Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Skrining Kesehatan Jiwa Remaja Digelar di Songan Kintamani

Jumat, 27 Februari 2026, 22:55 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Skrining Kesehatan Jiwa Remaja Digelar di Songan Kintamani.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BANGLI.

Upaya memperkuat ketahanan mental generasi muda terus digencarkan. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana melalui Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan dan skrining kesehatan jiwa bagi siswa dan orang tua di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Jumat (27/2/2026).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas institusi antara Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial Universitas Bali Dwipa, Puskesmas Kintamani 5, SMPN 4 Kintamani, serta Perangkat Desa Songan B. Sinergi tersebut dilakukan untuk menjawab tantangan kesehatan mental remaja di tengah perkembangan era digital.

Tim pengabdian dipimpin oleh Prof. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, dr., Sp.K.J., Subsp.K.(K), MARS selaku Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa FK Universitas Udayana, bersama Dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dr., Sp.K.J.(K), psikolog klinis Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial Universitas Bali Dwipa, serta tujuh dokter residen Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Bertempat di SMPN 4 Kintamani, kegiatan difokuskan pada peningkatan literasi kesehatan mental remaja. Para siswa dibekali pemahaman mengenai berbagai tantangan kesehatan mental, seperti tekanan akademik, perundungan, dinamika pertemanan, serta dampak penggunaan media sosial. Siswa juga diedukasi pentingnya mengenali tanda-tanda awal gangguan emosional dan keberanian untuk mencari bantuan profesional.

Sebagai langkah pencegahan, dilakukan skrining kesehatan jiwa menggunakan instrumen PHQ-9 (Patient Health Questionnaire-9) untuk mendeteksi gejala depresi secara dini. Siswa yang teridentifikasi membutuhkan perhatian lanjutan diberikan kesempatan mengikuti sesi konseling serta pelayanan kesehatan jiwa bersama dokter spesialis dan psikolog klinis.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan di Balai Desa Songan B dengan melibatkan Kepala Desa I Ketut Sabtu, para orang tua siswa, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Kintamani 5. Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan edukasi terkait tantangan kesehatan mental remaja di tengah arus digitalisasi, perubahan budaya, serta dinamika generasi Z. Orang tua juga dibekali strategi pola asuh suportif dan teknik komunikasi efektif dalam keluarga.

Selain itu, kegiatan dilengkapi dengan pelatihan teknik Meditasi Suryani Spirit sebagai pendekatan pengelolaan stres yang mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual. Diskusi interaktif membuka ruang bagi orang tua untuk berbagi pengalaman, kendala, sekaligus memperoleh solusi langsung dari para ahli. Sesi konseling individu juga disediakan bagi orang tua yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Prof. Cokorda Bagus Jaya Lesmana menegaskan bahwa deteksi dini dan peningkatan literasi kesehatan jiwa di lingkungan sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk mencegah beban gangguan mental di masa depan. Sementara itu, Dr. Anak Ayu Sri Wahyuni menyampaikan bahwa remaja membutuhkan ruang aman untuk memahami emosi mereka, sehingga edukasi dan skrining menjadi langkah penting agar remaja mengetahui kapan harus mencari pertolongan.

Kepala Desa Songan B mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, isu kesehatan mental remaja kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat besar bagi keluarga dan lingkungan desa. Dengan adanya edukasi dan konseling langsung dari para ahli, masyarakat diharapkan semakin terbuka dan siap mendampingi anak-anak mereka.

Respons positif juga datang dari siswa dan orang tua. Para siswa mengaku semakin memahami bahwa perasaan sedih, cemas, atau tertekan bukanlah sesuatu yang memalukan, serta mengetahui adanya cara dan pihak yang dapat membantu. Sementara orang tua menilai kegiatan ini membuka wawasan tentang pentingnya komunikasi empatik dan kemampuan mengenali tanda-tanda anak membutuhkan bantuan profesional.

“Sebagai orang tua, kami sering bingung menghadapi perubahan perilaku anak remaja di era digital. Diskusi hari ini membuka wawasan kami tentang pentingnya komunikasi yang lebih empatik dan bagaimana mengenali tanda-tanda anak membutuhkan bantuan profesional,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa FK Universitas Udayana menegaskan komitmennya dalam membangun kesadaran bahwa kesehatan jiwa merupakan fondasi penting bagi masa depan generasi muda. Pendekatan promotif, preventif, dan kuratif yang melibatkan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang lebih peduli dan responsif terhadap kesehatan mental remaja di Desa Songan, Kintamani.

“Dari Desa Songan, Kintamani, kita kirimkan pesan bahwa menjaga kesehatan jiwa adalah tanggung jawab bersama. Ketika ilmu, empati, dan kepedulian bertemu, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat, berkarakter, dan penuh harapan, karena remaja yang sehat secara mental adalah investasi masa depan bangsa" kutip Prof. Cokorda.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami