Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 6 Mei 2026
Jadi Teman Setia Saat Istri Sakit Keras
Ubud
Minggu, 15 Juni 2008,
17:59 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Berbicara soal keris di Bali dan upaya pelestariannya, tentu tak lepas dari seorang sosok Pande Wayan Sutedja Neka, pemilik Neka Museum, Sanggingan, Ubud. Bagi Sutedja Neka, keris merupakan bagian dari kehidupannya, teman setia dalam menjalani aktifitas sehari-hari.
Nama Pande Wayan Sutedja Neka sudah tak asing lagi di dunia seni dan budaya, baik itu di tingkat nasional maupun internasional. Kiprahnya membangun Museum Seni Lukis di Bali, sudah tak asing lagi hingga ke seluruh penjuru dunia.
Kendati sudah sukses dalam pelestarian budaya di bidang seni lukis, namun pria kelahiran 21 Juli 1939 ini tak pernah berhenti mengabdikan diri dalam pelestarian budaya. Selain karya lukis, museumnya kini juga dihiasi ratusan koleksi keris langka dan antik.
Museum berisi lukisan sekaligus ratusan keris sudah barang tentu menjadi suatu hal yang berbeda di dunia permuseuman Bali. Sebelumnya, belum ada museum di Bali yang secara khusus memberi ruang bagi upaya pelestarian keris.
Ada pelbagai alasan yang kerap dilontarkan Pande Wayan Sutedja Neka, kenapa dirinya tertarik mengoleksi keris. Salah satu alasan tersebut antara lain karena leluhurnya yakni Almarhum Pande Pan Nedeng, merupakan seorang empu keris semasa kerajaan Peliatan – Ubud, di masa pemerintahan raja Ida I Dewa Agung Djelantik (1823-1845).
Alasan lainnya, karena keris sebagai warisan budaya leluhur, telah mendapatkan pengakuan dari badan PBB, UNESCO.
Selain dua alasan di atas, ada alasan lain yang dikemukakan pria kelahiran Peliatan, Ubud ini.
“Keris bagi saya adalah teman setia sekaligus memberikan semangat hidup bagi diri saya dan juga istri saya, I Gusti Ayu Srimin,†keta Neka.
Neka menuturkan, beberapa tahun yang silam istrinya menderita sakit kanker. Hampir 1,5 tahun istrinya berbaring lemah di atas tempat tidur.
Selama istrinya sakit dan untuk mengisi waktu, Pande Sutedja Neka mengasah kemampuannya dengan belajar lebih banyak soal keris.
“Akhirnya keris semakin dekat dengan diri saya. Saya seolah–olah diberikan semangat hidup, dan keris itu menjadi teman saya ketika kesepian, “ jelasnya.
Untuk memperdalam ilmu soal keris, pria beranak empat ini juga belajar ilmu keris dengan pakar dan pejuang Keris Indonesia, Ir Haryono Haryoguritno (penulis buku keris jawa antara mistik dan nalar,red) dan KP Wiwoho Basuki Tjokroningrat.
Koleks Pande Suteja Neka yang dikumpulkan sejak tahun 1970-an, juga telah diseleksi oleh KRAT Sukoto Hadiu Nagoro sebagai empu dan pakarnya keris di Indonesia.
Kini jumlah keris yang telah dikoleksi mencapai 218 keris. Beberapa Keris antik dan langka yang dikoleksi museum Neka antara lain keris Pejenangan Puri Agung Karangasem Ki baju Rante, Keris Singa Barong luk 5 kerajaan Gianyar, serta keris Pedang Naga Raja luk 7 dari Kerajaan Buleleng.
“Saya akan terus melakukan upaya pelestarian keris sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang kita. Saya ingin keberadaan keris terus lestari hingga anak cucu kita,†pungkasnya. (Art)
Nama Pande Wayan Sutedja Neka sudah tak asing lagi di dunia seni dan budaya, baik itu di tingkat nasional maupun internasional. Kiprahnya membangun Museum Seni Lukis di Bali, sudah tak asing lagi hingga ke seluruh penjuru dunia.
Kendati sudah sukses dalam pelestarian budaya di bidang seni lukis, namun pria kelahiran 21 Juli 1939 ini tak pernah berhenti mengabdikan diri dalam pelestarian budaya. Selain karya lukis, museumnya kini juga dihiasi ratusan koleksi keris langka dan antik.
Museum berisi lukisan sekaligus ratusan keris sudah barang tentu menjadi suatu hal yang berbeda di dunia permuseuman Bali. Sebelumnya, belum ada museum di Bali yang secara khusus memberi ruang bagi upaya pelestarian keris.
Ada pelbagai alasan yang kerap dilontarkan Pande Wayan Sutedja Neka, kenapa dirinya tertarik mengoleksi keris. Salah satu alasan tersebut antara lain karena leluhurnya yakni Almarhum Pande Pan Nedeng, merupakan seorang empu keris semasa kerajaan Peliatan – Ubud, di masa pemerintahan raja Ida I Dewa Agung Djelantik (1823-1845).
Alasan lainnya, karena keris sebagai warisan budaya leluhur, telah mendapatkan pengakuan dari badan PBB, UNESCO.
Selain dua alasan di atas, ada alasan lain yang dikemukakan pria kelahiran Peliatan, Ubud ini.
“Keris bagi saya adalah teman setia sekaligus memberikan semangat hidup bagi diri saya dan juga istri saya, I Gusti Ayu Srimin,†keta Neka.
Neka menuturkan, beberapa tahun yang silam istrinya menderita sakit kanker. Hampir 1,5 tahun istrinya berbaring lemah di atas tempat tidur.
Selama istrinya sakit dan untuk mengisi waktu, Pande Sutedja Neka mengasah kemampuannya dengan belajar lebih banyak soal keris.
“Akhirnya keris semakin dekat dengan diri saya. Saya seolah–olah diberikan semangat hidup, dan keris itu menjadi teman saya ketika kesepian, “ jelasnya.
Untuk memperdalam ilmu soal keris, pria beranak empat ini juga belajar ilmu keris dengan pakar dan pejuang Keris Indonesia, Ir Haryono Haryoguritno (penulis buku keris jawa antara mistik dan nalar,red) dan KP Wiwoho Basuki Tjokroningrat.
Koleks Pande Suteja Neka yang dikumpulkan sejak tahun 1970-an, juga telah diseleksi oleh KRAT Sukoto Hadiu Nagoro sebagai empu dan pakarnya keris di Indonesia.
Kini jumlah keris yang telah dikoleksi mencapai 218 keris. Beberapa Keris antik dan langka yang dikoleksi museum Neka antara lain keris Pejenangan Puri Agung Karangasem Ki baju Rante, Keris Singa Barong luk 5 kerajaan Gianyar, serta keris Pedang Naga Raja luk 7 dari Kerajaan Buleleng.
“Saya akan terus melakukan upaya pelestarian keris sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang kita. Saya ingin keberadaan keris terus lestari hingga anak cucu kita,†pungkasnya. (Art)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 501 Kali
02
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 396 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 387 Kali
04
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026