Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 23 Mei 2026
Suriah Diduga Bermain Politik Soal Bantuan Gempa
BERITABALI.COM, DUNIA.
Suriah dituduh bermain politik dengan bantuan kemanusiaan pascagempa. Hal ini muncul setelah duta besar Suriah untuk PBB, Bassam Sabbagh, mengatakan negaranya harus bertanggung jawab atas pengiriman semua bantuan ke Suriah, termasuk daerah-daerah yang tidak berada di bawah kendali pemerintah negara tersebut.
Kepada wartawan di New York, Amerika Serikat (AS), Sabbagh mengatakan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meyakinkan negaranya bahwa badan tersebut akan melakukan semua yang dapat membantu Suriah menangani situasi yang sangat sulit ini.
Namun Sabbagh tidak menanggapi secara langsung saat ditanya apakah Suriah akan setuju untuk mengizinkan PBB mengirimkan bantuan melalui titik penyeberangan lain dari Turki jika memungkinkan. Sabbagh hanya mengatakan pemerintah siap membantu dan mengoordinasikan pengiriman bantuan "ke semua warga Suriah di seluruh wilayah Suriah".
Sengketa atas kontrol bantuan di samping kendala cuaca, jalan yang hancur, dan titik persimpangan yang ditutup, telah menghambat upaya bantuan ke Suriah utara, yang dikuasai oleh kelompok pemberontak.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mengatakan banyak jalan ditutup akibat kerusakan dan salju, menambahkan sebelum bencana sebanyak 4 juta orang bergantung pada bantuan dari seberang perbatasan. Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengatakan khawatir ribuan anak tewas di kedua sisi perbatasan Suriah-Turki akibat gempa.
Pemerintah di Damaskus mengizinkan bantuan untuk memasuki wilayah tersebut hanya melalui satu penyeberangan perbatasan. Mereka menolak untuk membuka bantuan ke wilayah utara karena menganggap bantuan itu merusak kedaulatan Suriah dan mengurangi peluangnya untuk memenangkan kembali kendali atas wilayah tersebut.
"Daerah yang paling parah terkena dampak gempa di dalam Suriah tampaknya dijalankan oleh oposisi yang dikendalikan Turki dan bukan oleh pemerintah Suriah," kata Mark Lowcock, mantan kepala urusan kemanusiaan PBB, dikutip The Guardian, Rabu (8/2/2023).
"Ini akan membutuhkan persetujuan Turki untuk mendapatkan bantuan ke daerah-daerah tersebut. Tidak mungkin pemerintah Suriah akan berbuat banyak untuk membantu," tambahnya.
Andrew Mitchell, Menteri Bantuan Inggris, juga mengakui masalah pengiriman bantuan ke Suriah utara. Ia mengatakan Inggris akan bekerja sama dengan pasukan pertahanan sipil Helm Putih seperti yang telah dilakukan selama bertahun-tahun di wilayah tersebut.
Namun, dia mengatakan lebih banyak titik penyeberangan dari Turki ke Suriah utara yang perlu dibuka.
Hingga Rabu siang, korban tewas yang telah terkonfirmasi mencapai 8.364 orang. Data resmi pemerintah dan otoritas medis mencatat sebanyak 5.894 orang tewas di Turki dan 2.470 lainnya di Suriah.
Namun di Suriah utara, jumlah korban tewas kemungkinan akan meningkat secara dramatis karena ada ratusan keluarga yang tertimbun reruntuhan, dan banyak kota di mana tidak ada tim penyelamat yang muncul.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2023 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1864 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1380 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1258 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah