Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
BLT = Suap Politik Pilpres 2009
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Bantuan Langsung Tunai (BLT), sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM, dinilai hanya sebagai suap politik menjelang pemilihan presiden 2009 mendatang. Oleh karena itu, bagi-bagi uang ini sebaiknya diganti dengan pembangunan infrastruktur di pedesaan yang lebih berguna bagi rakyat kecil, tanpa meninggalkan kesan hutang budi kepada SBY-JK.
Penolakan sistem Bantuan Langsung Tunai oleh pemerintah ini disampaikan ekonom Rizal Ramli di Renon, Denpasar, Minggu (18/5). Bantuan Langsung Tunai ini, kata Rizal, dinilai kurang tepat dan diduga sarat muatan politis menjelang pemilihan presiden 2009 mendatang. “Rencana pemerintah SBY-JK yang akan membagi-bagikan uang sebesar Rp14 trilyun tahun ini dan Rp 52 trilyun tahun depan, kami lihat sebagai bagian dari suap politik supaya (SBY-JK) terpilih kembali,” kata Rizal Ramli.
Bantuan langsung tunai ini, menurut mantan aktivis kampus ini, sebaiknya digunakan untuk pembangunan berbagai infrastruktur seperti sanitasi, irigasi tersier, sumber air minum, dan berbagai proyek infrastruktur lainnya. “Kalau uang ini dibikin proyek yang menciptakan lapangan kerja, rakyat kita bangga, tidak sebagai pengemis dan tidak hutang budi untuk memilih siapa pun,” tegas Rizal.
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2940 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2014 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun