Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 3 November 2026
Tenun Endek Loloan Tetap Eksis Demi Kelestarian Warisan Leluhur
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Pengrajin kain tenun endek khas Loloan memang identik dengan kearifan lokal, dimana khas sarung yang digunakan saat tradisi khitanan anak dan acara perkawinan terutama mempelai laki-laki.
Dalam proses pengerjaannya, kain sarung ini dikerjakan dalam 1 hari dengan hasil 1 buah kain dengan tenaga 1 orang. Diketahui bahan benang masih dicari dari pulau Jawa. Untuk pengerjaan tenun biasanya dikerjakan sendiri, dimana bahan alat tenun dinamakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
Benang diolah kembali sesuai warna yang diinginkan. Hasil dari kain sarung tenun ini dijual seharga Rp480 ribu, dengan cara memesan barang tersebut.
Rahmat Hidayat (40) selaku pengusaha tenun Endek khas Loloan yang tinggal di Lingkungan Kerobokan Kelurahan Loloan Barat Kecamatan Negara, Jembrana mengatakan, untuk pesanan per-sarung dibutuhkan hanya satu hari. Dengan corak dan motif sesuai pesanan pelanggan.
"Kami juga menyiapkan kain sarung tenun khas Loloan di rumah jika ada yang membeli bahkan meminta motif sendiri, akan tetapi yang paling dominan adalah motif endek dan pengerjaannya juga tidak mengalami kesulitan," katanya.
"Kesulitan ketika di masa pandemi awal hingga saat ini walau bisa bisa berjalan akan tetapi daya beli masyarakat menurun, hanya pesan-pesan orang menikah dan khitanan itupun tidak signifikan," ujar Rahmat Kamis (23/09/2021).
Rahmat Hidayat menambahkan, kerajinan ini tetap dijalankan di masa pandemi, untuk mempertahankan nilai budaya warisan leluhur. Kurang lebih 80 tahun menggeluti kerajinan tenun sarung khas Melayu.
"Budaya warisan leluhur tetap dilestarikan hingga dari kakek Suni Abdul Majid ke orang tua bapak Husien Suni yang sudah almarhum dan kini ke saya sebagai penerus kerajinan tenun sarung khas Melayu. Dan saya mewariskan ini sudah yang keturunan ke tiga dari generasi tersebut," Rahmat.
Ia mengakui kendala yang dihadapi saat ini adalah sumber daya manusia, karena anak-anak muda sekarang tidak mau ditempa dengan kesulitan, bahkan suka yang instan. Ia berharap agar pemerintah membuat pelatihan bagi anak muda agar mau dan suka berbisnis apalagi ini adalah warisan yang tetap harus dilestarikan.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 552 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 411 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 407 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan