Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




WTS : Agak Susah Atur Pelanggan

Sanur

Minggu, 3 Februari 2008, 10:30 WITA Follow
Beritabali.com

image.google.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Korban meninggal akibat AIDS semakin bertambah di Bali. Salah satu biang kerok penularan HIV/AIDS ini adalah seks berganti pasangan atau dengan WTS. Berikut ini adalah pengalaman beberapa orang WTS di Sanur dalam melayani para pelanggannya.Penuturan pertama datang dari seorang WTS asal Jawa Timur, sebut saja Vivi. Dia beroperasi secara freelance alias tanpa germo di kawasan Sanur.

Di dunia prostitusi Sanur, Vivi cukup dikenal dan mempunyai banyak pelanggan. Untuk sekali kencan selama 3 jam, dia hanya memasang tarif Rp 200 ribu. Sementara untuk menginap dia pasang tarif Rp 400 sampai Rp 800 ribu tergantung kesepakatan dengan pelanggan.

Setelah menjadi WTS selama 2 tahun di Bali, Vivi sudah mempunyai banyak pelanggan. Di kalangan pelanggannya, Vivi dikenal ramah dan polos dengan pelayanan ranjang yang memuaskan.

 



“Saya tidak pernah memaksa pelanggan saya memakai kondom. Makanya banyak yang suka pakai saya, karena katanya lebih enak kalo nggak pakai kondom,” kata Vivi sambil tersenyum.Apa tidak takut tertular AIDS? “Saya pasrah aja, karena sudah resiko pekerjaan,” ucapnya singkat.

Seks bebas tanpa kondom juga disampaikan WTS lainnya, sebut saja Susi. WTS dengan tampang pas-pas an ini seringkali tidak laku alias sepi pelanggan. Oleh karena itu dia mengaku memasang strategi membebaskan pelanggannya mau pakai kondom atau ‘tarung bebas’ tanpa kondom.

“Susah mas ngatur pelanggan. Apalagi kalau lagi mabuk, pasti deh nggak pakai kondom. Tapi kalau saya sih bebas-beba aja, daripada sepi tamu” kata wanita asal Jember ini.Beda dengan Vivi dan Susi, seorang WTS lainnya sebut saja Ana, menerapkan kebijakan memakai kondom secara ketat. Jika ada tamu yang menolak memakai kondom, Ana langsung keluar dari kamar tempat kencan.

Mulai servis pemanasan, Ana mengaku sudah menerapkan aturan yang ketat. “ Saat oral seks, saya sudah mulai memakaikan kondom pada burung (penis) pelanggan. Saat mulai ngeseks, kondom tetap terpasang. Biar sama-sama aman mas,” kata wanita montok bertampang tante-tante asal Madura ini.

Selain berbeda soal aturan main terhadap pelanggan, ketiga WTS ini juga punya disiplin berbeda dalam memeriksakan kesehatn kelaminnya ke dokter, termasuk cek darah untuk periksa HIV/AIDS. Melihat kondisi ini, sudah saatnya Pemerintah Propinsi Bali bergerak cepat untuk mengatur prostitusi di Bali agar ke depan tidak menjadi bom waktu yang mengerikan. (bob)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/ctg



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami