Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Belasan Tahun Bantu ‘Ciptakan’ Cuaca Cerah

Minggu, 24 Februari 2008, 17:48 WITA Follow
Beritabali.com

image.google.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Di tengah arus globalisasi yang pesat, masyarakat Bali masih setia memegang tradisi tradisonal. Salah satunya adalah menggunakan jasa ‘tukang terang’, saat pelaksanaan upacara adat. Salah satu ‘tukang terang’ yang menekuni profesi ini selama belasan tahun, adalah Jero Mangku Nyoman Dana.

Hari Minggu siang (24/2), ‘tukang terang’ atau pawang hujan Jero Mangku Nyoman Dana (60) tampak sibuk dengan ritualnya, di rumah keluarga Nyoman Suwita, di Desa Pucaksari Buleleng.

Jero Mangku Nyoman Dana dimintai bantuan untuk ‘nerang’ atau memohonkan cuaca cerah kepada Tuhan, karena di rumah keluarga Nyoman Suwita sedang berlangsung ritual Ngaben atau prosesi pembakaran jenazah.

Dalam melakukan ritualnya, Jero Mangku Nyoman menggunakan sarana sesajen pejaten dan dupa. Selain dibakar di dalam areal pura keluarga Nyoaman Suwita, beberapa batang dupa juga ditancapkan di sekitar halaman rumah. “Dalam melakukan ritual ini, saya memohon keselamatan untuk dunia, keselamatan yang punya hajatan, dan mohon agar anggota keluarga yang meninggal diterima disisiNya. Bagaimana hasil permohonan ‘nerang’ nanti, semua saya serahkan sepenuhnya kepada yang di Atas.

 

Saya hanya memohon saja,” kata Jero mangku. Entah karena kebetulan atau memang karena doanya, selama prosesi Ngaben hari ini, cuaca di Desa Pucaksari yang biasanya sering hujan dan berkabut, menjadi cerah. Anggota keluarga dapat melaksankan upacara tanpa diganggu cuaca buruk.

Jero Mangku Nyoman Dana mulai menekuni profesi sebagai ‘tukang terang’ sejak belasan tahun silam. Dalam menjalankan tugasnya, ia tidak pernah mematok harga. Semua diserahkan kepada keikhlasan yang meminta bantuan.

Selain diminta bantuan untuk ‘menjaga’ cuaca agar tetap cerah pada upacara agama, Jero Mangku juga sering dimintai tolong oleh para petani yang akan menjemur kopi hasil panen. “Saya hanya menjalankan kewajiban saja sebagai manusia. Sudah sepantasnya kita hidup saling tolong antar sesama,” kata Jero Mangku.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/ctg



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami