Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 29 Oktober 2026
Jadi Teman Setia Saat Istri Sakit Keras
Ubud
Minggu, 15 Juni 2008,
17:59 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Berbicara soal keris di Bali dan upaya pelestariannya, tentu tak lepas dari seorang sosok Pande Wayan Sutedja Neka, pemilik Neka Museum, Sanggingan, Ubud. Bagi Sutedja Neka, keris merupakan bagian dari kehidupannya, teman setia dalam menjalani aktifitas sehari-hari.
Nama Pande Wayan Sutedja Neka sudah tak asing lagi di dunia seni dan budaya, baik itu di tingkat nasional maupun internasional. Kiprahnya membangun Museum Seni Lukis di Bali, sudah tak asing lagi hingga ke seluruh penjuru dunia.
Kendati sudah sukses dalam pelestarian budaya di bidang seni lukis, namun pria kelahiran 21 Juli 1939 ini tak pernah berhenti mengabdikan diri dalam pelestarian budaya. Selain karya lukis, museumnya kini juga dihiasi ratusan koleksi keris langka dan antik.
Museum berisi lukisan sekaligus ratusan keris sudah barang tentu menjadi suatu hal yang berbeda di dunia permuseuman Bali. Sebelumnya, belum ada museum di Bali yang secara khusus memberi ruang bagi upaya pelestarian keris.
Ada pelbagai alasan yang kerap dilontarkan Pande Wayan Sutedja Neka, kenapa dirinya tertarik mengoleksi keris. Salah satu alasan tersebut antara lain karena leluhurnya yakni Almarhum Pande Pan Nedeng, merupakan seorang empu keris semasa kerajaan Peliatan -" Ubud, di masa pemerintahan raja Ida I Dewa Agung Djelantik (1823-1845).
Alasan lainnya, karena keris sebagai warisan budaya leluhur, telah mendapatkan pengakuan dari badan PBB, UNESCO.
Selain dua alasan di atas, ada alasan lain yang dikemukakan pria kelahiran Peliatan, Ubud ini.
-uKeris bagi saya adalah teman setia sekaligus memberikan semangat hidup bagi diri saya dan juga istri saya, I Gusti Ayu Srimin,- keta Neka.
Neka menuturkan, beberapa tahun yang silam istrinya menderita sakit kanker. Hampir 1,5 tahun istrinya berbaring lemah di atas tempat tidur.
Selama istrinya sakit dan untuk mengisi waktu, Pande Sutedja Neka mengasah kemampuannya dengan belajar lebih banyak soal keris.
-uAkhirnya keris semakin dekat dengan diri saya. Saya seolah-"olah diberikan semangat hidup, dan keris itu menjadi teman saya ketika kesepian, -u jelasnya.
Untuk memperdalam ilmu soal keris, pria beranak empat ini juga belajar ilmu keris dengan pakar dan pejuang Keris Indonesia, Ir Haryono Haryoguritno (penulis buku keris jawa antara mistik dan nalar,red) dan KP Wiwoho Basuki Tjokroningrat.
Koleks Pande Suteja Neka yang dikumpulkan sejak tahun 1970-an, juga telah diseleksi oleh KRAT Sukoto Hadiu Nagoro sebagai empu dan pakarnya keris di Indonesia.
Kini jumlah keris yang telah dikoleksi mencapai 218 keris. Beberapa Keris antik dan langka yang dikoleksi museum Neka antara lain keris Pejenangan Puri Agung Karangasem Ki baju Rante, Keris Singa Barong luk 5 kerajaan Gianyar, serta keris Pedang Naga Raja luk 7 dari Kerajaan Buleleng.
-uSaya akan terus melakukan upaya pelestarian keris sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang kita. Saya ingin keberadaan keris terus lestari hingga anak cucu kita,- pungkasnya. (Art)
Nama Pande Wayan Sutedja Neka sudah tak asing lagi di dunia seni dan budaya, baik itu di tingkat nasional maupun internasional. Kiprahnya membangun Museum Seni Lukis di Bali, sudah tak asing lagi hingga ke seluruh penjuru dunia.
Kendati sudah sukses dalam pelestarian budaya di bidang seni lukis, namun pria kelahiran 21 Juli 1939 ini tak pernah berhenti mengabdikan diri dalam pelestarian budaya. Selain karya lukis, museumnya kini juga dihiasi ratusan koleksi keris langka dan antik.
Museum berisi lukisan sekaligus ratusan keris sudah barang tentu menjadi suatu hal yang berbeda di dunia permuseuman Bali. Sebelumnya, belum ada museum di Bali yang secara khusus memberi ruang bagi upaya pelestarian keris.
Ada pelbagai alasan yang kerap dilontarkan Pande Wayan Sutedja Neka, kenapa dirinya tertarik mengoleksi keris. Salah satu alasan tersebut antara lain karena leluhurnya yakni Almarhum Pande Pan Nedeng, merupakan seorang empu keris semasa kerajaan Peliatan -" Ubud, di masa pemerintahan raja Ida I Dewa Agung Djelantik (1823-1845).
Alasan lainnya, karena keris sebagai warisan budaya leluhur, telah mendapatkan pengakuan dari badan PBB, UNESCO.
Selain dua alasan di atas, ada alasan lain yang dikemukakan pria kelahiran Peliatan, Ubud ini.
-uKeris bagi saya adalah teman setia sekaligus memberikan semangat hidup bagi diri saya dan juga istri saya, I Gusti Ayu Srimin,- keta Neka.
Neka menuturkan, beberapa tahun yang silam istrinya menderita sakit kanker. Hampir 1,5 tahun istrinya berbaring lemah di atas tempat tidur.
Selama istrinya sakit dan untuk mengisi waktu, Pande Sutedja Neka mengasah kemampuannya dengan belajar lebih banyak soal keris.
-uAkhirnya keris semakin dekat dengan diri saya. Saya seolah-"olah diberikan semangat hidup, dan keris itu menjadi teman saya ketika kesepian, -u jelasnya.
Untuk memperdalam ilmu soal keris, pria beranak empat ini juga belajar ilmu keris dengan pakar dan pejuang Keris Indonesia, Ir Haryono Haryoguritno (penulis buku keris jawa antara mistik dan nalar,red) dan KP Wiwoho Basuki Tjokroningrat.
Koleks Pande Suteja Neka yang dikumpulkan sejak tahun 1970-an, juga telah diseleksi oleh KRAT Sukoto Hadiu Nagoro sebagai empu dan pakarnya keris di Indonesia.
Kini jumlah keris yang telah dikoleksi mencapai 218 keris. Beberapa Keris antik dan langka yang dikoleksi museum Neka antara lain keris Pejenangan Puri Agung Karangasem Ki baju Rante, Keris Singa Barong luk 5 kerajaan Gianyar, serta keris Pedang Naga Raja luk 7 dari Kerajaan Buleleng.
-uSaya akan terus melakukan upaya pelestarian keris sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang kita. Saya ingin keberadaan keris terus lestari hingga anak cucu kita,- pungkasnya. (Art)
Berita Gianyar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5948 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2643 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2288 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2226 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026