Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 30 Oktober 2026
BLT = Suap Politik Pilpres 2009
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Bantuan Langsung Tunai (BLT), sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM, dinilai hanya sebagai suap politik menjelang pemilihan presiden 2009 mendatang. Oleh karena itu, bagi-bagi uang ini sebaiknya diganti dengan pembangunan infrastruktur di pedesaan yang lebih berguna bagi rakyat kecil, tanpa meninggalkan kesan hutang budi kepada SBY-JK.
Penolakan sistem Bantuan Langsung Tunai oleh pemerintah ini disampaikan ekonom Rizal Ramli di Renon, Denpasar, Minggu (18/5). Bantuan Langsung Tunai ini, kata Rizal, dinilai kurang tepat dan diduga sarat muatan politis menjelang pemilihan presiden 2009 mendatang. “Rencana pemerintah SBY-JK yang akan membagi-bagikan uang sebesar Rp14 trilyun tahun ini dan Rp 52 trilyun tahun depan, kami lihat sebagai bagian dari suap politik supaya (SBY-JK) terpilih kembali,” kata Rizal Ramli.
Bantuan langsung tunai ini, menurut mantan aktivis kampus ini, sebaiknya digunakan untuk pembangunan berbagai infrastruktur seperti sanitasi, irigasi tersier, sumber air minum, dan berbagai proyek infrastruktur lainnya. “Kalau uang ini dibikin proyek yang menciptakan lapangan kerja, rakyat kita bangga, tidak sebagai pengemis dan tidak hutang budi untuk memilih siapa pun,” tegas Rizal.
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6005 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4687 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2663 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2327 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2241 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan