Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Yuyun, Kerusakan Sosial dan Busuknya Peradaban

Jumat, 6 Mei 2016, 13:05 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Beritabali.com, Jakarta. Perkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun adalah bukti bahwa kerusakan sosial dan membusuknya peradaban sudah sangat parah,sangat berat.
 
Ada 14 tersangka yang bertindak amoral dan asosial,dengan kekejian di luar batas, dan mereka harusnya dijatuhi hukuman mati atau hukuman seberat-beratnya.
 
Bayangkan, 14 remaja itu memperkosa Yuyun beramai-ramai dan kemudian membunuh Yuyun. Sungguh, mereka layak dihukum mati atau seberat-beratnya jika terbukti bersalah secara hukum. Celakanya, tujuh dari 14 pelaku berusia di bawah 18 tahun dan ada yang satu sekolah dengan korban. Meski perawakan mereka besar dan bisa diketagorikan dewasa, tetapi di mata hukum mereka tetap anak-anak dan jika pengadilan menjerat mereka dengan UU Perlindungan Anak, maka ancaman hukuman maksimal yang akan dijatuhkan adalah 15 tahun.
 
Presiden Jokowi mengaku turut bersedih mendengar kabar tersebut. "Kita semua berduka atas kepergian YY yg tragis," ucap Jokowi, Rabu (4/5/2016).
 
Jokowi pun mendesak agar pihak kepolisan mengusut dan memberikan hukuman yang berat kepada para pelaku tindakan bejat tersebut. "Tangkap & hukum pelaku seberat2nya," tegas Jokowi.
Awal April lalu, Yuyun, gadis kecil berusia 14 tahun, baru pulang sekolah dan melintasi kebun karet di daerah Lembak, kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu ketika sejumlah pemuda menggodanya. Ia tidak menggubrisnya.
 
Ketika salah seorang pemuda menarik tangannya Yuyun masih bisa menepisnya. Tapi ketika empat pemuda lainnya menyeretnya ke kebun karet, ia tak kuasa melawan. Juga ketika 10 orang lainnya merobek seragam pramuka yang dikenakannya, mencekik lehernya dan menghantamkan sebatang kayu ke kepalanya. Yuyun pingsan.
 
Mayatnya ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadaan nyaris membusuk. Visum dokter menunjukkan penganiayaan seksual yang mengerikan.
 
Kepolisian telah mengatakan ada 14 pelaku pemerkosaan, 12 orang di antaranya telah ditangkap. Hingga kini kasus kematian Yuyun yang sangat tragis tersebut masih ditangani oleh pihak kepolisian. Dari 14 pelaku, 12 diantaranya ditangkap dan dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Curup.
 
Kasus ini telah mendapat banyak perhatian di media sosial setelah sejumlah pengguna menginisiasi tagar Nyala Untuk Yuyun di Twitter. Menanggapi hal ini, Yana mengaku cukup bersyukur.
 
Tewasnya Yuyun, remaja berusia 14 tahun asal Bengkulu semakin menyentuh perhatian masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, Yuyun diperkosa lalu dibunuh oleh 14 ABG yang tengah mabuk. Dan hari ini, sebagai wujud solidaritas atas kasus kekerasan seksual yang menimpa Yuyun, sejumlah aktivis yang tergabung dalam gerakan Save Our Sister (SOS) akan menggelar aksi damai di Jakarta.
 
Aksi damai yang digelar di seberang Istana Merdeka pada pukul 16.00-18:00 WIB tersebut rencananya akan dihadiri oleh 200 orang yang berasal dari berbagai elemen. Tentunya jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat banyak orang yang sebelumnya juga telah melakukan aksi solidaritas untuk Yuyun melalui Twitter dengan tagar #NyalaUntukYuyun.
 
"Kita juga mengimbau kepada semua masyarakat, khususnya yang hadir saat aksi besok, untuk menyalakan klakson, sebagai bentuk tanda bahaya kekerasan terhadap perempuan," jelas anggota Komite Aksi Perempuan (KAP) Estu Fanani.
 
Estu menjelaskan bahwa klakson yang dibunyikan tersebut merupakan sebuah tanda yang dapat digunakan untuk membangkitkan kepekaan masyarakat terhadap kekerasan yang sering dialami oleh perempuan
 
Dalam kaitan ini, kita semua mengutuk kekejian atas Yuyun tersebut. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sudah mengutuk keras peristiwa ini dan menilainya sebagai peringatan keras bagi pemerintah supaya segera mensahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sudah masuk dalam Prolegnas 2016, karena aturan-aturan yang ada sudah tidak lagi bisa merespon isu kekerasan seksual secara komprehensif.
 
Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan seksual tahun 2016 naik menjadi peringkat kedua dengan jumlah kasus perkosaan mencapai 2.399 kasus atau 72 persen, pencabulan mencapai 601 kasus atau 18 persen, sementara kasus pelecehan seksual mencapai 166 kasus atau 5 persen.
Para aktivis perempuan mengaitkan maraknya kasus kekerasan seksual ini dengan kegagalan pranata sosial masyarakat.
 
Peneliti isu gender dan Islam, Lies Marcus menilai kasus Yuyun bukan sekedar syahwat kelamin melainkan "kutuk kejantanan" yang harus dipikul remaja laki-laki yang mengalami frustrasi yatim piatu sosial mereka.
 
Dalam akun Facebooknya, Lies menulis Orang tua dan dewasa memusuhi, peer pressure, kehendak menunjukkan kejantanan, semangat menalukkan, adu keberanian, solidaritas kelompok, kehendak untuk diterima dalam gang-nya dan kegembiraan yang membuncah di atas penderitaan orang lain. Tanpa pemahaman soal "kutuk kejantanan" atau maskulinitas itu, sungguh sulit meletakkan logika perkosaan remaja yang biadab tiada tara itu."
 
Lies juga mengecam kentalnya budaya patriarki sebagai penyebab terjadinya kekerasan seksual terhadap kaum perempuan.
 
Penyelesaian kasus Yuyun dengan menangkap dan mengadili ke-14 pelaku saja dinilai belum cukup. Masih ada kerja panjang untuk mengesahkan payung hukum yang lebih tegas dan sekaligus mengkampanyekan pendidikan seksual yang lebih komprehensif untuk mencegah kekerasan berbasis gender, sekaligus mengingatkan secara terus menerus potensi bahaya yang dialami perempuan dan anak perempuan.
 
Di atas semua itu, kita prihatin bahwa kerusakan sosial dan kumuh-busuknya peradaban di negeri ini sudah semakin parah dan menyedihkan. Bengkulu yang dikenal sebagai kawasan berperadaban Melayu, ternyata sudah kehilangan peradaban luhur itu dimana nilai-nilai moral dan sosial di kalangan remaja semakin sirna.
 
Nilai-nilai tentang kasih sayang, kesucian, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, telah terkikis digantikan dengan kekerasan dan kekejian. Masyarakat semakin tidak beradab, dan sudah seharusnya kita semua menyalakan lilin duka atas tragedi Yuyun, anak perempuan kita yang menjadi korban kebiadaban di Bengkulu, dimana tetes airmata sudah beku dan dukalara seakan membisu.[bbn/inilah/berbagai sumber]
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami