubutambahan pada Rabu (21/07) lalu. Sebelum berangkat melayat ke Tajun, Gede Budiarsana sempat dipeluk beberapa kali oleh sang anak.
"Tumben seperti itu. Saya sangat sayang dengan Gede. Kalau boleh biar saya yang duluan mati, karena kasihan anak-anaknya masih kecil-kecil," imbuhnya.
Kerabat korban Gede Budiarsana, Kadek Benny Wandana (31) mengatakan setelah melayat, korban kembali ke Denpasar bersama kakaknya untuk bekerja. Namun takdir berkata lain, Gede Budiarsana tewas bersimbah darah di tengah jalan setelah terlibat cekcok masalah kendaraan dengan anggota ormas.
"Mewakili keluarga almarhum merasa kehilangan yang sangat mendalam. Apalagi almarhum merupakan tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya yang meninggal setahun lalu,"ungkapnya.
Benny Wandana menambahkan pihak keluarga meminta agar pelaku dapat di proses hukum dengan seadil-adilnya. "Apapun yang menjadi permasalahan sudah kami serahkan ke aparat penegak hukum dan menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke pihak kepolisian," terangnya.
Selaku BPD desa Kubutambahan, pihaknya bersama kadus Kubuanyar dan pemerintah desa Kubutambahan akan memastikan ketiga anak korban mendapatkan bantuan sehingga mendapat jaminan pendidikan yang layak.
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1544 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1162 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1011 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 890 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah