Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 23 Mei 2026
Skandal Rp1.605 Triliun Menyingkap Deretan Nama di Belakang Adani
BERITABALI.COM, DUNIA.
Seluruh perusahaan Grup Adani mengalami aksi jual besar-besaran, membuat total kerugian melebihi US$ 110 miliar atau setara Rp1.605 triliun pada penutupan (Jumat, 3/2/2023) kemarin. Anjloknya saham Adani Enterprises India tak terlepas karena publikasi laporan kritis ekstensif penjual pendek Hindenburg Research Amerika Serikat.
Dilansir dari CNBC International, laporan Hindenburg menuduh konglomerat tersebut melakukan "manipulasi saham yang kurang ajar dan skema penipuan akuntansi selama beberapa dekade."
Namun demikian, Gautam Adani membantah dengan keras telah melakukan kesalahan. Adani Enterprises telah menderita kerugian terbesar di antara banyak perusahaan yang terdaftar di grup yang lebih luas, kehilangan lebih dari 60 persen kapitalisasi pasarnya atau lebih dari $30 miliar, antara publikasi laporan pada 24 Januari dan penutupan perdagangan Kamis.
Grup Adani dengan tegas menyangkal tuduhan tersebut, menyebut laporan tersebut "tidak lain hanyalah kebohongan" dari "Madoffs of Manhattan" dalam balasan setebal 413 halaman yang gagal menenangkan sentimen investor yang gelisah dan mengendalikan aksi jual yang cepat.
Adani memiliki 64 persen saham Adani Enterprises, keluarga Adani SB memegang 55,27 persen, sedangkan 8,73 persen dimiliki oleh Adani Tradeline Pvt Ltd, di mana Gautam dan saudaranya Rajesh Adani menjadi direktur pengendali.
Sementara itu, pemegang saham terbesar ketiga adalah Perusahaan Asuransi Jiwa India milik negara sebesar 4,02 persen.
Namun demikian, Menteri Urusan Parlemen India Pralhad Joshi mengatakan bahwa pemerintah tidak memiliki hubungan dengan masalah Adani.
"Tidak ada hubungannya dengan masalah Adani," kta Pralhad Joshi kepada wartawan, dikutip Minggu (5/2/2023).
Adapun daftar 20 pemegang saham teratas Adani Enterprises juga mencakup dua nama terbesar di Wall Street, yakni Vanguard memiliki 0,75 persen saham, sementara BlackRock Fund Advisors memegang 0,57 persen dan BlackRock Advisors (U.K.) Ltd memiliki 0,17 persen saham.
Menurut data kepemilikan, Elara Capital merupakan pemegang sahm institusional terbesar hingga Februari 2022, saat ini memiliki 1,7 persen saham Adani Enterprises.
Hindenburg menuduh dana Elara yang berbasis di Mauritius sebagai bagian dari rencana untuk memanipulasi harga saham perusahaan milik Grup Adani dan menyembunyikan berapa banyak yang dimiliki keluarga. Elara sejak itu melepas 72% saham yang dipegangnya di perusahaan, menurut data FactSet.
Elara Capital, Johnson, Vanguard, dan BlackRock Fund Advisors tidak segera menanggapi permintaan komentar dari CNBC.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2023 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1864 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1380 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1258 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah