Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
4 Korban Sudah Lemas Sebelum Terpanggang
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Misteri kematian ibu dan 3 anaknya terjawab. Sebelum terbakar hidup-hidup, ke-empat korban kebakaran di toko sepatu Gucci di jalan Diponegoro ini diperkirakan sudah lemas akibat menghirup gas karbon monoksida. "Kebakaran di toko sepatu Gucci 8 Mei lalu menimbulkan gas karbon monoksida atau CO. Gas ini kemudian dihirup ke-empat korban dalam kondisi tidur," jelas Kepala Labfor Mabes Polri Cabang Denpasar, Komisaris Besar Polisi Muhibin AK, di Poltabes Denpasar hari ini, Selasa (13/5). "Jadi waktu bangun tidur ke-empat korban sudah setengah sadar, sudah teracuni gas karbon monoksida. Mau lari ke kanan, malah lari ke kiri, dan akhirnya tewas terbakar," imbuh Muhibin.
Dalam pemeriksaan polisi, beberapa saksi mata juga sempat melihat korban Erni Yong mondar mandir di lantai 2 dan berusaha untuk keluar menyelamatkan diri. Namun usaha ibu 3 orang anak ini gagal karena terhalang terali besi yang ada di dalam rumah. Kebakaran di toko sepatu Gucci ini menewaskan 4 orang. Korban tewas antara lain Erni Yong (49), Catherine Ersan Liem (13), Jennys Surya Esalim (11) dan Juans Asher Erlininto (6). Sementara suami korban Hasan Rimba selamat dan hingga kini masih menderita depresi berat.
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3454 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1315 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 922 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 846 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 687 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun