Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 5 Agustus 2026
Wabah PMK, Peternak di Jembrana Khawatir, Penjualan Lesu
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Mewabahnya virus penyakit mulut dan kuku (PMK) di beberapa daerah di Jawa, membuat peternak mulai khawatir dan penjualan sapi lesu di Jembrana.
Diketahui, penyakit mulut dan kuku (PMK) saat ini statusnya sedang darurat di Jawa Timur, sehingga karantina hewan Bali menghentikan pengiriman dan penerimaan kambing dan sapi baik dari Bali atau sebaliknya.
Dengan keadaan tersebut, baik peternak dan pengepul sapi dan kambing mulai merasakan dampak ekonominya. Selain itu, mereka juga merasakan khawatir dengan adanya wabah tersebut.
"Jelas kami sebagai pengepul kambing merasa was-was dengan adanya virus PMK ini. Selain itu dampak yang paling signifikan adalah menurunnya jumlah permintaan," ungkap pengepul sapi dan kambing di Jembrana, H. Fathul Mobin, Kamis (12/05/2022).
Hal serupa juga diungkapkan pengepul sapi di Desa Banyubiru Kecamatan Negara I Ketut Artawa. Akibat merebaknya wabah PMK ini berdampak pada menurunnya pengiriman sapi ke Jawa, maupun sebaliknya ke Bali.
"Karena ada larangan pengiriman sapi ke Jawa maupun ke Bali, otomatis dampaknya sangat terasa," Ungkapnya.
Diharapkan pemerintah terkait segera turun tangan agar wabah penyakit mulut dan kuku tidak sampai mebawah ke Kabupaten Jembrana.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 919 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 883 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 800 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 469 Kali
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 401 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun